Zombie di Media Populer 13

Senin, 4 Okt '10 09:30

Saya sangat menyukai zombie diantara genre-genre horror dan thriller lainnya. Zombie pada awal kemunculannya di film adalah manusia yang sudah mati kemudian hidup lagi menjadi mayat hidup. Makanan kesukaan zombie klasik ini adalah otak manusia yang masih hidup. Zombie ini berjalan lambat, berkelompok, dan tentu saja bau karena pembusukan yang terus terjadi. Orang mati memang busuk, tapi koruptor sih tetap wangi karena bisa beli parfum-parfum mahal kesukaannya. Makanya saya lebih suka zombie daripada koruptor.

Anyway, pada awalnya cerita zombie berbau supranatural. Zombie-zombie bangkit karena mantra khusus atau bisa juga karena sesuatu ramuan yang sudah dijampi-jampi. Mayat-mayat di kuburan pun bangkit dan mulai lapar mencari otak manusia yang masih hidup. Cih, padahal otak itu mahal harganya kalo di Kedai Sop Kambing. Film-film zombie klasik juga pada awalnya berbudget rendah dan sangat mengandalkan make up dan prostetik lainnya.

Zombie pada masa itu bergerak amat lambat atau sluggish dan kadang-kadang dibumbui sedikit kejang-kejang. Untuk membunuh zombie jenis ini, agak sulit. Hancurkan kepalanya. Boleh ditembak, dikepruk, dipenggal, ditusuk pakai tombak, di shotgun sampai kepalanya pecah, dan sebagainya. Alasannya sederhana, otak primitif atau naluri menjadi andalan zombie-zombie itu untuk bergerak, jadi untuk memusnahkannya ya hancurkan kepalanya. Lagipula jantungnya kan sudah tidak bergerak.

Tapi itu dulu, zombie sekarang lebih keren lagi dan konsepnya sudah banyak berubah. Bahasa kerennya berevolusi. Zombie bukan lagi mayat hidup seperti kebanyakan film-filmnya George A. Romero. Zombie juga sudah tidak lagi bergerak lambat macam siput. Kalau Dian Sastro di AADC bisa bilang ke Zombie, mungkin doi bilang: "Kamu tuh udah berubah.." dengan aksennya yang imut.

Zombie modern punya plot yang sedikit kompleks dan berbau fiksi ilmiah. Supranatural mulai ditinggalkan. Asal muasal zombie pun kebanyakan selalu dikaitkan dengan virus, bakteri, dan penyakit-penyakit microkosmik lainnya. Jika zombie dulu adalah mayat hidup, sekarang zombie tidak selalu mayat hidup. Di 28 Days Later dan sequelnya Weeks Later, zombie yang berkeliaran adalah manusia hidup yang terjangkit penyakit "rage", penyakit yang tidak ada obatnya, menyebar dengan cepat dan membuat manusia menjadi liar dan ingin saling memakan. Kalau di sini kita mengenalnya dengan PMP (Pren Makan Pren). Iya, mereka saling memakan.... literally. Karena mereka sebetulnya manusia yang masih hidup dan memiliki organ-organ yang masih berfungsi, membunuh zombie jenis ini lebih mudah. Kita bisa membunuhnya layaknya manusia hidup biasa. Tembak di dada, kaki, kepala adalah beberapa cara populer untuk membunuh zombie jenis ini.

I Am Legend juga menawarkan zombie yang sedikit berbeda. Sepanjang sejarah perfilman zombie, I Am Legend mungkin yang paling mahal. Mengosongkan kota dan menambahkan detail aging (penuaan) di tiap sudut kota dengan CGI menjadi alasan utama mengapa film ini begitu mahal. Of course, Will Smith juga konon bayarannya mahal. Di film ini, zombienya lebih mirip vampir. Zombie yang hanya berkeliaran di malam hari ini disebut hemocyte (disebutkan di subtitle resminya pada scene ketika Will Smith menerjang tembok kaca untuk keluar dari bangunan setelah menyusul Sam). Hemocyte ini merupakan hasil dari mutasi virus yang pada awalnya digunakan untuk menyembuhkan kanker. Seperti juga zombie modern, pada dasarnya manusia yang menjadi zombie bukan mayat. Mereka adalah manusia yang terjangkiti virus mematikan dan mengubah fisik dan kepribadian manusia.

Sebetulnya alasan zombie modern dibuat adalah untuk menciptakan subplot tentang kerasnya bertahan hidup. Jika zombie bisa berlari akan ada subplot keren kejar-kejaran di gang sempit yang super tegang. Jika zombie lebih agresif, pasti ada subplot baru tentang para survivor yang tidak akan berleha-leha dan cengegesan membasmi zombie.

