Dan Irfan pun Menangis 9
Senin, 3 Jan '11 20:30
Indonesia kalah dan Irfan pun menangis.
Saya malah tertawa.
Saya suka melihat dia menangis. Karena habis tangis itu, dia pasti merasakan kelegaan yang luar biasa, kesesakan yang punah, dan menerima rasa kalah...
Menerima rasa kalah? Ya. Irfan dan Firman Utina, serta Gonzales dan lainnya, harus belajar menerima kekalahan. Karena itulah yang selama ini mereka lupakan, setelah dalam beberapa permainan sebelumnya, selalu menang, dan diletakkan media, serta pengurus PSSI, duduk di singgasana awan. Puja-puji membuat mereka alpa, bahwa ketika terantuk batulah kita akan berjalan lebih waspada.
Batu itu bernama Malaysia.
Masalahnya, ketika bernama Malaysia, kita dan juga Timnas, tak mau menamakan mereka sebagai batu, tak menerima rasa kalah itu. Pemain malah mencoba lupa. Dan menganggap pertandingan itu tak ada.
Alfred Riedl salah ketika tak mau membahas kekalahan menyakitkan itu. Sehabis kalah dari Malaysia, dia menempuh cara yang tak biasa, tidak menganalisa pertandingan itu. ''Tak ada yang perlu dianalisa,'' katanya. Dia memilih untuk mengistrahatkan para pemain, dan melupakan kekalahan itu.
Tapi bagaimana bisa lupa? Apalagi menyangkut Malaysia, negara tetangga yang sudah terlalu banyak ''menyakiti'' Indonesia. Kekalahan itu menjadi kian pedih karena kali ini Malaysia menyakiti Indonesia secara legal, di panggung regional. Kemenangan mereka kali ini bukan sekadar kliam, pengakuan sepihak, sebagaimana yang acap mereka lakukan untuk seni-budaya kita.
Jadi, melupakan adalah langkah yang salah. Tim seharusnya menerima kekalahan itu, dan tetap menganalisa pertandingan. Karena hanya dengan menerima, dan ingat, kita tak tersandung batu dua kali.
Tapi kita melupakan, dan akibatnya bisa diduga, kita tak bisa membalikkan keadaan. Pelupaan itu membuat Timnas tidak merasa ada yang salah dalam pertandingan pertama. Maman yang membuang waktu dengan menahan-nahan bola di sisi kiri lapangan, dan berakibat gol pertama dari Malaysia, tak merasa bersalah apalagi berdosa. Tak ada yang ingin membahas kecerobohannya itu. Dan akibatnya, Mamam lupa, dan dia melakukan kesalahan yang serupa, dan berakibat sama, gol pertama Malaysia di GBK.
Dan saya kembali tertawa. Gol pertama Malaysia itu saya sukai, karena setelah itulah, saya melihat permainan baru dimulai.
Satu gol itu membuat Indonesia tersadar, mereka harus ''bermain'', bermain saja, tanpa harus lagi memikirkan hasilnya. Dan kemudian terjadilah gol-gol itu, yang datang dari permainan yang membaik, kelenturan tubuh dan kerjasama yang tertata apik.
Ketika ketinggalan satu gol itu, Timnas mulai menerima kalau mereka akan kalah. Dan karena itu, niat mereka pun berubah, tak lagi mengejar kemenangan, tapi bermain sebaik mungkin, semenarik mungkin: menyuguhkan tontotan.
Setelah menerima kekalahan, Timnas kembali sadar, bahwa bola adalah permainan. Dan syarat sebuah permainan itu sederhana, amat sederhana, keriangan. Dalam keriangan itulah kreativitas akan muncul, mengalir, tanpa kendat, tanpa sendat.
Tapi keriangan itu yang tak ada. Begitu permainan dimulai, bahkan sejak lagu ''Indonesia Raya'' dinyanyikan, wajah semua pemain tegang. Mereka bukan seperti akan masuk ke lapangan untuk bermain, tapi seperti akan menghadapi penjagalan.
Tertekan. Stres. Dan harus menang.
Ketakriangan itu, ketiadaan tawa dan gelak di lapangan, membuat seluruh tubuh pemain jadi kaku. Semua jadi tak terencana dan serba terburu. Pikiran dan tubuh tak sejalan. Darah berdesir terlalu kencang. Dan akibatnya dapat diduga, bahkan ketika penalti pun, Firman Utina tak tahu cara menendang bola. Saat di depan gawang, Arif bahkan menyundul bola rendah, daripada menendang. Bahkan ketika gawang kosong, pemain berebut untuk memasukkan bola. Semua ingin menang, ingin menjadi pahlawan, ingin tampil sebagai ''penyelamat harga diri bangsa''. Kasihan.
Di lapangan, saya melihat 11 orang yang berlarian sambil di pundaknya membawa nama baik bangsa. Betapa beratnya. Dan karenanya, saya tak bisa tertawa. Media, politikus yang seperti tikus mengerat kerja keras mereka, telah menjadikan Timnas sebagai sandera. Dan ketika kalah dalam pertemuan pertama, semua sepakat untuk menciptakan keajaiban. Istighosah dan doa diminta. Alangkah lucunya.
Keajaiban seharusnya disadari hanya akan terjadi di dalam lapangan, bukan di luar. Karena itu, yang utama seharusnya adalah mengingat kekalahan, dan meriangkan permainan. Bermain saja, tertawa, segembiranya, sekerasnya, secantiknya. Tak usah memikirkan gol: karena itu akan datang dengan sendirinya. Tak usah memikirkan kemenangan apalagi keajaiban, karena itu adalah hasil dari keriangan, kegembiraan.
Sepakbola adalah kegembiraan, adalah permainan, adalah ruapan sukakita rakyat. Di situlah intinya. Ketika pejabat dan politikus mengambil alih kegembiraan itu, permainan pun kehilangan esensinya sebagai pertunjukan kegembiraan, berubah jadi seremonial belaka: seperti tendangan pertama para pejabat, ketika membuka sebuah kejuaraan.
Itulah sebabnya saya suka Indonesia kalah, dan Irfan menangis. Karena selepas itu, mereka jadi tahu bahwa tugas mereka adalah bermain, tertawa, dan riang saja.
Arena dan persoalan, juga ''politik'' mereka adalah di dalam lapangan bersama bola. Di luar itu, mereka harus alpa. Harus lupa...
Tag: entahlah, irfan bachdim, pssi, octo, christian gonzales, timnas, riedl
Terkait:
-
Celebrity Smash!
Senin, 6 Jun '11 18:46 -
Syahrini dan Cobaan Itu
Kamis, 26 Mei '11 13:21 -
Anang dan Kemenangan Ingatan
Kamis, 12 Mei '11 17:26
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maharrani: nggak ada matinya
-
Black.Rose: nggak ada matinya
-
sofie: nggak ada matinya
-
sandi: nggak ada matinya
-
Titiw : keren
-
fairyteeth: nggak ada matinya


Komentar:
saya melihat permainan timnas kita belum bagus. secara teknikal masih keteteran, beda banget dengan tim lain (Malaysia, Filipina), yang mainnya jauh lebih rapi. yah, Malaysia memang pantas menang.
Kita? malah menyalahkan laser, menyalahkan hal-hal lain yang tidak menyentuh langsung ke pokok masalah (masalah kita: pembinaan melalui kompetisi yang baik, tidak ada!).
"keberhasilan" timnas ini lebih ke faktor tangan dingin Alfred Riedl. dengan segala keterbatasannya, dia bisa membawa timnas ke final. kita memang patut memuji beliau.
tapi, bukan berarti lantas kita lupa (atau kita memang sering lupa?), pe-er kita masih panjang.
dan ya, batu sandungan itu tidak akan "semenyakitkan" kalo tidak bernama "Malaysia". tentu akan beda perasaan kita kalo batu itu Thailand atau Singapura, misalnya..
http://www.detikn…s?n991101605
Anw, Dea nggak nonton pertandingan bola yg Indonesia menang 3-0 itu. Tapi Dea nonton pertandingan terakhir di Senayan. Menurut Dea Indonesia main bagus, termasuk secara emosi. Mereka sportif banget.
Sebetulnya apa yg jadi dasar "kemenangan" dan "kekalahan" ? Menurut Dea di tiap peristiwa selalu ada lebih dari satu pertandingan ...
Salut deh. Berat pasti rasanya menang tapi nggak juara!
garuda tetap di dadaku buat semua pemain yang mengalirkan keringat bahkan darah untuk memenangkan pertandingan terakhir...
mereka menang walaupun tak juara..
saatnya mulai berbenah. Bayangkan kalau Indonesia juara AFF kemarin, pasti permasalahan dasar yang terjadi di pesepakbolaan Indonesia tidak akan dibenahi,
As for this writing.. Selalu ada yang bisa dipetik dari tiap kejadian kan..?
inti nya mereka kudu latihan lebih rajin lagi gitu... dan belajar jangan gede rasa dulu, mentang2 sampe semifinal mulusssss
Silahkan login untuk memberikan pendapat