PJ20 9
Kamis, 5 Jan '12 12:34
"If you dont stand for something, you'll fall through anything." - Eddie Vedder
Mereka yang dilahirkan setelah Justin Bieber memiliki kesempatan yang sangat kecil untuk mengenal grup ini. Muncul di antara hair-rock, weird techno, awal "punk ala MTV" dan hip-metal, Pearl Jam memiliki banyak selling point dan diferensiator dari rekan seangkatannya. Semua pembeda itu terdokumentasi dengan jelas, dan berhasil dirangkum Cameron Crowe dari footage total 1.200 jam menjadi 120 menit yang padat dan penuh pencitraan yang (mungkin) hanya bisa dirasakan oleh die-hard fans Pearl Jam.
Film ini memperlihatkan bagaimana Pearl Jam, yang yang diawali dan dijalani sebagai media berekspresi dari sekumpulan pemuda yang jarang keluar rumah, menjadi sebuah kesatuan yang kompleks dan memiliki banyak misi. Introverted poster boy singer yang tiba-tiba bermata nyalang dan memanjat rigging panggung untuk kemudian melompat dengan Jesus Christ Pose, hostile takeover kendali grup, perseteruan mereka dengan TicketMaster, sumpah serapah untuk MTV dan celetukan nyinyir untuk Grammy, emotional breakdown sebagai imbas dari popularitas & the "grunge boom" sebagai fashion item, hubungan dengan Kurt Cobain dan Soundgraden yang menjadi perhatian media, hingga konser amal sosial-politikal mereka. Semua disajikan dengan aman, minus kontroversi dan tidak menimbulkan pertanyaan tambahan.
"We tried to present an emotional scrapbook of what it felt like to be a band member on this 20-year journey." - Cameron Crowe
Crowe, yang sukses membuat Original SoundTrack masterpiece di film Vanilla Sky, sebenarnya telah menjadi bagian dari komersialisasi scene musik ini di masa kejayaannya. Crowe membuat sebuah homage untuk the so-called Seattle Sound music lewat film "Singles" di tahun 1992, dengan menampilkan Pearl Jam dan Chris Cornell sebagai figuran, juga segambreng lagu-lagu hebat dari tokoh-tokoh kunci masa itu di album soundtrack-nya. Pearl Jam juga merilis single "Breath" dan "State of Love and Trust" di album tersebut, dan kembali menarik perhatian banyak pihak, terutama media massa.
PJ20 yang tayang di Jakarta bulan September 2011 lalu ini adalah kado ulang tahun dari Pearl Jam, untuk fans mereka. Entah ulang tahun grup atau album TEN yang dirilis tahun 1991 silam. Kisah yang dirilis pula dalam bentuk buku autobiografi ini, seperti juga filmnya, disupervisi oleh Pearl Jam secara langsung. Memegang kendali penuh untuk musik, arah, dan image yang diinginkan, Pearl Jam adalah salah satu grup paling memegang etos DIY di industri arus utama. Setidaknya itulah yang ingin ditekankan di PJ20.
On the personal note, saya rasa PJ20 terlalu "tertata" dalam konotasi negatif, tapi setidaknya film ini bisa membuat saya terhibur dan kangen-kangenan dengan lagu-lagu lama. Menjual nostalgia dan sejarah, tapi sepertinya terlalu cepat disunat dan akan tetap sulit dinikmati oleh yang mengenal Pearl Jam lewat "Last Kiss". Dengan mengesampingkan hawa jelek dari review di atas, sisi bagus dari film ini adalah bisa memperkenalkan sebuah grup anti Bush, anti tiket konser mahal, dan selalu membuat list repertoir mereka 10 menit sebelum naik panggung agar pecinta single bisa melambai bye-bye atau menunggu dan menyesal tidak mendengarkan seluruh isi album. Pearl Jam is, without a doubt, sebuah grup yang edukatif, konsisten, eksperimental, sadar lingkungan dan peka dengan perubahan. Hopefully Crowe's team able to get the words outside the fan circle.
So enjoy the trailer with my all time favorite Pearl Jam's tune in the background, and be sure that Pearl Jam is, in fact, still alive.
Tag: dokumenter, grunge, pearl jam, twenty, pj20, autobiografi, cameron crowe
Terkait:
-
Babies, Menggemaskan!
Senin, 22 Nov '10 11:55 -
SAYA MERASA DIHARGAI
Senin, 22 Nov '10 09:49 -
Banksy Film: Exit Through The Gift Shop
Kamis, 28 Okt '10 16:12
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maharrani: nggak ada matinya


Komentar:
Pearl Jam itu kaya kemeja flannel, bikin hangat, nyaman dan nggak mau lepas
yah emang sih ini film buat fans, terutama orang-orang sejaman you yg mulai abg dengerin lagu rock seattle gitu, jadi susah pastinya ikutin alur plus cerita film yg intim
btw nice artikel bang
Silahkan login untuk memberikan pendapat