Dear Billy 13
Rabu, 13 Okt '10 00:09
Dear Billy,
Ini surat pertama yang kutulis untukmu. Mungkin agak aneh. Kita baru saja bersua malam ini. Iya, perjumpaan pertama kita. Selama ini kita belum pernah bertemu, aku malah ga pernah menulis selembar surat apapun untukmu. Kamu ingat Billy, sudah berapa tahun kita berteman? 17 tahun. Selama 17 tahun ini aku selalu mendengarkan curhatmu. Tentang masa kecilmu yang kurang bahagia. Tentang mamamu yang melantarkan dirimu. Tentang papamu yang kecanduan obat-obatan dan sering mengakibatkan dirimu harus membebaskannya dari tahanan polisi. Aku berempati dan mengerti.
Namun aku tahu kalo kamu sangat sayang sama pada mereka berdua. Di lagu The Last Song, papa memainkan gitar untukmu. Lagu Once Upon A Time dan For Martha didekasikan untuk almarhumah mama. Aku berempati dan mengerti.
Kau menghujat muak pada perusahaan rekaman yang menurutmu seperti vampir yang mengisap darah dan menyindir mereka lewat Cherub Rock. Kau juga protes ketika album Adore dianggap jeblok yang mengakibatkan vampir-vampir itu menolak merilis Machina sebagai dobel album. Sebagai balasannya kau keluar dari perusahaan rekaman dan merilis Machina II: Friends and Enemies of Modern Music untuk diunduh secara bebas gratis untuk seluruh fans-mu via internet. Aku berempati dan mengerti.
Engkau pun sempat memecat Jimmy Chamberlin, drummer-mu yang pukulan roffelnya dahsyat sekali, karena kecanduan obat bius. Baru-baru ini kau memecat lagi Jimmy untuk alasan yang mengada-ada. Dan kau bermusuhan dengan James Iha, sang gitaris yang menurutmu menyebalkan dan kau ga pernah bertemu dengan D'arcy dalam kurun 10 tahun terakhir. Kamu bilang dia cuma bassist yang good-looking dan sama sekali tak berbakat. Aku berempati dan mengerti.
Kau juga mengalami tahun-tahun sulit yang disebabkan oleh hubungan pasang surutmu dengan Courtney Love. Ada hubungan cinta/benci abadi di antara kalian berdua. Aku berempati dan mengerti.
Sejak tahun lalu kau mengambil keputusan untuk merilis album barumu, Teargarden by Kaleidyscope, yang terdiri atas 44 lagu, secara bertahap dalam bentuk mp3 yang bisa diunduh gratis. Aku berempati dan mengerti.
Ketika akhirnya kau memutuskan datang ke Jakarta dengan mengajak teman-teman baru, termasuk si anak abege 19 tahun yang gemar memakai ikat kepala seperti Ralph Macchio di film Karate Kid yang sering diprotes karena tampak belum kompeten menggantikan singgasana Jimmy, aku berempati dan mengerti.
Di malam pertemuan perdana kita berdua tanggal 8 Oktober 2010, kau membuka percakapan lewat Today. Aku keluarkan semua energiku untuk mengimbangimu. Kau sambung dengan nomor baru Astral Planes dan aku menyambut dengan tangan terbuka. Aku menjerit histeris ketika intro Ava Adore terdengar. Kau memainkannya dengan sentuhan rock yang sangar, tidak seperti versi aslinya yang berbau elektronik. Lalu kau teruskan perjumpaan dengan nomor baru lagi, A Song for A Son, yang melankolis. Yah, mungkin biar sedikit cooling down. Aku berempati dan mengerti.
Kau kembali membuatku bersorak waktu Eye dan Bullet with Butterfly Wings digeber, walaupun kau sempat berhenti sewaktu intro Bullet... dan menyindirku dengan kalimat "So you're alive now, huh..?!!". Aku berempati dan mengerti.
