Review SANG PENCERAH 7

Minggu, 5 Sep '10 05:50

Setelah dua hari lalu menghadiri gala premier DARAH GARUDA di XXI Epicentrum, saya kembali lagi mengunjungi XXI Epicentrum untuk menghadiri gala premier SANG PENCERAH yang diputar jam 20.20.

Muhammad Darwis (Ihsan Taroreh) dilahirkan di daerah Kauman, Yogyakarta pada tahun 1868. Kala itu, Islam banyak dipengaruhi tahayul dan mistik. Kata-kata Sultan juga dianggap sabda Tuhan. Meskipun sering dimarahi ayahnya (Ikranagara) karena kerap berpikir kritis, Darwis muda tetap berniat membuat perubahan. Setelah berdiskusi dengan paman sekaligus calon mertuanya (Sujiwo Tejo), Darwis pergi belajar di Mekah. Sepulangnya Darwis, namanya telah berubah menjadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Tak lama, beliau juga menikahi Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca).

Ahmad Dahlan memulai perubahan dengan mengubah arah kiblat di Mesjid Besar Kauman. Perubahan demi perubahan membuat marah Kyai Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) yang sangat menjaga tradisi. Akibatnya, langgar (surau) warisan ayah Ahmad Dahlan dirobohkan.

Setelah membangun kembali suraunya, Ahmad Dahlan bergabung dengan Boedi Oetomo. Dengan tujuan memperkenalkan Islam ke kalangan anak-anak priyayi, beliau juga mulai mengajari anak-anak bangsawan pribumi di sekolah Belanda. Pakaian baratnya yang menyesuaikan dengan lingkungan sekolahnya itu membuat beliau dianggap kafir.

Setelah Ahmad Dahlan memutuskan untuk mendirikan Muhammadiyah, kesalahpahaman Kyai Kamaludiningrat makin mempertajam permusuhan terhadap Ahmad Dahlan dan murid-muridnya.

Film ini memakai penyelesaian yang amat sederhana, yaitu Kyai Kamaludiningrat yang insyaf akan kekhilafannya. Mungkin, ini merupakan cara Hanung, sebagai penulis, untuk menunjukkan bahwa masalah besar seringkali terjadi karena kesalahpahaman atau ketidakpahaman sepele orang-orang berkuasa yang mengaku paham. Para pemimpin bukanlah manusia sempurna dan tidak luput dari khilaf.

Lukman Sardi sangat matang dan meyakinkan. Lalu, sebagai anak maestro biola Indonesia, Idris Sardi, dia menunjukkan sedikit kebolehannya dalam sebuah perumpamaan bagus mengenai agama. Zaskia Adya Mecca terlalu banyak diberi porsi adegan menangis yang monoton, meskipun memiliki beberapa momen bagus. Slamet Rahardjo sangat berwibawa sebagai kyai penjaga tradisi di Kauman. Agus Dwi Kuncoro sebagai kakak ipar Ahmad Dahlan sekaligus lurah juga bermain bagus. Giring Nidji juga menunjukkan kebolehan aktingnya di sini.

Dari segi tata rias, agak membingungkan melihat Ahmad Dahlan, yang berumur 44 tahun di akhir film, memiliki begitu banyak rambut putih di janggutnya. Perubahan Ihsan Idol menjadi Lukman Sardi juga sempat terasa aneh, meskipun masih lebih aneh perubahan Joshua Suherman menjadi Dennis Adhiswara.

Ilustrasi musik Tia Subiyakto menyentuh. Lagu "Lir ilirrrr.. lir iliiirrr.." pastinya juga akan terngiang-ngiang di kalbu.

Durasi dua setengah jam terkadang terasa di beberapa adegan, tapi ada beberapa dialog dan diskusi menarik yang bisa jadi bahan pemikiran bagi semua orang secara umum, terlepas dari apa agama kita. Dan juga ada sentilan-sentilan bagi orang-orang Muhammadiyah yang malah lebih getol berpolitik dibanding bergiat di bidang pendidikan.

Film ini mungkin salah satu calon kuat Film Terbaik FFI. Pertanyaannya, apakah Multivision Plus akan menyertakan film ini di FFI?

Poster film ini diambil dari sini.

 


Tag: Film, Hanung Bramantyo, resensi, movie, review, religi, agama, ulasan, epicentrum, muhammadiyah, pahlawan, lukman sardi, slamet rahardjo

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

fairyteeth 0 0
nyahaha... sutradara nya hanung kan ini ya? bini nya ikutan main ternyata ; ))

kata Nugros sih bagus, e tapi doi kan ass. sutradara nya kan yaaaa ; ))

tapi kalo baca review mu sih emang keren yaaa
aji aditya junior 0 0
Nonton ah,....sang pencerah adalah obsesi lama Hanung bikin film religi sebelum dia akhirnya membuat ayat2 cinta. Ngingetin sama obsesi kingkong nya Peter Jackson . Semoga ga mengecewakan, karena saya denger ini film idealismenya Hanung
sofie 0 0
hihihi, porsi saskia banyak? karena sutradaranya hanung? eh tapi gambar posternya bagus. kl produksinya mvp pasti ceritanya bakal dibikin sederhana #sokyakin : D
AndriaGutama 0 0
Kenapa yah dil film-film Indonesia yg 'berbobot', selalu adaaaa Lukman Sardi ???? Hehehe : ))
kmonoarfa 0 0
heuu jadi penasaran.. abis lebaran masih ada gak yaa? : D
Titiw 0 0
Barusan nonton.. Aaah.. film ini bagus sekali.. beyond my expectation. Dan ya.. kudos untuk tya subiakto. Lagu lir ilir saksees bergaung setelah film. Eh, masa sih film ini 2,5 jam? Gak terlalu berasa loh.. Yang kau suka juga warna2 di film ini.. abu2.. senja.. namun tetap menggambarkan semangat.. Halah.

Anyway.. dari film ini juga aku belajar sejarah dengan cara yang tidak menggurui. Gak sia2 ngantor di jalan ahmad dahlan yang depannya kampus muhammadiyah.. *OOT*

PS: Zaskia jeleek aktingnyaa!! Untuk setting jawa yg orang2nya pada medok, dia gak berusaha sedikitpun untuk menggali karakternya!! CIH!
Bieb 0 0
hahahah...mentang2 yg menyutradarai adl si Hanung, makanya si saskia yang dipke ya...??
Saya sih ud denger lama kalo dy yg bakalan jd (saskia).
Tapi sangat berharap klo bukan dy. hihihihi.
Walaupun kadang ngeluh "lukman sardi lagi..lukman sardi lagi". tapi pas liat aktingnya yg selalu totalitas, saya sgt suka : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat