Marissa dan Syahwat Prasangka 30
Kamis, 18 Nov '10 18:50
''Yang pertama dimakan prasangka, adalah diri sendiri.'' Saya tak ingat lagi di mana membaca kalimat tersebut. Namun, membaca ''konflik'' Marissa-Vina-Memes, tiba-tiba kalimat itu menyeruak, dan membuat saya berpikir ulang, benarkah prasangka selalu meminta ''korban'' justru dari sang subjek?
Ya. Marissa memang marah. Lebih tepatnya, dia cemburu. Maklum, suaminya, Ikang Fauzy, ''mepet'' dengan Vina, dan tampil ''mesra'' dalam acara ''Odyssey'' yang digagas Addie MS dan Memes. Dalam acara itu, seperti biasa, Vina memang tampil ''terbuka'' di bagian dada, yang menurut istilah Marissa ''sedekah payudara''. Penampilan Vina ini bahkan sebangun dengan duetnya bersama Afgan, yang membuat berbagai forum menayangkan foto-foto mereka, dengan ''fokus'' pada dada Vina yang amat terbuka.
Tapi, masalah yang diangkat Marissa bukan sekadar ''sedekah'' tadi. Lebih jauh. Dia menilai, Vina dan juga Memes, sedang berusaha menggoda Ikang, suaminya. ''Sedekah'' itu, di mata Icha, adalah ''strategi'' agar Ikang terberahikan.
Sebuah asumsi yang berlebihan, tentu. Tapi, jika kita baca ''curhat'' Marissa di blognya, ternyata ada ''sejarah'' panjang antara dia, Ikang, dan Vina. Dan semula terkait satu kata, asmara.
Vina adalah nama yang sudah berdiam di benak Marissa sejak lama, bahkan ketika dia bermula membangun rumah tangga dengan Ikang, saat liburan ke Jerman. Posting bagian awal di curhat itu menjelaskan bahwa Icha sudah tak suka dengan Vina, yang selama bersama mereka, rajin sekali ''menjamah'' tubuh Ikang. Icha kemudian mendiamkan Vina, lalu memaafkan karena dia yakin si Burung Camar tidak tahu bahwa saat itu Ikang dan dia telah terikat pernikahan yang disembunyikan, sirri.
Tapi memaafkan tentu beda dengan melupakan.
Dan ingatan itu tetap menyiksa Marissa sampai kini.
Dia meyakini, ada yang ''spesial'' dari keramah-dekatan hubungan Ikang dan Vina. Apalagi, dia melihat Memes memasukkan ''bumbu'' di sana. "...kejadian payudara Vina Panduwinata menempel di dada suamiku Ikang Fawzi masih menorehkan luka akibat ulah acara Addie MS dan Memes istrinya itu!'' tulisnya.
Prasangka itu lalu berkelindan ke mana-mana. Skala iman, syariah Islam, kebencian pada perubahan selera busana, sepertinya, menjadi tuas dari purbasangka itu. ''...upaya Memes mengkritik busana saya tidak akan memberi efek apa pun pada perubahan gaya busanku. Saya telah memutuskan berjilbab, agar dapat lebih kaffah dalam Islam dan menghapus segala dosa dan maksiat tertentu yang pernah saya lakukan di masa lalu.''
Namun, setelah saya baca seluruh tulisan Marissa, ada satu poin yang barangkali dapat menunjukkan bahwa prasangka dia pada Memes dan Vina, lebih didasarkan pada ketakpercayaan dia atas Ikang. Dengan kata lain, Icha meyakini, godaan itu telah membuat suaminya larut dan ''terjebak''. Jadi, ''kritik'' Icha atas ''keislaman'' Memes dan Vina, pada dasarnya adalah sebuah pernyataan bahwa Ikang juga berada dalam ''kualitas'' iman yang sama, yang gampang tergelincir mengikutkan syahwat. Lihat pernyataannya, ''Apalagi dengan perempuan sejenis Memes Addie MS dan Vina Panduwinata, para perempuan berpayudara 2/3 atau 3/4 terbuka yang membuat diri Ikang Fawzi suamiku saya duga jadi ‘gemas' ingin memeluk dan menciumnya.''
Icha menduga Ikang jadi gemas dan bernafsu. Dan itulah yang menjadi pangkal ''kemarahannya''. ''Sejujurnya saya tidak ikhlas suamiku Ikang Fawzi terangsang secara seksual dengan payudara Vina Panduwinata maupun payudara Memes Addie MS.''
Apakah benar Ikang terangsang? Saya tidak tahu, dan tak berani menduga. Tapi saya kira, dengan sejarah ''pertemanan'' Ikang dan Vina, juga Memes, yang sekian lama, ''sumbu syahwat'' mereka sangat sulit cepat tersulut. Apalagi, kemesraan yang dipermasalahkan itu adalah aksi panggung, yang terkadang, memang dilebih-lebihkan, untuk menggairahkan penonton. Dalam ritme panggung, fokus Ikang pasti pada penampilan dirinya, kualitas vokal dan aksi, sekaligus menyelasarkan dengan gestur Vina, rekan duetnya. Mereka berbagi ruang untuk saling mendapatkan kepaduan penampilan. Pelukan, rangkulan, dengan demikian, adalah bahasa panggung, bukan sikap pribadi. Tawa, canda, pandang mesra, adalah akting, adalah pemanggungan diri, yang dipilih sebagai harga yang harus dibayar kepada penonton.
