Ayu dan Mitos Seorang Ibu 11
Kamis, 16 Des '10 09:46
''KITA percaya, sebagai seorang ibu, Ayu Azhari akan memikirkan yang terbaik untuk anaknya. Ayu pasti telah melihat sosok Mike sebagai ayah yang baik bagi anak-anaknya.''
Kalimat di atas dikatakan Fiantika Ambadar, presenter ''Silet Spesial'' (12/3/2006) sebagai kesimpulan atas kisah asmara Ayu dan Mike ''White Lion'' Tramp. Dalam tayangan 30 menit itu, dikupas bagaimana masa depan anak-anak Ayu dengan dua suami terdahulu, ketika dia memutuskan akan menikah dan mengikuti Mike ke Australia. ''Ayu pasti telah memikirkan semuanya. Jika akan membawa anak-anak ke sana, dia pasti akan membicarakannya dengan saya,'' kata Teemu, mantan suami kedua Ayu.
Tapi Teemu salah, Ayu memang telah memikirkan efek pernikahannya, tapi bukan semuanya, bukan tentang masa depan anak mereka. Ayu, yang karena pernikahannya dengan Mike, bertransformasi kembali ke sisi paling awal hidupnya, dari seorang ibu, menjadi ''hanya'' seorang istri. Padahal, yang diinginkan Teemu dan Fiantika, adalah Ayu sebagai seorang ibu. Itulah sebabnya, sembari mengajak penonton untuk percaya juga, Fiantika berkata, ''Kita percaya, sebagai seorang ibu...''
Tapi Ayu bukan lagi seorang ibu. Sebagai ''hanya'' seorang istri, Ayu ''lupa'' perannya untuk menjadi ibu bagi anak dari suami yang lain. Dan melalaikan kewajibannya. Namun, ketika keempat anaknya memberontak, dan merasa sakit dengan peran hanya sebagai seorang istri Mike itu, --''Mama tidak suka sama saya a dan adik-adik saya. Kami dibuang. Dia lebih mementingkan suaminya,'' sesal Sean,-- Ayu tersadarkan. Dia memang telah berjarak dengan anaknya. Tapi, lebih daripada menghadirkan kembali dirinya sebagai seorang ibu, Ayu justru kembali hanya menggenggam mitos ibu.
Tentu, mitos yang dia genggam adalah mitos kebaikan. Dan cara ini bukan sesuatu yang baru. Nyaris semua artis pernah melakukan hal ini, menyandarkan diri pada sosok yang telah menjadi mitos (cerita) kebaikan.
''Saya ibunya, saya yang melahirkan mereka. Jangan jadikan anak saya komoditi untuk melawan saya, ibunya..." isak Ayu, selepas mengunjungi anaknya di rumah pengacara Dwi Ria Latifa. ''Jangan jadikan mereka korban..."
Ayu ingin memainkan stigma, bahwa seorang anak tak boleh untuk menentang ibunya, mendurhaka. Dan dia ingin, pihak di luar sana, --mungkin arahnya pengacara anak-anaknya-- untuk tak menjadikan keempat anaknya menjadi pendosa. Ayu menangis, karena dia merasa ''dikeroyok'' anaknya, dan mereka yang berada di belakang anaknya. Dia, sebagai ibu, ingin dipercaya tidak akan pernah bermaksud menyakiti atau menyia-nyiakan anaknya, apalagi sampai melakukan kekerasan, sebagaimana yang dituduhkan.
Kenapa menggenggam mitos seorang ibu yang penuh kasih itu penting? Banyak alasan yang dapat diungkapkan, meski dua faktor berikut sudah sangat mewakili. Pertama, mitos merupakan statement of fact. Mitos bukan hanya cerita, pernyataan, pesan, tapi sudah menjadi bukti bahwa konsep itu faktual. Nyata dan benar. Sebagai fakta, mitos tidak hanya benar dan menyakinkan, melainkan juga abadi. Mitos kasih seorang ibu barangkali contoh yang paling tepat tentang keabadian kebenaran itu. Dengan menjadi fakta, sebuah mitos tak lagi bisa diganggu-gugat. Terima, habis perkara!
Kedua, mitos itu motivasional. Selain tak dapat diganggu-gugat, mitos juga memotiasi orang untuk melakukan hal sama. Dalam hal ini, mitos berubah menjadi perintah, memerintah untuk diikuti, untuk di-alami. Ketika Ayu mengatakan, ''Jangan jadikan anak saya komoditi untuk melawan saya, ibunya..." otomatis telah terjadi loncatan perintah pada khalayak untuk ikut merasakan sakitnya juga.
Dengan dua ciri itu saja, sudah dapat dibayangkan betapa pentingnya mitos digenggam dan dikeluarkan di saat yang tepat, sebagai senjata untuk dapat dipahami dan dibenarkan tindakannya. Masalahnya kemudian adalah, berapa lama mitos itu dapat bertahan?