Tanpa jeda kau 'menghajar' kupingku lewat United States yang ambisius diakhiri Star Spangled Banner dan disambung Moby Dick milik Led Zeppelin sebagai pelengkap. Kau lanjut dengan menyuguhkan As Rome Burns yang membuat keningku sedikit berkerut karena belum familiar. Aku berempati dan mengerti.
Aku merasa perjumpaan kita mulai panas kembali ketika kau menyuguhkan Tonight Tonight dan Stand Inside Your Love berturut-turut. Aku menggila. Suaraku hampir serak. Aku tidak peduli. Aku berempati dan mengerti.
Lalu kau membawakan sebuah nomor dari album Zeitgeist, Tarantula, yang menurutku akan membawa kita ke klimaks perjumpaan malam ini. Aku berempati dan mengerti.
Kelar Tarantula, kau dan teman-temanmu berjalan ke balik panggung. Lampu padam. Aku berteriak memanggilmu, "We want more..!!". Kau tidak muncul-muncul. Aku berteriak lebih keras. Yang muncul di panggung teman-temanmu yang lain yang malah membereskan peralatanmu. Inikah akhir pertemuan kita? Kau belum membawakan nomor favorit kita, 1979. Atau Cherub Rock dan Zero yang tercantum di set list malam ini. Aku terdiam. Shock. Apa salahku? Aku tidak berempati dan tidak mengerti.
Apakah ini caranya memperlakukan teman yang telah mengenalmu selama 17 tahun? Kita ga tau kapan bakal bisa bertemu lagi. Aku tidak menuntut banyak. Hanya sedikit pengertianmu. Aku dengar dari seorang teman, kau membatalkan presscon dan ga mau membubuhkan tanda tangan untuk peserta meet n greet. Aku juga dengar kau lah penyebab ditiadakannya media pit malam ini. Ternyata kau terlalu egois. Aku tidak berempati dan tidak mengerti.
Selamat malam Billy. Sepertinya percakapan kita belum selesai. Belum puas rasa kangenku. Kau menelantarkanku. Aku merasa tidak berarti di matamu.Tapi tenang aja. Kita ga akan putus hubungan. Untuk saat ini kita jaga jarak dulu aja. Introspeksi dulu lah. Aku akan menghabiskan malam yang tersisa ini dengan menyusun mixtapes Smashing Pumpkins versiku sendiri. Sepertinya ini solusi yang adil buatku. Juga untukmu.
PS: temanku titip pesan, sebaiknya kau mempertimbangkan mengganti nama Smashing Pumpkins menjadi Smashing Potatoes mulai malam ini. Hanya usul lho... jangan ngambek ya..
Tag: jakarta, rock, Java rockin land, bill corgan, heavy metal, alternative
Terkait:
-
In October Drinkin' Horchata
Selasa, 2 Nov '10 08:44 -
Java Rockinland 2010 hari#1 dalam gambar
Senin, 11 Okt '10 22:57 -
6 Hours In Jakarta with My Leica
Kamis, 19 Apr '12 18:20
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
AndriaGutama: keren
-
sofie: nggak ada matinya
-
Titiw : keren
-
fairyteeth: keren

Komentar:
eh ini artikel fotonya emang cuma atu ya?
capturedlilac: ada jesikasimpsen di Ancol kemaren?
iPuts Luv: teorinya masuk akal
kerennn.....jadi gosipnya gimana sih? bo dibahas di kolom komentar gitu biar asoy
BTW, Corgan emang terlalu arogan saat di Jakarta kemaren. Kagak sadar kali ya, kalo Smashing yang dia bawa tuh cuma versi perjuangan karena udah kagak ada lagi personel asli, namun kita mau nerima itu dengan lapang dada.
Sayangnya, dia kagak.... Lepas dari apapun, seharusnya dia tetep ga ngecewain penggemarnya......
sila lihat di bagian komen http://melancholi…/dear-billy/
capturedlilac: sofie: entahlah, mungkin kepala plontos doi terlalu sensi dgn udara jakarta
aji aditya junior: saya ga putus sama doi, cuma jaga jarak
Silahkan login untuk memberikan pendapat