Dua yang Memulai Dunia 4

Jumat, 8 Apr '11 15:03

Sepanjang pengalaman pendek menonton film, saya tak pernah merasa begitu dihantui oleh adegan pembuka seperti ketika menekuri "Raging Bull" dan "Antichrist", dua karya yang terpaut nyaris dua dekade bikinan dua sutradara termasyhur beda generasi, Martin Scorsese dan Lars von Trier. Jika nama pertama begitu keukeuh mengajukan tema-tema tentang identitas Italia-Amerika dan kekerasan, yang kedua tak pernah abai menjadikan gambar-gambarnya sebagai tamsil yang berpusat pada keperempuanan. #sokpakar


"Raging Bull" dimainkan oleh Robert "Bobby" de Niro sebagai pemeran utama. Ia menerjemahkan karakter mantan petinju Jake LaMotta dengan brilian - pun rela makan es krim sejadi-jadinya hingga berat badannya melonjak puluhan kilogram, demi peran.

Sementara "Antichrist" memberi tempat bagi si mata elang Willem Dafoe, dan Charlotte Lucy Gainsbourg yang senantiasa terkesan rapuh. 


Film Scorsese itu telaten bercerita tentang karut-marut kehidupan personal dan profesional petarung LaMotta. Sementara "Antichrist" secara murung mengilustrasikan teror mental yang dialami sepasang suami-istri pasca kematian anak mereka. 


Pikiran spontan yang muncul ketika melihat bagian-awal kedua film itu: kok bisa ya gambar begitu puitis? 


Title sequence, maafkan hamba belum mampu mendapatkan padanan frasa itu dalam bahasa Indonesia, "Raging Bull" menempelkan arena tinju sebagai panggung. Sang petinju meloncat-loncat kecil di salah satu sudut, sendirian, sambil melatih pukulannya ke udara gelanggang. Sesekali, lampu dari kamera foto mengerjap-ngerjap, seperti cahaya dari menara suar yang berupaya menembus badai. Di sisi lain, kerlip foto blitz dari bangku penonton itu seolah menandai pergerakan Cavalleria Rusticana - Intermezzo Sinfonico, gubahan Pietro Mascagni. 


Suasana yang dibawakan oleh potongan lagu itu memang tidak menyiratkan kejayaan. Mudah-mudahan saya tak salah baca, tapi memang bebunyian nada-minor dari violin itu mengisyaratkan akan kekalahan tak terelakkan. Lihatlah sosok petinju yang sendirian di sana, dan ketukan-ketukan kecil dari piano: ia seperti mempertegas kesunyian, seperti kata Chairil Anwar, yang turun bersama nasib. 


Sementara itu, "Antichrist" menyuguhkan hal yang lebih getir. Tengoklah gambar itu. Lelaki dan perempuan, dalam gerak lambat yang menyorot detil peristiwa, bersetubuh dalam diam. Tiada lenguhan, hanya aria "Lascia ch'io pianga" yang dibawakan oleh Tuva Semmingsen dan Barokksolistene yang menerjemahkan kegairahan mereka yang meledak-ledak. 


Lantas, kamera bergerak ke ruang lain, menumbuk bocah riang dalam buaian. Sesekali, kamera mencuri pemandangan di luar, yang serba putih: angin musim dingin leluasa menggigilkan gordin pada jendela. Sang anak, sejurus kemudian, telah lepas dari kungkungan buaian, menaiki meja ke arah daun jendela, sambil menenteng boneka.

Lantas, batin kita dikoyak dengan adegan berikutnya: salju yang berdarah, dan pasangan orgasme. Di antara mereka, gelas pecah.


Saya yakin ketika melihat adegan pembuka ini, banyak dari kita yang mampu mencerna babak selanjutnya yang pasangan itu akan alami: rasa bersalah, depresi, trauma berkepanjangan. Sebab, gambar-gambar serta teknik penyajiannya betul-betul sanggup mewakili konflik yang mesti mereka hadapi hingga akhir film. 


Yang menarik, secara kebetulan adegan pembuka kedua film itu disajikan hitam-putih, dalam gerak lambat, dan diiringi musik brilian. Saya ambilkan salah satu potongannya ya, baris-baris "Lascia chi'o pianga": Let me weep/my cruel fate/and let me sigh for liberty/May sorrow break these chains/Of my sufferings, for pity's sake. 


Tag: Film, De Niro, Scorsese, opening, von trier, defoe

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Titiw 0 0
Sadiiiis bangeet ini riviuu.. ceka ceka ceka.. KEREN BON! : )
bonmw 0 0
Titiw : Trims ya. Sayang potongan dari Youtube tentang "Antichrist" yang menampilkan gambar aslinya disensor : )
maharrani 0 0
Merinding dengernya.. dua-duanya dahsyat ya bon..
bonmw 0 0
maharrani: Ya. Musik terasa wajar dan pas. Terkesan tidak hanya berfungsi sebagai tempelan belaka.

Silahkan login untuk memberikan pendapat