Can Men And Women Be Friends? 5

Jumat, 29 Okt '10 21:06

They can't be friends, unless both of them are involved with other people. Then they can. This is an amendment to the earlier rule.

If the two people are in relationships, the pressure of possible involvement is lifted.

That doesn't work either.

Because what happens then is the person you're involved with can't understand why you need to be friends with the person you're just friends with, like it means something is missing from the relationship and wanted to go outside to get it.

Then when you say, 'No, no, no, no, it's not true, nothing is missing from the relationship,' the person you're involved with then accuses you of being secretly attracted to the person you're just friends with, which you probably area

I mean, come on, who the hell are we kidding, let's face it which brings us back to the earlier rule before the amendment, which is men and women can't be friends.

Terjemahan Super Bebas:

... Mereka nggak bakal bisa berteman... kecuali keduanya sedang berhubungan dengan seseorang. Kalau itu masalahnya berarti bisa. Ini adalah sebuah amandemen untuk peraturan pertama (aturan pertama: cewek cowok nggak bisa temenan).

Jika kedua orang tersebut sedang berhubungan dengan orang lain, maka tekanan akan kemungkinan adanya hubungan antara keduanya hilang.

Tapi itu juga nggak bakalan bisa. Karena yang akan terjadi adalah orang yang sedang berhubungan dengan kamu sulit memahami kenapa kamu membutuhkan seseorang seperti temanmu itu, kaya' ada yang hilang dari hubungan kamu dan kamu butuh orang luar untuk mengisi kehilangan itu.

Terus pas kamu bilang, "ngga, ngga, bukan, nggak bener, kok... nggak ada yang hilang dari hubungan kita.." Orang yang berhubungan dengan kamu itu pasti langsung nuduh kamu diam-diam tertarik dengan orang yang jadi teman kamu itu - yang kemungkinan besar emang kamu tertarik. Maksudku... ayolah, jangan bercanda, udah deh ngaku aja - coba lihat kembali peraturan awal sebelum amandement, cowok nggak akan bisa berteman sama cewek....

Kutipan diatas tadi diambil dari film klasik When Harry Met Sally. Menurut saya Harry ada benarnya. Tapi baru-baru ini saya sadar kalau Harry juga salah. Cowok bisa kok bersahabat dengan cewek tanpa ada ekspektasi macam-macam. Mungkin karena dulu masih emo-emo labil gitu jadi suka menyalah artikan. Maklum di kala pejantan memasuki musim kawin, suka gelisah dengan lawan jenis.

Betul, saya tertarik dan cenderung ingin mendekat dengan lawan jenis (perempuan) yang punya kualifikasi sesuai pilihan saya. Saya ngobrol, berteman, bicara apa saja yang kita anggap kita sukai. Di level ini, menurut sudut pandang saya yang cowok, kita saling tertarik. Bukannya ge er, tapi mana mungkin sih cewek mau ngobrol atau main terus sama saya kalau dia juga tidak tertarik dengan beberapa kualifikasi saya.

But then again saya mungkin salah. Cara pandang perempuan tidak sesederhana itu ternyata. Atau mungkin malah lebih sederhana. Buat kaum hawa, tertarik romantically dengan cowok tidak semudah itu. Mungkin karena cowok melihat fisik cewek kemudian baru mempertimbangkan yang lainnya dan walaupun cewek juga suka melihat fisik yang bagus tapi ternyata bukan syarat utama. Cewek lebih suka mempertahankan status persahabatannya daripada maju ke tahap berikutnya.

Tapi itu juga bisa salah, mungkin juga cewek tertarik tapi pertimbangannya lebih banyak. Gimana kalau putus nanti? Masih bisa nggak seasik ini? Terus kalau pacaran nanti kita jaim nggak ya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang selalu menghantui. Saya sendiri juga pasti bingung kalau tiba-tiba 'witing tresno jalaran soko kulino' (cinta tumbuh karena biasa) dengan sahabat saya.

Ah emang nggak ada yang benar ternyata, atau nggak ada yang salah... Tapi kemudian saya punya teori baru. Label... kita semua cenderung memberi label pada tiap hubungan non pernikahan. Pacar, kekasih, TTM, HTS, dan sebagainya. Did you know? Label is intimidating. Tidak bisakah kita menjalani tanpa label? Just like that.. dan jika nanti memang jatahnya (mau bilang jodoh terlalu klise) ya bagus kan, tinggal diteruskan ke tahap berikutnya. Bukan, bukan pacaran, tapi pernikahan..

Tapi kemudian ada lagi yang bilang. Terus kalau nggak dilabelin gimana kita tahu yang diseberang sana juga sama seriusnya dengan kita? Saya sendiri sih cuma bisa bilang "Nggak Tahu..." yang saya tahu saya serius menjadi teman yang spesial.. dan pada waktunya kita bisa langsung skip tahap pelabelan sialan itu. Important Facts: Lamanya pacaran tidak berbanding lurus dengan pernikahan. Terus satu yang paling penting, sex bebas bisa dihindari jika tidak main label-labelan. Karena nggak ada label pacaran, dangdutan, ngesle, dll, hal-hal seperti itu nggak bakal dilakukan ke sahabat kita sendiri karena akan cross the line.

Buat cowok yang mau cari begituan lewat pacaran, sebaiknya jangan.. jangan orang baik-baik atau sahabat dirusak... separah-parahnya boleh jajan kok, no love, no fuss, pure lust. Tapi at your own risk.

 Jadi banyak-banyakin aja deh temen lawan jenis. Siapa tahu salah satu diantaranya adalah jodoh. Dan kalau bukan, setidaknya bisa jadi sahabat yang baik.

Feel free to comment and critics this pure lunatic and unacademical theory of mine.

 


Tag: relationship, men, women, harry met sally

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Titiw 0 0
Ah.. ini percakapan yang selalu dan selalu dan selalu kita bicarain ya mas.. Hehe.. betul, kadang2 label itu bikin sesuatu jadi punya paksaan atau tekanan. Kalo kita gak sayang2 amat sih enak gak pake label. Tapi kalo sayaaang banget kadang2 kan pengen juga ngelabelin orang itu "punya kita". Hihi.. : D
apy 0 0
ahahaha gw sekarang ini tiba2 berubah tidak mau label2an. waktu itu (curhat dulu ahh) gw kan dah sayang banget, yaa karena sayang gw labelin dan gw melakukan ritual2 pacaran seperti biasanya. tapi ternyata lepas juga tuh walaupun gw setia seperti kuda laut. coba kalo nggak dilabelin, jadi nggak terlalu tertekan.
Sabai 0 0
i'm a woman and my best friend is a man... who happens to be gay. Does it count? : D
sandi 0 0
nice theory!!

cuman mau nambahin, kita memang hidup di jaman pelabelan, imbas dari konsumerisme di jaman modern.
Berbagai teknik marketing dilancarkan untuk menanamkan label (produk) ke benak kita.

Jadinya kita menghamba pada label/merk.
Label adalah segalanya. Tanpa label kita bukan siapa2.

Kita merasa harus membuat label sebagai sarana branding, termasuk juga dalam hubungan pertemanan.

Makanya ga usah heran kalo ada yang nanya, "Ngomong2 si X itu siapa?"
"Teman"
"Teman apa? Teman kuliah, teman satu komplek, teman kursus, teman dekat, atau teman apa...??"

Ternyata menjadi teman saja belum cukup. : )
apy 0 0
exactly! buat apa label? kalo emang dah cocok ya dah cocok. kalo emang setia pasti ga kemana2...

Silahkan login untuk memberikan pendapat