Review DARAH GARUDA 11
Jumat, 3 Sep '10 04:15
Ketika ditawarkan undangan menonton premier DARAH GARUDA di Menara Epicentrum oleh Pak Budi Ros, saya langsung mengiyakan saja. Meskipun banyak kekurangannya, film MERAH PUTIH merupakan film perang kemerdekaan yang tergolong kolosal. Harapan saya, karena film ini sudah dirancang sebagai bagian dari sebuah trilogi, sekuelnya tentu bisa lebih baik dari pendahulunya.
Sebelum jam 8 malam, pintu studio 1 (menayangkan film dengan subtitel Inggris) dibuka. Penonton pun berebut masuk. Tak lama, pidato sambutan Pak Hasyim Djojohadikusumo serta perkenalan para pemain disambung dengan menyanyikan INDONESIA RAYA versi tiga bait dipandu oleh kelompok Cantate Domino. Setelah itu, film pun diputar.
Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Marius (Darius Sinathrya) dan Dayan (Teuku Rifnu Wikana), dengan menyandera Mayor Van Gaartner (Rudy Wowor), berhasil menerobos pos penjagaan Belanda. Setelah menolong istri Amir, Melati (Astri Nurdin), serta Senja (Rahayu Saraswati) dan Lastri (Atiqah Hasiholan) dari tahanan Belanda, rombongan ini berhasil mencapai markas Jenderal Sudirman, dibantu oleh Sersan Yanto (Ario Bayu) dan Budi (Aldy Zulfikar).
Di situ, mereka diberi tugas oleh Mayor Fadli (Budi Ros), untuk menguasai atau menghancurkan landasan terbang milik Belanda. Maka, perjuangan para prajurit muda ini kembali berlanjut. Tapi, seorang pengkhianat mengintai dari dekat. Bagaimanakah akhir kisah film ini?
Tidak banyak yang berubah, kelemahan bahasa pada naskah yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ke Indonesia membuat beberapa kalimat terdengar janggal bagi logika Indonesia.
Misalnya, apakah orang Indonesia akan berkata pada dirinya sendiri, "Tenang, Marius, tenang. Semuanya terkendali"? Sebuah nuansa yang sangat akrab dengan bahasa Inggris, terutama Inggris Amerika.
Para pemain sudah berusaha dengan berimprovisasi di lapangan dengan mencari kalimat yang lebih mengena dan masuk ke logika pengucapan Indonesia, tapi dengan cetak biru (naskah) yang sedemikian semrawut, akhirnya banyak kalimat aneh berseliweran.
Permainan Rahayu Saraswati sebagai Senja belum terlalu banyak berubah. Setiap dialog bahasa Indonesia yang baku diucapkan dengan kaku. Meski begitu, porsi dialognya berkurang sehingga tidak terlalu mengganggu.
Lalu, kesimpulan utama film ini adalah, Belanda tidak tahu cara merekrut tentara. Ada sebuah adegan di mana Amir baku tembak dengan 5-6 tentara Belanda di lapangan terbuka, tanpa berlindung sama sekali. Amir tidak terkena peluru satu pun, padahal jarak dengan musuh lumayan dekat. Bagi saya, hal ini menimbulkan kelucuan (yang tidak disengaja).
Kelebihan film ini, musik yang digarap Thoersi Argeswara, permainan Lukman Sardi dan Teuku Rifnu Wikana yang menonjol, ditambah pemunculan beberapa aktor kuat seperti Budi Ros, Ario Bayu dan Alex Komang sebagai seorang Kyai anti Belanda. Duet sutradara Yadi Sugandi dan Conor Allyn patut diberi pujian atas upaya mereka menyajikan beberapa ledakan dahsyat yang jauh lebih spektakuler daripada film sebelumnya. Dan duet produser Hasyim Djojohadikusumo dan Rob Allyn juga cukup berani keluar ongkos untuk film ini.
Saya tidak tahu apakah di Indonesia film ini akan dirilis dengan versi subtitel Inggrisnya, tapi terkadang saya jadi membandingkan pengucapan di film dan subtitelnya. Saya berusaha menebak-nebak. Apakah para aktornya sedang berimprovisasi? Atau mereka sekadar mengucapkan naskah terjemahan yang bahasa Indonesianya terkadang kaku itu?
Jam 10 lewat, sebelum pulang, sempat berbincang-bincang dengan Pak Budi Ros dan Pak Alex Komang, terutama mengenai beragam masalah perfilman Indonesia dewasa ini. Tapi itu akan menjadi tulisan yang lain lagi.
Gambar poster diambil dari sini.
Tag: Film, resensi, movie, review, Merah Putih, Darah Garuda, perang, ulasan, epicentrum
Terkait:
-
Review SANG PENCERAH
Minggu, 5 Sep '10 05:50 -
Real Steel: Drama Tinju Robot
Senin, 31 Okt '11 01:31 -
Review GROWN UPS
Selasa, 7 Sep '10 18:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
maharrani: jadi penasaran
-
fairyteeth: jadi penasaran
-
imancinderamata: keren
-
Titiw : jadi penasaran
-
sofie: nggak ada matinya

Komentar:
Dan, kalau gak salah liat, ada juga bintang iklan sebuah produk rokok yang terkenal dengan ucapan "Mana ekspresinya?" muncul sebentar sebagai prajurit Belanda di pos penjagaan.
Tapi, akhirnya, inilah pilihan SDM lokal yang terbatas (atau casting directornya gak mau susah).
Tentang film ini..hmm..penasaran sih, Tapi aku nggak akan sampai pengen nonton gitu. Mungkin kalau diputar di TV lalu pas lewat di depannya, nah baru deh nonton..
Btw, kayaknya aktor yg ke belanda2an selain si bapak yg satu itu, jarang ada bule belanda yg udah berumur dan bisa akting makanya doi laku keras
Silahkan login untuk memberikan pendapat