Not a (Former) Smashing Pumpkins Fan 12
Selasa, 12 Okt '10 12:49
Dulu saya suka Smashing Pumpkins. Suka sekali. Wretzky, Iha, Corgan dan Chamberlin adalah salah satu hal yang membuat saya bersyukur memutuskan untuk menyukai musik, dan band ini juga menjadi salah satu hal yang membuat saya bersyukur tumbuh dewasa di era kejayaan mereka. Musik yang violent, dipadu dengan lirik lugas sekaligus puitis dan punya melodi ringan, beat yang luar biasa cocok untuk headbang, serta solo panjang yang membosankan pada saat yang bersamaan. Apa lagi yang bisa diminta dari sebuah band rock di tahun 90-an? Bahkan "sang Nabi", Otong Koil, pun pernah membuat pernyataan di sebuah majalah musik circa tahun 2004, yang bunyinya kurang lebih seperti ini:
"Orang yang ngaku suka musik tapi gak suka Smashing Pumpkins mending dipotong aja kupingnya. Kayak punya ti*** tapi pipisnya lewat pan***"
Tidak ada pengertian lain dari pernyataan tersebut. If you hate Smashing Pumpkins, then there's something wrong with you. Bayangkan perasaan saya sebagai seorang remaja tanggung saat itu, saat kesukaan diamini oleh sang "nabi". Maka saya pun makin meyakini bahwa Smashing Pumpkins adalah sesuatu yang sangat penting.
Saya juga sangat memuja Melon Collie and The Infinite Sadness saat teman-teman pecinta Gish, Siamese Dream dan Pisces Iscariot menghujatnya, karena menurut saya album itu terasa lebih introvert dan intim. Walaupun tanpa Chamberlin. Hal serupa berulang ketika Adore dirilis tahun 98, album yang suram - lebih menyanjung nuansa elektronika daripada distorsi tradisional - dan gagal secara penjualan, tetap saya bela di depan mereka yang masih menggunakan kepala gondrong, kemeja flannel dan celana jeans rombeng sebagai sebuah keharusan. Dan saya yakin saya benar, karena saat Machina: The Machines of God beredar di pasaran, sebagian besar dari mereka tidak mampu mengapresiasi keagungan kombinasi Iha dan Corgan. Bayangan kehebatan mereka tetap terpatri dalam benak, dan terus menerus mengingatkan bahwa Smashing Pumpkins - is - the - truth. Walaupun tanpa Wretzky.
Namun setelah itu semuanya hancur. Friends and Enemies of Modern Music tidak mampu mengembalikan ilusi kejayaan yang saya simpan selama ini. Wretzky dan Iha tidak akan kembali. Zwan -the bloopers band- semakin membuat citra Corgan terpuruk dengan merilis lagu-lagu setengah jadi. Dan puncaknya, ketika saya melihat video Tarantula. Semua sembah sujud pada yang mulia SP pun seolah jadi masa lalu yang kelam, aib yang harus ditutupi. Saya malu melihat Corgan berusaha menjual sesuatu yang bukan lagi utuh miliknya, malu melihat ia berusaha menggantikan Wretzky, malu dengan fakta bahwa ia mereplika diri untuk mengisi kekosongan Iha, malu karena Corgan berhasil membawa Chamberlin untuk sekali lagi menendangnya. I'm no longer a Pumpkins' fan.
So I put on my A Perfect Circle tee, simply becos APC stole the majesty of Adore and Machina, and James Iha, after Corgan stole Paz Lenchantin frome them. I came to the Rockinland fully hostile, with grudges and contempt, to watch the Smashing Pumpkins, to hate.
Tapi faktanya adalah:
Saya tidak peduli dengan repertoar yang didominasi radiohits untuk memanjakan segmen 30 something pecinta single. Saya tidak peduli biarpun dikacangi saat berkali-kali meneriakkan "SIVA! SIVA!" dan "PLAY SILVERFUCK, BILLY! SIL-VER-FUCK!", dan saya tidak peduli dengan kenyataan bahwa penonton di sekeliling saya hanya mampu merapalkan bagian reffrain dari single-single yang sempat punya airplay sehebat Wali di setiap perempatan jalan.
Saya tidak peduli dengan solo yang seharusnya lembut dan hanya bisa diisi pas oleh James Iha di Stand Inside Your Love dan Ava Adore, saya tidak peduli kenapa pemain gitar dan bass bayaran yang tidak berkharisma dan tidak ingin saya ketahui namanya itu selalu merapat ke drum saat Corgan memimpin solo gitar, saya sangat tidak peduli dengan drummer yang gemar mengenakan ikat kepala semacam Ralph Machiyono itu, dan saya lebih tidak peduli lagi dengan alasan mereka tidak kembali ke atas panggung untuk membuat telinga penonton berdarah dengan Cherub Rock dan Zero. Sungguh-sungguh tidak peduli.
Karena saat intro Today dipetik, mata saya berat. And I weep like a frickin infant.
The riffs, the sound, the words, the wall of noise, the magnificent composition of notes and broken tunes from one of the greatest group in the history of music, played live. Semua alasan dulu saya mencintai band ini, dan salah satu alasan penting saya memutuskan untuk membuat band sendiri. Terima kasih pada @curipandang, keindahan ini bisa dilihat langsung oleh mata yang lelah di atas kaki yang pegal dan basah oleh lumpur, bersama ribuan orang lain yang (mungkin) mendapatkan pencerahan seperti saya, dan bukan ditonton sendirian sambil mengudap di depan layar komputer. Dalam sekejap, saya kembali menjadi seorang fanatik.
Saya mencoba mengerti kekesalannya; ugly ass tight schedule, ugly ass soundsystem untuk nama sekaliber mereka, ugly ass audience yang terjebak di masa lalu, ugly ass attitude yang merasa sudah paling ngefans dan berusaha dengan menjeritkan tujuh kali "we want more" lalu bubar.
Adalah hak kalian untuk ngomel di social media, adalah hak portal berita edit.com untuk membuat judul yang sensasional dan membuang artikelnya, dan adalah hak saya untuk berkata "Fuck you. You and your sorry heads should be grateful"
Tag: konser, Java Rockin\'Land, smashing pumpkins
Terkait:
-
Gaya Gaga
Rabu, 4 Apr '12 19:23 -
Java Rockin' Land 2011 Day 2
Selasa, 2 Agu '11 13:17 -
Suede Rocks Our Saturday Night
Senin, 21 Mar '11 13:39
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
warm: nggak ada matinya
-
Titiw : keren
-
sandi: keren
-
AndriaGutama: keren
-
capturedlilac: keren


Komentar:
sungguh saya masih nyesel ga bisa ikutan nonton
apalagi dengan rocker militan macam sampeyan
u rock ! \m/
Saya nggak begitu suka smashing pumpkins.
Iya, ada yang salah sama saya
Sebenarnyya saya juga udah nulis soal SP ini.
Dari sudut pandang yang disebut "segmen 30 something pecinta single"
"Karena saat intro Today dipetik, mata saya berat. And I weep like a frickin infant."---> I did that too tho.
Tapi tapi tapi... biasanya kalo nonton konser band favorit always kurang puas tapi seneng. Kalo kemaren ... kurang puas dan kurang seneng. Hix...
yah mau gimana lagi, gapake iha sama wretzky yah jadinya gitu aja, terima ajalah..
masa ngakunya ngefans sama SP dan rela bayar mahal tiket,eh pas nonton kecewa liat corgan dkk diatas panggung?sama aja kaya belom tau gosip kalo corgan itu selalu naksir sama bassistnya..
Silahkan login untuk memberikan pendapat