Laporan Menonton SANGKALA 9/10 (Part 2) 5
Kamis, 12 Mei '11 14:13
Saya menonton pertunjukan ini pada hari Kamis, 5 Mei 2011. Kini, setelah menunggu rilis pers yang tak kunjung dikirimkan ke e-mail saya, akhirnya terpaksa terbang solo dengan mengandalkan ingatan yang tidak terlalu bisa diandalkan ini.
Judul "Sangkala 9/10" merujuk pada peristiwa bersejarah di sebuah senja tanggal 9 bulan 10 tahun 1740, di mana terjadi pembantaian etnis Tionghoa oleh VOC. Dengan latar belakang kejadian tersebut, lakon ini mengetengahkan seorang pemuda Betawi, Said, yang terlibat asmara dengan seorang gadis etnis Tionghoa, Lily.
Lakon dibuka oleh visualisasi yang mirip dengan poster pertunjukan. Sebuah perahu kecil melintas perlahan di panggung, disinari oleh matahari senja yang perlahan terbenam. Lalu adegan berganti menjadi sebuah perkampungan Tionghoa, yang warganya sedang berlatih silat menggunakan toya (tongkat kayu). Musik pemompa semangat mengalun, lalu dialog antar tokoh pun dimulai.
Beberapa kelucuan sangat menyegarkan suasana, tapi yang disayangkan adalah para pemain tidak bisa lebih sigap mengalirkan adegan. Saya sendiri merasa beberapa adegan terlalu bertele-tele, bukan karena naskah, tapi karena kesigapan pemain dalam bertukar dialog tidak tergarap, ini juga membuat irama pementasan menjadi lambat.
Irama lambat ini tidak ditolong pula oleh pergantian set yang memakan waktu cukup lama. Problem yang sama terjadi di "Musikal Laskar Pelangi" tapi ditolong oleh musik Erwin Gutawa, sehingga panggung gelap selama beberapa puluh detik pergantian set nyaris tidak menjadi masalah. Dalam lakon "Sangkala 9/10", musik pengisi malah menambah monotonitas.
Seperti yang saya nyatakan di laporan sebelumnya, latar panggung yang memakai proyektor sangat sedap dipandang mata. Matahari terbenam, bulan purnama serta padang rumput yang terpampang di layar belakang merupakan pelengkap manis bagi set riil di depannya. Penggunaan kambing dan ayam sungguhan di dalam kandang juga menjadi nilai plus.
Adegan pembantaian yang menggabungkan gambar Bayang Pasir dan proyektor di layar depan juga memunculkan decak kagum. Tapi, pencahayaan minim pada saat dialog para karakter hanya membuat saya bisa melihat siluet merah biru dan suara saja.
Permainan para aktor sebetulnya kurang tergarap, karena improvisasi yang tidak diarahkan sehingga terkesan bertele-tele. Editing yang lebih tegas seharusnya diterapkan oleh sutradara terhadap para pemain. Meskipun begitu, para pemeran utama tergolong cukup simpatik dan tetap membuat saya tertarik untuk memperhatikan.
Akhir kata, saya lebih penasaran pada kisah romantis Said dan Lily yang akhirnya hanya menjadi tempelan untuk mengisi waktu sebelum lakon mencapai klimaksnya pada adegan pembantaian.
Akhir kata, seharusnya, para kreator lakon ini tidak usah mengikuti tren dengan menyebut-nyebut pentas ini sebagai sandiwara musikal ketika pada kenyataannya lagu dan tarian dalam lakon ini tidak memegang peran yang vital. Saya mengerti ini keputusan yang memakai pertimbangan pasar, tapi saya menyayangkan hal tersebut.
Akhir kata, besar harapan saya melihat lakon ini, karena menyadari bahwa bakat-bakat yang terlibat dalam produksi ini jelas punya potensi untuk menghasilkan karya yang lebih bagus lagi.
Akhir kata, gambar diambil dari sini.
Tag: budaya, teater, musikal, kesenian, betawi, lenong
Terkait:
-
Laporan Menonton SANGKALA 9/10 (Part 1)
Jumat, 6 Mei '11 14:03 -
Musikal Laskar Pelangi yang Super Menghibur!
Senin, 11 Jul '11 14:37 -
Menunggu ONROP! Musikal
Senin, 10 Mei '10 11:35


Komentar:
Tapi, apakah karena juga aku lebih sering nonton pertunjukan Teater Koma sehingga lakon ini agak.. kebanting..? Meski demikian, ttp salut dengan Maudy & semua kru yang mau mementaskan lakon yang bikin orang makin ngerti dengan sejarah Jakarta.
Waktu latihan 6 bulan seharusnya lebih dari cukup, Teater Koma aja 4 bulan waktu SIE JIN KWIE pertama. Tapi ada juga teater yang prosesnya 1 tahun lebih. Yang masalah memang penggarapan detil aktingnya, bukan akting mereka secara overall sih. Jadi, lebih pada tugas sutradara
Pokoknya, gue yakin nih IANTA bakal lebih oke lagi lah.
Moga2 ke depannya lebih oke yes..
Coba menurut Rangamaru: gimana sebagai pemain teater yang piawai? Tsah!
Silahkan login untuk memberikan pendapat