Siapa Bilang Siaran (Radio) Itu Gampang?? 10
Rabu, 6 Okt '10 19:31
Baeklah, karena tergelitik ama artikel adik kita (sok tua) @rohanisyawaliah soal tips siaran di radio, saya jadi teringat sebuah pengalaman yang sama sekali tidak membanggakan.
Lalu kenapa kalo tidak membanggakan justru malah diceritakan? Ya supaya bisa jadi pelajaran bahwa jadi penyiar itu gak gampang. :D
Jadi, jaman saya SMA, kami anak-anak seperumahan punya mainan baru, yaitu pemancar radio FM yang dibuat oleh salah seorang teman yang bisa dibilang hacker-nya elektronika. Bayangkan, jaman SMA, dia udah bisa bikin radio pemancar FM sederhana dengan modal yang tak lebih dari 20 ribu (jaman itu).
Apa boleh buat, jadilah rumah seorang teman yang kerap dijadikan base-camp tongkrongan berubah menjadi ruang siar. Eh maaf, maksud saya: teras siar, karena memang letaknya berada di teras depan rumah teman saya itu.
Alasan utamanya sih, sebenernya karena bambu penyangga antena berada di teras, sehingga mudah buat kami untuk membongkar-pasang alat siar (ya, itu alatnya memang sistem knock-down), jadi kalo udah selesei siaran (atau karena pas siaran tiba-tiba hujan), kami bisa dengan mudah kukut.
Kalo sekarang jamannya Kentang Radio, yang terkenal karena sistem siaran dan lagu yang disiarkan suka-suka si penyiar, kami sudah lebih dulu menerapkan sistem ini. Jam siaran dan lagu-lagunya tergantung kami, para penyiarnya (yang juga anak-anak perumahan situ juga). Biasanya di atas jam 9 malam, selepas jam belajar masyarakat. Uhuk.
Penyiarnya, siapa pun yang mau. Kalo mau nggambleh sampe bibir jontor boleh, mau muter lagu-lagu doank juga boleh, pokoknya pendengar gak boleh cerewet bin rewel. Kalo siaran pun, kami biasanya nelpon satu-satu ke teman-teman supaya ada yang dengar (oi, jaman itu pake telepon rumah, belom ada henpon).
Pemutar lagunya? Sebuah VCD player maksiat (karena kerap digunakan buat nonton bokep bareng) menjadi alat yang vital. Output audio dari VCD player langsung masuk ke alat pemancar sekaligus mixer lalu berujung ke kabel antena. Ringkas, praktis, dan sederhana.
Mikrofonnya, tau kan mikrofon kecil yang dipake dijepitkan di baju kalo pas imam mimpin sholat taraweh? Nah, kami pake mikrofon itu, tanpa headset. Lalu bagaimana kami tau suara dan lagu udah kecampur jadi satu? Ya kami menggunakan sebuah radio yang digunakan untuk menangkap siaran kami. Tentunya agar tidak feedback, letaknya agak jauh namun masih dalam jarak jangkauan dengar.
Kalo di radio beneran harus ada di ruang penutup dan sebisa mungkin menghindari suara pengganggu masuk ke mic, kami berbeda. Mic harus didekatkan di bibir sambil setengah tereak, apalagi kalo pas ada tukang bakso lewat memukul-mukul mangkok menjajakan dagangan. Suara penjual yang lewat kadang masuk juga! :D
Pokoke kesan alami, apa adanya, itu adalah fitur kami (padahal memang bisanya gitu). :p
Saking sederhananya pula, alat ini kadang kalibrasi frekuensinya juga ngawur. Hari ini mengudara di frekuensi 92.0 FM, besok bisa 91.5 FM, atau kadang malah gak ngangkat frekuensinya. Saat kami siaran, gak jarang kami mendapat telepon komplain dari tetangga karena siaran kami nyepret (menginterferensi) gelombang TV, sehingga gambar bisa RCTI tapi suara dari kami. Hebat. Keren. Jagoan! :D
Kalo udah begini, si hacker langsung beraksi. Dengan sigap dia memutar-mutar potensiometer dan obeng, untuk mengkalibrasi kembali si alat.
Kami pun kerap kali kesetrum itu alat. Gak besar sih tegangannya, cuma ya bikin kaget aja. Biasanya kalo pas hendak menyetel mixer agar suara penyiar fade-out dan lagu fade-in dan sebaliknya, ketika si alat dalam kondisi tidak grounding.
"Baiklah, mari kita simak lagu berikutnya.. Jambu! Aduh kesetrum!", umpatan dan makian kadang secara refleks terucap dan menjadi bumbu-bumbu siaran kami karena greng-greng kesetrum tadi.
Lagu-lagu didapat dari kepingan VCD karaoke. Jaman itu, VCD player belum mampu memutar CD MP3. Untungnya, VCD teman saya itu yang mempunyai 3 tempat cakram dalam satu tempat, sehingga kita bisa memutar 3 CD secara berurutan tanpa perlu mengganti CD.
Lagu yang disetel juga tergantung dari ketersediaan keping CD/VCD. Tidak ada itu yang namanya music director, atau apa itu istilahnya, yang menyiapkan playlist lagu yang akan diputar sehingga si penyiar tinggal memutar lagu.
Akibatnya, tak jarang kami salah memutar lagu. Sebelum lagu diputar, kami menjanjikan lagu dari grup musik Padi. Eh, pas dipencet tombol play, yang keluar lagu dari Dewa. Tak kurang akal, kami pun menutupi kesalahan dengan, "yak, itu tadi lagu dari Padi yang dibawakan oleh Dewa.."
Radio kami pun makin lama makin populer. Pendengarnya lalu beragam, tidak hanya kalangan sesama, bapak-bapak dan ibu pun mulai merekues melalui telepon rumah. Di sekolah, kami pun berkoar-koar mempublikasikan frekuensi radio kami: 92 FM. Secara teoritis, memang pemancar radio kami bisa menjangkau hingga radius 4-6 km.
Ide dagang pun terbersit. Kami pernah membuat dan menjual kartu rekues (kartu yang isinya dari-kepada-pesan untuk berkirim-kirim salam), yang uangnya nanti bisa dipakau buat membeli CD/VCD baru, namun ternyata harus kandas karena ternyata tidak ada yang mau beli. :))
Hingga akhirnya, ada kejadian memalukan yang akhirnya menjadi momen kehancuran radio kami. Ini disebabkan oleh VCD player maksiat tadi. Pas hendak menyetel lagu, kok lama sekali suaranya tidak keluar. Sayup sayup lirih banget. Penasaran, volume dari player pun diputar ke angka besar dan akhirnya terdengarlah apa yang terjadi..
"Uhh.. oh.. yeah.. God.. yes.. aahh.. yes beibi.. awrghhh...," suara rintihan dan lenguhan yang ternyata dari VCD bokep yang lupa dikeluarkan dari player pun tersiar dan terkirim ke penjuru perumahan melalui frekuensi radio.
Sejak saat itu, kejayaan radio Wemble FM (nama radio kami) pun berakhir.
Tag: Radio, pengalaman
Terkait:
-
Orgasme ala Hardrock FM
Rabu, 7 Sep '11 13:45 -
Radio Streaming (hampir) Segala Genre
Rabu, 2 Jun '10 18:01 -
Gamila Oh Gamila
Sabtu, 16 Jan '10 13:01
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
honeylizious: yoi banget
-
sandi: kocak
-
warm: kocak
-
AndriaGutama: kocak
-
deadeye doll: kocak
-
fadex: kocak
-
Titiw : kocak
-
sari indah: kocak
-
Sabai: yoi banget
-
Bieb: kocak


Komentar:
dan endingnya dramatis....
pasti booming kayaknya
*ngakak lagi*
Silahkan login untuk memberikan pendapat