Di ''wilayah ramai'' itu Ikang dan Vina memang ''dipaksa keadaaan'' dan ''sejarah'' untuk tampil mesra. Tapi di ''rute sunyi'', mereka akan kembali kepada diri, yang tak mengharap pujian dan tepuk tangan. Dan tentu tak perlu berlaku mesra.
Saya kira, Marissa alpa aspek pemanggungan itu. Atau, dia ingat, tapi karena sudah lama berkecimpung di politik, Vina dan Memes, dia anggap seteru. Karena itulah, serangan ''politik'' dia lancarkan, bahkan dengan senjata apa adanya: asumsi dan prasangka. Dia rendahkan pihak lawan, dan dia tinggikan kualitas diri, untuk memenangi ''pertarungan''.
Tapi Icha lupa, prasangka kerap memakan sang subjek. Dia mendapatkan ganjaran dari asumsi yang dibangun karena cemburu dan ketakpercayaan pada suami itu. Seluruh jalinan ''argumentasi'' dalam curhatnya, justru saling melemahkan sendiri. Ada inkonsistensi antara sikap keislaman yang dia banggakan dengan riya yang tanpa sadar juga dia tunjukkan di tulisan itu.
Respon dari pembaca misalnya, justru banyak yang tidak sebangun dengan harapannya. Banyak yang menyesalkan sikap Icha, dan mengkritik kembali tulisan dan sikapnya. Atau hanya tertawa, dan menyayangkan curhat personal itu. Icha membawa masalah pribadi ke ruang publik, dan ternyata tak siap akan konsekuensinya, ketika pantulan gema tak seindah yang dia harapkan. Buruan media, ''serangan balik'' Kevin anak Memes, tentu sesuatu yang kontraproduktif bagi Marissa. Karena, dengan hal ini, ingatan publik atas dirinya, hanya berlompatan dari satu konflik ke konflik yang lain, seperti kiprahnya di dunia politik.
Namun, lebih dari itu, secara nyata, alih-alih mencela Vina dan Memes, Icha justru mendudukkan suaminya, Ikang Fauzy, sosok yang amat dia cintai dan ingin dia lindungi itu, sebagai sandera. Ikang di mata dia adalah lelaki dan suami yang amat rentan untuk tergoda. Bahkan, oleh dua wanita yang dia nilai dengan, ''Padahal payudara mereka di usia 50 tahunan sudah jatuh dan peyot dimakan usia!"
Icha secara kasat mata seakan berkata, ''Rumah tangga kami masih digelisahi oleh syahwat, dan ketiadaan rasa percaya..."
Tak heran jika Ikang dan anaknya, Isabella, memintakan maaf untuk ibunya...
Tag: blog, curhat, marissa, asmara, terserahlah
Terkait:
-
Syahrini dan Cobaan Itu
Kamis, 26 Mei '11 13:21 -
Anang dan Kemenangan Ingatan
Kamis, 12 Mei '11 17:26 -
who what wear
Rabu, 20 Apr '11 22:08
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sandi: yoi banget
-
bekel ijo: yoi banget
-
empty: jadi penasaran
-
iPuts Luv: keren
-
pu3ku: yoi banget
-
Titiw : keren
-
deadeye doll: yoi banget
-
Black.Rose: yoi banget
-
fadex: keren
-
maharrani: yoi banget
-
Bieb: keren
-
nyun: nggak ada matinya
-
fairyteeth: nggak ada matinya


Komentar:
*salaman
Ditunggu tulisan berikutnya Mbak mas Bara
artikel ciamik nih...
saya jarang nonton gosyiipp
mbaahh kemanakah dirimu hari ini
sandi: suwun, mas
deepblue: aku juga ngerti karena diceritain kok...
bekel ijo: ini ga rame di tipi kok, ehh, kamu tanya simbah ke mana? kenafa? kangen ya digodain? HAHAHAHAHAA...
kangen di godain
ketawanya pake capslock pula
saya cuma butuh wangsit dari simbah
Bekel ijo: cicuittt...udah tau simbah simbah masih juga nyariin *jadi minta nope?
mbak mas Bara: artis to? Pantesannn dicari cari tuh
maaf mbaaahhh
bekel ijo: numpang nonton teve di rumah simbah? ahayy... takut ahh.. nanti dirimu ga mau pulang
aku betah di rumah simbah..soal'e cucu simbah ganteng siy
But terlepas dari semua itu, siapa pun orangnya, kita hanyalah manusia biasa...
Mau berjilbab atau tidak. Mau pamer payudara atau tidak, tidak ada yang tahu siapa yang lebih tinggi di mata Allah..
langit bara lazuardi: Again n again.. nice writing Om. Saya sangat suka kalimat "Tapi memaafkan tentu beda dengan melupakan".
*menghilang*
Btw, ada yg tau alamat blognya Bella? Pengen liat dia minta maaf gimana.
Soal Marissa, no comment ahhh, terlalu banyak mudharatnya kalau dibicarakan.
'Sebaik-baik manusia kan yang mampu menjaga aibnya sendiri dan keluarganya kan?'
Tapi gue rada heran juga sih sama gaya bahasa Marissa yg terasa kurang ciamik gitu... sementara image Marissa kan well educated, artikulatif etc etc gitu lah, gak sinkron sama gaya bertutur di tulisannya.
klo ga salah lo
thalique: manalah awak pantas... suwun jika jadi doa, hahaha
ko' tau aja sih ada konflik ini....?? aq aja yg "pacar"nya Kevin ga tau
Silahkan login untuk memberikan pendapat