Musikal The Lion King, Singapura 3
Senin, 4 Apr '11 13:41
(Artikel ini juga diterbitkan di blog Herman Saksono)
Hentakan nyanyian Afrika mengawali musikal The Lion King. Matahari terbit dari ufuknya. Diiringi "Circle of Life"; jerapah, leopard, antelop muncul satu per satu; dan disusul hingga yang terbesar, badak dan gajah. Ini bukan Lion King versi animasi, bukan juga pengejawantahan animasinya. Ini adalah the Lion King yang diterjemahkan ulang dalam medium teater.
Alur ceritanya masih sama. Tentang Simba, anak singa yang kelak mewarisi tahta ayahnya, Mufasa. Juga tentang Scar, sang paman yang bersekongkol dengan gerombolan hyena untuk membunuh Mufasa demi merebut tahta. Masih juga tentang tanggung jawab, dan juga kisah cinta Simba dengan Nala.
Musikal arahan Julie Taymor ini bertahan sepuluh tahun lebih di Broadway karena kemerdekaannya memaknai ulang satwa, serengeti, dan Afrika. Taymor memindahkan luasnya serengeti ke dalam panggung teater (yang tidak begitu luas) cukup dengan menangkap esensinya. Esensi seekor gajah Afrika ditampilkan seperti boneka kerajinan tangan suku Afrika dalam ukuran gajah. Demikian juga para singa, mereka bukan manusia dalam kostum bintang. Topeng singa yang ditaruh di atas kepala pemain sudah cukup menjelaskan esensi bahwa si aktor membawakan karakter Mufasa.
Dan kesederhanaan ini dikemas dengan detail yang remit, mendetail, dan cantik. Taymor, selain menjadi sutradara, juga merangkap sebagai desainer kostum dan boneka. Ia pernah tinggal di Jogja selama satu tahun, kemudian terbius oleh wayang Jawa yang begitu kuat, bertenaga, dan teatrikal. Julie yang semestinya menyelesaikan observasinya di Indonesia selama setahun, akhirnya pulang ke Amerika empat tahun kemudian. Di Indonesia, Taymor sempat berguru dengan Rendra, dan memperluas wawasannya sampai ke Bali.
Dalam video dokumentasi musikal ini, Taymor mengakui bahwa hiasan bahu Mufasa terinspirasi Bali, sementara kain sarung terpengaruh oleh gaya Jawa. Selama pertunjukan musikal Lion King, inspirasi Indonesia keluar di sana sini, termasuk dalam bentuk wayang kulit.
Reinterpretasi ini masih menampilkan lagu-lagu Elton John dengan lirik gubahan Tim Rice. Warna Afrika juga tidak lepas dari instrumen dan nyanyian garapan Lebo M., yang juga menggarap musik untuk filmnya. Bahkan overture yang biasanya diisi dengan musik orkestra, kini diganti dengan ko0r lagu masyarakat Afrika yang harmoninya sempurna.
Pertunjukan mencapai puncaknya pada "Circle of Life" yang kini dinyanyikan oleh Rafiki, dan "Can You Feel the Love Tonight". Sejumlah lagu diciptakan khusus untuk musikal, tapi yang terbaik adalah "He Lives In You". Lagu yang dinyanyikan oleh Mufasa (dan pada babak 2 oleh Rafiki) adalah titik emosi terkuat dalam The Lion King.
Saya telah menonton film Lion King berulang kali sejak SMP, sehingga sudah hafal kapan emosi harus naik dan kapan harus turun. Dan dalam hal ini, emosi Lion King produksi Singapura terasa berbeda jika tidak mau dibilang lemah. Walaupun pertunjukan ini menghadirkan seniman dari London, Kanada, Afrika Selatan, New Zealand—tetapi kualitas teatrikalnya tidak merata.
Mufasa yang diperankan Jean-Luc Guizzone seperti tidak bisa membawakan wibawa seorang raja. Sementara Simba muda, diperankan oleh aktor cilik Filipina, cuma seperti anak kecil yang disuruh gerak-gerak dan mondar-mandir. Adegan setelah stampede yang semestinya adalah titik terendah bagi emosi penonton, berakhir menjadi datar tanpa emosi. Babak pertama nyaris kacau jika tidak diselamatkan oleh Simba dewasa pada akhir Hakuna Matata. Jonathan Andrew Hume yang berasal dari produksi Lion King Inggris, memegang kendali di babak 2, hingga akhirnya musikal Disney itu tamat dengan baik.
Ini adalah event yang sayang untuk dilewatkan. Musikal the Lion King sangat populer di bilangan Broadway, New York—tempat pertunjukan perdananya tahun 1998. Rasanya sayang membiarkan pertunjukan kelas dunia ini lewat begitu saja. Terlepas dari kekurangan aktornya, Anda masih bisa menikmati kualitas vokal pemainnya, set yang mutakhir, dan seni panggung yang luar biasa.
______
Musikal Disney's The Lion King pentas di Marina Bay Sands, Singapura selama Maret - Mei 2011. Harga tiket bervariasi, tapi saya menyarankan tiket harga menengah (kelas C, Rp 900rb) yang sedekat mungkin dengan panggung. Tiket bisa dibeli online.
Tag: review, lion king singapura, teater musikal, broadway musical, marina bay sands, casino
Terkait:
-
Musikal Wicked
Jumat, 27 Jan '12 12:48 -
Review Novel Now and Then
Jumat, 27 Apr '12 16:08 -
BATTLESHIP: Manusia Versus Alien Di Laut
Kamis, 12 Apr '12 00:51
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maharrani: yoi banget
-
sofie: jadi penasaran
-
Titiw : keren
-
to Ra nt: yoi banget
-
AndriaGutama: jadi penasaran




Komentar:
Jadi pengen nonton, tapi susah cari waktunya.
Untung review-mu cukup menggambarkan suasana di Marina Bay Sands
Silahkan login untuk memberikan pendapat