Story of Peter di Dinding Diam-diam Merayap 6

Minggu, 26 Sep '10 09:17

Sesosok bayangan berkelebat di dinding kamar saya. Agak waswas, saya menyalakan lampu kecil di sisi tempat tidur. "Siapa itu ...?" tanya saya dengan suara gemetar. Tak ada sahutan. Namun bayangan itu berkelebat lagi. Dan lagi. Dan lagi. Akhirnya ia tak lagi terlihat menakutkan. Kewaspadaan saya mengendur.

Kelebat-kelebat itu merayap dan menyampaikan tujuh cerita sedih. Dengan tangkas ia bermain dengan berbagai elemen sehingga menjadi teater yang mengusik emosi. Ambil contoh dalam Fighting Club. Dibuka dengan melodi satir, iringan chord minor putus-putus dalam piano, dan kalimat yang jadi terasa sinis karena musik yang disandingnya,

"We are happy family, we don't think to equally"

Di tengah-tengah lakon, musik tiba-tiba berhenti. Masuklah drama percakapan di telpon yang hanya memperdengarkan suara aku lirik sebagai salah satu pihak. Ketika emosi memuncak, perlahan dan fade in musik kembali membangun suspense sampai akhirnya terbit utuh dalam tempo yang lebih lambat. Lelah. Tetapi marah.

Kelelahan dan kemarahan serupa hadir dalam Cut and Paste. Meski disampaikan dengan lebih empuk, ada bagian yang juga hadir dalam tempo lebih lambat,

"There is something in your mind, force my every single line
Should I dancing in your stage, just like your cat in your cage ...."

... dan jika diperhatikan lebih saksama, pada bagian tersebut vokal seperti dimuntahkan dari tape recorder.

"Siapa kamu sebetulnya?" tanya saya sambil mengusap bayangan yang merayap di dinding. Tetapi bayang adalah bayang. Ia hanya refleksi dari benda yang entah seperti apa bentuk aslinya. Yang lahir dari love-hate relationship-nya dengan cahaya dan imaji kita. Yang kemudian memainkan perannya di dinding sebagai cerita.

Seluruh lakon ditutup dengan lagu recycle Perjalanan. Seperti dalam Bilur, bayang-bayang ibu dan kesepian hadir di sana. Sepi karena bayang-bayang memang membangun bentuk namun legam tanpa corak. Tahu-tahu saya merasa ada ruang kosong di antara jantung dan perut saya.

"Tidur, ah," gumam saya. Saya pun mematikan lampu. Membunuh cahaya. Membunuh bayang-bayang di dinding.

Suara jangkrik dan detik konstan merayap. Kesadaran saya tak mau lelap. Ruang kosong di antara jantung dan perut saya menyala bersama bayang-bayang lakon Sarasvati yang ternyata telah pindah ke sana. Lalu bagaimana menyuruhnya berhenti jika saya tak tahu di mana letak saklar jantung dan perut saya?

 


Tag: musik, indie, review, homogenic, risa saraswati, sarasvatimusic

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Titiw 0 0
Oh iya, ini ya Risa Sarasvati mantan personel homogenic yang solo karir.. Liat dari review2 orang sih katanya "beda". Jadi penasaran.. Nice writing anyway.. : )
sandi 0 0
hooh... artikelnya bagus : )
honeylizious 0 0
suka banget sama lagunya Sarasvati, horornya indonesia banget dan yang pasti gak kacangan, gak meniru2 orang yang sedang booming
Sundea 0 0
Titiw : Iya, beda. Tipenya sangat loncat dari Homogenic kecuali satu lagu, "Cut and Paste". Keren banget, Tiw, teatrikal sekali. Tiap lagu bercerita secara utuh ...

Titiw dan Mas @sandi : Terimakasih : )

honeylizious: Betul. Soalnya horornya dia "personal". Dia sendiri emang bersahabat betulan sama hantu. Orang ini ajaib sekali, deh ...

sofie 0 0
pertanyaan yang sama kayak di efbe. ini saras yang dosen filsafat bukan *gak gaul gak kenal homogenic* : D
Sundea 0 0
sofie: Klo Saras itu sekarang masih ngajar, kayaknya sih bukan, soalnya Risa yg ini kalo nggak salah sekarang di Auckland.

Mungkin yg ngajar filsafat Saras 008? Krn itu jaringan telpon di Indonesia, Saras 008 pasti harus tetep di Indonesia =D

Silahkan login untuk memberikan pendapat