Konser NUSA SWARA Kua Etnika 4

Jumat, 27 Agu '10 01:29

Rabu, 25 Agustus 2010. Jam 7.30 sudah tiba di Salihara yang ramai pengunjung. Perasaan saya antusias sekali karena akan menonton konser Kua Etnika. Kebetulan malam itu memang harus menemani ortu (supir dadakan). Beruntunglah mereka berdua karena mendapat tiket undangan, sementara putra mereka ini (ditemani sang kekasih) kehabisan tiket. Maklum, kapasitas Salihara kurang lebih hanya 210 kursi. Bahkan Nicholas Saputra saja terpaksa membeli tiket lesehan. Terpaksalah kami mengambil tempat duduk yang cukup dekat dengan proyektor.

(Gara-gara kejadian ini jadi terilhami untuk menulis sebuah kisah fiksi yang saya posting di Curipandang juga, klik saja di sini.)

Layar proyektor yang ditaruh di luar Teater Salihara itu baru menyala sekitar 10 menit setelah pertunjukan dimulai (jam 20.00). Speakernya juga mengumandangkan sedikit dengung sebelum akhirnya suara musik terdengar.

Meskipun menonton di luar, penonton-penonton yang kehabisan tiket ini rela duduk di tangga maupun duduk bersila di lantai. Mereka juga tetap antusias memberi aplaus tiap kali Kua Etnika selesai memainkan satu nomor.

Djaduk Ferianto, sebagai konduktor dan pemain beberapa instrumen, tetap membawa acara dengan humor khas Yogya. Beberapa kali dia bercanda dengan Trie Utami yang enerjik dan juga pemusik lainnya. Gaya jazz pemain drum, gitar dan bas yang dipadukan dengan gamelan dan gending (konon custom made agar nadanya sesuai dengan kebutuhan musikalitas Kua Etnika) kemudian ditingkahi dengan vokal dahsyat Trie Utami dan vokal latar Djaduk sendiri. Sungguh sangat unik. Mungkin ini bisa dibilang The True Java Jazz.

Ada pula adegan para musisi (kecuali Djaduk dan Trie Utami) berjejer sambil memainkan beberapa pemukul kayu, menjadi sebuah runtutan melodi yang ceria. Pokoknya, grup ini sangat tinggi semangat bermain-mainnya, menunjukkan kreativitas tinggi dalam eksplorasi musik mereka.

Acara selesai sekitar jam 10.30, diiringi tepuk tangan riuh para penonton yang merasa terhibur. Penonton bisa membeli CD album Nusa Swara dan beberapa judul lain, serta ada pula pernak-pernik Kua Etnika lainnya. Yang jelas, I feel that I've got my money's worth... Wait... I didn't even pay to see this thing... Yang berarti, konser ini sangat menyenangkan untuk ditonton meskipun hanya dari proyektor.


Tag: musik, konser, salihara, Djaduk Ferianto, Trie Utami, kua etnika, kesenian

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sandi 0 0
keren...!!!
sayang saya ga nonton..

di Kua Etnika ini, masih tercium gaya Teater Gandrik ga?
Rangamaru 0 0
sandi: Mungkin kalo si Om Djaduk lagi ngeguyon pas transisi antar lagu ya? Tapi, karena termasuk penonton gratisan di luar, dialognya kadang-kadang gak kedengeran di speaker...
fairyteeth 0 0
suka sama suara nya trie utami... tapi gak suka jazz. : |
Rangamaru 0 0
fairyteeth: Nggg... ini bisa dibilang jazz, tapi juga bisa dibilang bukan... Jadi... bingung deh ngejelasinnya : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat