Kita Memang Berbeda 7
Rabu, 6 Okt '10 15:48
Beberapa hari terakhir, banyak sekali posting selebritas tentang kekerasan akibat orientasi seksual seseorang. Pemicunya adalah bunuh diri yang dilakukan beberapa remaja—tentu saja di luar negeri—akibat kekerasan yang mereka terima.
Beberapa nama remaja yang disebutkan antara lain Seth Wals, Billy Lucas, dan terakhir Tyler Clementi. Seorang remaja 18 tahun yang bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan. Dia nekad bunuh diri setelah dua temannya secara diam-diam memvideokan aktifitas seksualnya.
Mereka bunuh diri karena tidak tahan dicemooh, diejek oleh orang-orang yang mengaku sebagai ‘teman’. Orang yang seharusnya melindungi, menjadi tempat curhat, justru menjadikan remaja-remaja itu sebagai obyek kekerasan karena orientasi seksual mereka.
Kini, kaum selebritas ramai-ramai yang meminta dihentikan kekerasan. Lebih ditekankan lagi kepada kekerasan akibat orientasi seksual seseorang. Mulai dari, Daniel Radcliffe Lance Bass, Nate Berkus, dan lain-lainnya sepakat bahwa teman harus saling menerima, tanpa peduli kondisi mereka. Bahkan, gosipnya, serial Glee akan menayangkan episode dengan tema tersebut.
Di Indonesia Raya ini juga ada sejumlah kekerasan yang terjadi karena tidak sanggup menerima perbedaan. Yang teranyar saja, Q festival dan Tifatul Sembiring.
Saya ngeri kalau ingat bagaimana FPI mengobrak-abrik pelaksanaan Q Festival. Mereka menuding, Q Festival memutar film gay. Aparat juga berkelit dari tanggungjawab dengan alasan panitia pelaksana tidak mengantongi izin.
Kemudian yang teranyar, tweet ga penting dari Tifatul Sembiring. Orang yang menjabat sebagai Menkominfo itu mentweet enam hal tentang HIV/AIDS. Salah satunya, menyatakan penyebab HIV/AIDS dari kaum gay meningkat tajam. Sudah ga penting, tweetnya tidak berdasarkan data pula.
Rasanya, kedongkolan saya kepada bapak yang satu ini sangat pol. Tidak sabar menanti dia turun dari jabatannya. *Loh, tambah OOT*
Kembali lagi ke inti tulisan, bahwa Tuhan menciptakan semua makhluk hidup dengan warna dan cerita yang berbeda-beda. Perbedaan itulah yang membuat kehidupan menjadi indah dan tidak membosankan.
Saya juga sepakat, bahwa berteman harus ikhlas. Tanpa peduli ras, agama, atau orientasi seksual seseorang. Sesulit itukah?.
Tag: Gay, perdamaian, anti kekerasan
Terkait:
-
Lady Gaga Tabu di Malaysia
Kamis, 17 Mar '11 13:15 -
Jihad For Love
Kamis, 1 Okt '09 00:07 -
Q! Film Festival : 26 Juli - 5 Agustus 2009
Selasa, 28 Jul '09 16:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sofie: yoi banget
-
AndriaGutama: yoi banget
-
Titiw : nggak ada matinya


Komentar:
Rohani syawaliah : saya juga sering 'mati angin'
Silahkan login untuk memberikan pendapat