(COPAS) Musik 5
Rabu, 9 Mar '11 09:59
Sedari kecil kita sudah terbiasa dengan musik. Ketika masih dalam kandungan,orangtua sudah memperdengarkan musik kepada anaknya. Biasanya musik klasik, seperti Mozart atau Beethoven. Ketika sudah lahir, ibu selalu mengungkapkan cintanya dengan lagu. Misalnya menyanyikan "Nina Bobo" ketika mau tidur, melantunkan "Pok Ame-ame" untuk menghibur buah hatinya. Begitu terus selama bertahun-tahun, sehingga musik menjadi kebutuhan yang sangat mendasar karena berkaitan dengan ekspresi.
Musik juga merupakan bagian dari identitas diri bahkan suatu bangsa. Tentu kita ingat bagaimana mencak-mencaknya warga Indonesia ketika lagu Rasa Sayange diklaim sebagai lagu Malaysia. Atau bangganya ketika penyanyi seperti Ruth Sahayana, Anggun, atau Agnes yang terkenal di negara lain.
Begitu banyak yang mengagumi musisi. Lihat saja setiap konser, atau acara musik di televise pasti penontonnya banyak. Para musisi di atas panggung itu terlihat sangat gemerlap, dipuja, dicinta, dan dielukan. Tidak terhitung lagi banyaknya rupiah yang mengalir ke rekening mereka.
Keglamouran itu sangat menyilaukan. Tidak heran sangat banyak anak muda yang bermimpi berada di atas panggung itu. Ribuan orang rela antre mengikuti audisi menjadi artis dadakan itu.
Tapi ketika lampu panggung padam, barulah mereka tahu bahwa semua itu adalah semu. Mereka ternyata telah menjadi korban sebuah kata yang bernama industri.
Atas nama pasar, musik menjadi seragam. Ketika zamannya musik melayu, grup rock seperti D'Bagindas pun harus rela mengubah musiknya. Mereka yang dulu gahar, harus ikhlas mengeja kata cinta di atas panggung.
Belum lagi pembajakan yang membuat industri rekaman hancur lebur. Terkadang lagu yang belum resmi dirilis sudah bisa didownload, gratis pula. Tidak mau lebih terpuruk, kini musisi lebih memilih menjual lagunya dengan cara diecer. Keluarkan single, kalau laku baru buat album. Berkongsi dengan operator seluler untuk menjual RBT. Apa saja dilakukan untuk menyelamatkan bisnis musik.
Bisnis RBT memang menggiurkan. Dengan uang kurang dari Rp10 ribu, sudah bisa mengunduh lagu yang disuka. Band seperti Wali, atau penyanyi Mbah Surip (alm) adalah sedikit contoh musisi yang lagunya diunduh hingga jutaan kali.
Terus apa untungnya bagi musisi? Ternyata tidak besar. Oke mereka mendapatkan royalti dari karya mereka. Tapi biasanya besaran royalty untuk artis berkisar 1%-10%. Tergantung negosiasi artis dengan perusahaan. Pencipta lagu biasanya hanya mendapat sekitar 5%. Lalu siapa yang mendapatkan persentase terbanyak? Jawabannya adalah perusahaan rekaman. Perusahaan bisa mengantongi 10%-15%.
Dengan kondisi seperti itu tidak heran, banyak musisi yang menderita di kala usia senja. Sebut saja Pance Pondaag, siapa sih yang tidak kenal namanya. Di tahun 80-an, nama besarnya merupakan jaminan laku atau tidaknya sebuah kaset. Tidak terhitung lagi artis yang telah diorbitkannya. Tapi masa tuanya sangat memprihatinkan.
Laila Sari yang di masa tuanya tinggal di rumah kecil di gang yang sempit. Untuk menyambung hidup dia masih bernyanyi hingga saat ini. Itu adalah contoh artis yang terkenal secara nasional. Bagaimana dengan artis lokal? Ternyata lebih mengerikan. Bagi orang minang, pasti kenal dengan Zalmon. Penyanyi legendaris yang sangat popular pada tahun 90-an itu kini terbaring sakit. Ketiadaan biaya membuatnya harus dirawat seadanya. Padahal Zalmon merupakan salah satu orang yang membangkitkan industri rekaman lagu minang di daerahnya. Bahkan dia pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah karena prestasinya.
9 Maret yang juga diperingati sebagai hari musik nasional, seharusnya dapat menjadi awal perbaikan dunia musik di Indonesia. Terlebih tanggal ini dipilih bukan sembarangan. Karena 9 Maret juga merupakan hari lahir W.R Supratman. Pencipta lagu nasional "Indonesia Raya". Apalagi di DPR cukup banyak yang berasal dari kalangan artis. Tentunya mereka sangat paham dengan kondisi ini. Dan untuk paham tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk studi banding. Cukup lihat banyaknya toko kaset yang gulung tikar, ramainya penjual kacet/CD bajakan, dan sedikit meluangkan waktu mengunjungi musisi yang sedang sakit. Semua itu ada di depan mata.
sumber gambar : http://www.pasarkreasi.com/talk/detail/music/53/
Tag: DPR, hari musik, nasional
Terkait:
-
Kuota Film Nasional 60%
Rabu, 9 Sep '09 14:59 -
RUU Perfilman Itu
Selasa, 8 Sep '09 00:00


Komentar:
btw, memang banyak yang terjerembab dengan simbol glamor panggung hiburan sih tanpa tau proses yang sebenarnya terjadi
memang banyak yang jadi korban. terlalu silau dengan panggung.
Titiw : 1-10 Tiiiiw
Silahkan login untuk memberikan pendapat