Sebagai statement of fact, mitos memang tidak lagi dapat diganggu-gugat. Dia kuat, tak terbantahkan. Sayangnya, penggenggam-penggenggam mitos ini tidak mampu memainkan mitos itu selalu dalam situasi yang selalu tepat. Meski kuat, mitos memiliki kontradiksi dalam dirinya sendiri. Ayu terjebak dalam kontradiksi itu. Rekaman tangisan kesakitan Sulaiman Atiq, anak ketiganya, menjadi bukti. Belum lagi ''pemenjaraan'' Sean, karena ''mencuri'' uang ibunya, Rp 450 juta, hanya untuk dapat dideportasi, agar terbebas dari ''penjara'' caci-maki Ayu. Atau kerisauan Axel karena merasa hak warisnya telah diambilalih ibunya, tanpa seizin dia. Dan, Ayu yang ''masih seorang istri'' itu menjawab dengan, ''Uang warisan itu sudah habis untuk hidup Axel.'' Sebuah jawaban yang salah, yang menunjukkan kontradiksi dari perannya sebagai seorang ibu.
Apalagi kemudian terungkap, sejak pernikahannya dengan Mike, ketiga anaknya dengan Teemu tak lagi bersekolah. Dan Ayu, sekali lagi, ''hanya'' sebagai istri Mike, cuma ''peduli'' pada anak dari suami bulenya itu, Issabelle dan Lennon.
Tak heran, Axel yang sudah dewasa, berkata dengan masgul, ''Saya takut khilaf saat menghadapi Mama. Dia bukan seperti Mama lagi, seperti orang lain.''
Ayu telah melumpuhkan mitos ibu dengan kontradiksi dalam dirinya sendiri. Dia telah melepaskan genggamannya, karena ibu yang ''menyakiti anaknya'', ''ibu yang suka menyumpah'' dan ''ibu yang berbicara dalam marah dan dengki'' bukan merupakan statement of fact dari mitos itu.
Pelumpuhan mitos semacam di atas telah lama berlangsung. Akibatnya, sesuatu yang semula bukan bagian dari statement of fact justru mengubah dirinya menjadi bagian dari yang tak dapat diganggu-gugat tadi. Mitos menciptakan anti-mitos. Dan kini, antimitos ini, telah menjadi mitos tersendiri.
Ketika Ayu berkata, ''Saya ibunya...'', pertanyaannya adalah, ''Siapakah ibu? Siapakah yang kita percaya?'' Apakah kita percayai Ayu, yang memang seorang ibu, yang tahu bagaimana menggemggam mitos itu --sekaligus melumpuhkannya? Rasanya tidak.
Ketika Ayu pulang dari rumah Dwi Ria Latifa, sambil tersenyum, Sean mengantarnya dengan ucapan, ''Selamat tinggal ibu Ayu..."
Kita tahu, sudah ada jarak yang ditegaskan Sean dalam ucapan itu, sebuah ucapan yang seakan menegaskan perpisahan, bukan saja secara fisik, tapi batin, antara seorang anak dan ibunya. Dia memakai kata ''Ibu Ayu'', ucapan resmi, yang menunjukkan hubungan mereka pun mulai hari itu, tak lebih adalah keresmian sebagaimana yang tertera di selembar akta. ''Ibu Ayu'' bagi Sean sudah berarti ''bukan lagi ibuku''.
Betapa mengerikan, betapa menggiriskan. Kita dicekoki kisah yang berubah, dari Maling Kundang kini beralih ke cerita ibu yang mendurhakai anaknya. Oh dunia...
Tag: cinta, sakit, entahlah, ayu, durhaka, pelit, warisan, azhari, pedih
Terkait:
-
Malinda dan Metafora Dada
Rabu, 6 Apr '11 16:00 -
Epy Tahu dan Menunggu
Kamis, 27 Jan '11 12:45 -
Ayu Azhari dan Ingatan Arloji
Rabu, 3 Feb '10 14:27


Komentar:
sofie: untuk kasus di atas, hak asuh ''kebetulan'' berada di tangan ayu, bukan mantan suaminya. dia yang meminta hak itu, dan tak memberikan kewajibannya.
honeylizious: yel-yel mendukung Indonesia di GBK ya?
karena orang tua yang tidak bisa memberikan kewajiban nya terhadap si anak padahal dia mampu, dia juga durhaka... cuman sayang nya gak banyak anak2 yang berani meminta hak nya... ada baik nya juga ada kejadian macam ini atau arumi
bukan nya saya setuju, tapi memang tidak selama nya orang tua selalu benar dan melakukan sesuatu berkedok demi kebaikan si anak
Silahkan login untuk memberikan pendapat