Zombie modern banyak yang pro dan kontra. Yang satu bilang, nggak realistis dan yang lain bilang nggak orisinil. Ada juga yang bilang zombie modern kurang mencekam. Tapi sebetulnya cerita zombie menurut saya bukan di zombie dan darah-darah atau slashernya. Cerita zombie sesungguhnya adalah bagaimana tatanan sosial dan peradaban yang sudah dibentuk manusia hancur karena epidemi yang tidak bisa dihentikan oleh siapapun. Politik, kekuasaan, dan uang sudah tidak berguna lagi. Bertahan hidup menjadi prioritas nomor satu dan manusia yang terdesak akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup dengan membuang jauh-jauh nilai-nilai moral yang sudah lama dipegangnya baik-baik.

Jadi... siap-siaplah, siapa tahu zombie akan menyerang Jakarta... COOL ABIES kalo itu terjadi.

 


Tag: Film, zombie

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

honeylizious 0 0
cool abies tuturan kamu tentang Zombie... saya juga penggemar film zombie, mau yang pra-sejarah atau masa sekarang... saya nggak pernah mempermasalahkan peralihan mereka. toh yang buat filmnya juga bukan bokap kita yang kalo kita mau tinggal bilang, "Pa, zombienya jangn yang ituuuu." *mulutMonyong
ibhe 0 0
Kalau Dian Sastro di AADC bisa bilang ke Zombie, mungkin doi bilang: "Kamu tuh udah berubah.." dengan aksennya yang imut.
ibhe 0 0
kocak banget dah pake bawa-bawa distro segala : p

Iya nih, Zombie ini nggak pernah bikin bosen! Mau zombie yang larinya cepet kayak yang dipelopori oleh 28 days Later lalu dipanasi oleh Dawn of the Dead-nya Zack Snyder. Atau Zombie-nya Romero yang bergerak perlahan tapi mematikan yang kadang disertai dengan sedikit kejang. Mereka tetap fun to watch : )

Oh, jangan lupa juga sama Zombies buatan luar hollywood seperti La Horde, Mutants, atau rec. saya pernah nonto film zombie buatan jepang, sih. lupa judulnya apa tapi langsung saya stop baru seperempat filmnya berjalan, jepang belum bisa bikin sesuatu yang gore tanpa melibatkan samurai atau martial art : p tapi mereka, film yang saya sebutkan diatas lumayan bisa menghilangkan kejenuhan sama zombie hollywood, loh : )

Selain make-up dan budget tinggi, seperti yang udah dituliskan oleh penulis. Yang menarik dalam film zombie adalah adanya konflik diantara para survivor. Mau stay dan menunggu bantuan datang sementara persediaan makanan semakin menipis atau keluar dan menolong diri sendiri dengan bersenjatakan perkakas asal-asalan dan tentunya satu SHOTGUN (senjata wajib dalam film zombie : p ) yang mereka gunakan untuk membela diri baik dari zombie atau manusia yang belum terkontaminasi.


Iya, film zombie nggak pernah membosankan buat saya. ini tulisan bagus ini. boleh banget di publish juga ke BF. ya nggak mas? : D
sandi 0 0
"Jadi... siap-siaplah, siapa tahu zombie akan menyerang Jakarta... COOL ABIES kalo itu terjadi."

yup, menurut sumber yang bisa dipercaya Jakarta tahun depan akan diserang zombie dalam bentuk Festival Film Zombie (seriously)

oya,.. saya kok ga suka 28 Days Later? mbosenin.
Lagi demen yang comedy-zombie sperti Shaun of the Dead sama Zombieland
ibhe 0 0
sandi: Festival Film Zombie?? Serious *pake gaya chincha lowra*?? bikin artikelnya dong, please : D kalonggak, linknya deh : ) *pemalas : p*
to Ra nt 0 0
sandi: [Shaun of the Dead] You sir, are made of sheer awesomeness.
Titiw 0 0
Anjriiit.. Hahha.. tadi siang baru aja aku ngomong sama mas sandi, "Mas, kayaknya kamu cocok deh temenan sama apy maupun ibhe. Mereka sama penggemar anime, slasher, zombie, dan kawan2nya.. ehhhhhh.. tiba2 ada review ini.. Hahahah.. *OOT*
apy 0 0
ibhe ah tentu saja tulisan ini boleh di post dimana2 hehehe. @sandi senang punya teman2 pencinta zombie, gimana kalo sekali2 kita bikin zombie walk di jakarta.
AndriaGutama 0 0
Hahaha bahasan yg benar-benar menarik mengenai zombie!
Sayang sekali saya gk pernah terlalu suka ama film2 yg ada zombie nya =))
honeylizious 0 0
AndriaGutama: knp nggak suka?
AndriaGutama 0 0
honeylizious: Karena zombie menjijikkan =((
honeylizious 0 0
AndriaGutama: oh saya juga nggak suka zombie tapi film ttg zombie sepertinya menyenangkan
sandi 0 0
apy: ide brilian..!!
trus nanti zombie-zombienya nari dgn gerakan ala Thriller : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat