THE TRUMAN SHOW : DUNIA IMITASI JIM CARREY 8

Jumat, 20 Agu '10 17:11

 

(Tulisan ini mengandung spoiler, jika Anda belum menonton The Truman Show dan berniat menontonnya, ada baiknya Anda meninggalkan halaman ini)

Setelah bergelimang sukses dalam genre komedi, Jim Carrey mempersembahkan performa terbaiknya dalam film drama satire sarat muatan filosofi arahan Peter Weir. Kombinasi naskah yang cerdas, akting yang kuat, dan penggarapan yang cemerlang menjadikan The Truman Show sebuah masterpiece yang unik. Ini bukan hanya film tentang escape, tapi juga mengenai kebebasan, moralitas, pencarian identitas diri, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Ini cerita tentang kehidupan.

            Truman Burbank hanyalah seorang biasa yang tinggal di kota kecil di Pulau Seahaven, suatu pulau di pinggiran Amerika. Di kota itu, semua begitu teratur, bersih, dan sempurna. Ternyata, dibalik ke"biasa"annya sebagai seorang sales perusahaan asuransi, Truman adalah orang paling terkenal di seluruh dunia. Dan anehnya, Truman tidak menyadari hal tersebut.

            Truman (Jim Carrey) adalah sebuah karakter sentral dalam program reality show TV yang seluruh kehidupannya, detik demi detik, disaksikan berjuta pasang mata di seluruh dunia melalui 5000 kamera. Truman, yang menyandang "kehormatan" sebagai anak pertama yang diadopsi oleh sebuah perusahaan, tidak menyadari bahwa dunianya hanya panggung sandiwara hasil kreasi sang produser acara, Christof (Ed Harris). Thus, kehidupannya hanyalah fiksi belaka. Perusahaan tempat ia bekerja tidak pernah ada. Seahaven, pulau yang indah itu, berikut lautan yang mengelilinginya, termasuk juga matahari, bulan, dan cuaca adalah bagian dari set panggung yang maha besar nan megah. Semua orang dalam kehidupannya -orang tua, istri (Meryl), sahabat (Marlon), tetangga, teman kerja- adalah aktor-aktor yang dibayar dalam drama tersebut.

            Demi menjaga skenario tetap berjalan lancar, ditanamkan phobia buatan pada Truman. Kematian ayahnya yang tenggelam di laut sewaktu Truman masih kecil, meninggalkan trauma yang sangat hebat. Dan ketakutan akan air itulah, plus beberapa poster iklan mengenai bahaya travelling, yang dijadikan peredam jika Truman berniat pergi dari Seahaven. Namun, semuanya berubah sejak ia bertemu -dan kemudian jatuh cinta- dengan Sylvia (Natascha McElhone), seorang aktris bayaran juga yang akhirnya malah jatuh cinta dan merasa iba pada Truman. Gadis itu mengatakan bahwa dunianya hanya imitasi. Hanya show belaka. Itu berarti ada dunia nyata di luar sana. Namun, Truman tidak mengerti maksud Sylvia -karena pola pikir berbeda yang ditanamkan padanya. Yang ia tahu, ada dunia lain di luar sana bernama " Fiji " jika ia ingin bertemu dengan Sylvia.

            Setelah bertahun-tahun menerima dunianya apa adanya, pertemuan dengan Sylvia dan serentetan peristiwa ganjil berikutnya membuat Truman mempertanyakan eksistensi dirinya. Kamera yang jatuh dari langit, persuaan kembali dengan ayahnya yang menjadi tunawisma, malfungsi siaran radio yang menjelaskan tiap detil perbuatannya, rutinitas di lingkungannya, dan tingkah aneh istrinya adalah beberapa blunder dalam reality show ini yang membangkitkan kecurigaan Truman akan dunianya. Mengapa semua orang mempunyai rutinitas? Bagaimana jika ia adalah tokoh utama di dunia ini dan yang lain hanya tokoh tambahan yang bertugas melayaninya? Benarkah ada dunia lain di luar sana? Sederet pertanyaan tersebut selalu menghiasi pikirannya, dan menstimulus semangatnya untuk pergi ke Fiji demi menemui Sylvia. Jawaban aneh dari pihak biro perjalanan dan tingkah istrinya yang semakin ganjil membuat tekad Truman semakin bulat untuk pergi dari Seahaven, sebuah "penjara" ternyaman di dunia.

            Demi obsesinya melarikan diri dari Seahaven, Truman harus menghadapi ketakutannya yang terbesar. Perjalanannya mengarungi laut hampir saja merenggut nyawanya. Namun, setiap usaha pasti ada hasil yang setimpal. Akhirnya, ia menemukan sebuah pintu. Pintu yang ia pikir tidak pernah ada.....

            The Truman Show, meski sarat dengan isu-isu satire, agama, dan filosofi, bukan melulu film yang serius. Penampilan kocak Jim Carrey yang dibayar $12.000.000 dan humor-humor non-slapstick kadang masih muncul. Kontrasnya tingkah laku Truman yang lugu dan kepura-puraan semua orang di sekitarnya yang secara susah payah menjaga dunia maya Truman, merupakan sumber humor itu sendiri. Perpaduan antara serius dan humor dalam satu pigura inilah yang membuat The Truman Show sangat renyah untuk disimak. Penggunaan dialog-dialog yang berisi menambah kenikmatan dalam menonton film ini, mengingatkan kita pada  film art nan inspiratif karya Peter Weir sebelumnya, Dead Poets Society (1989). Faktor lain dari menariknya film ini adalah visualisasi Seahaven yang rapi, bersih, dan sempurna, yang tidak merepresentasikan tipikal kota kecil Amerika, meskipun faktanya, setting-nya adalah di tempat yang nyata, yaitu di Seaside, Florida. Dengan penggarapan seperti ini, kekhawatiran sebelumnya bahwa film ini tidak akan balik modal, musnah sudah. Perolehan $125.600.00 di Amerika Serikat dan $264.000.000 di seluruh dunia sudah lebih dari cukup untuk menambal bujet $60.000.000.

            Secara keseluruhan, film yang dinominasikan sebagai film terbaik di ajang Academy Awards 1998 -namun kalah dari Shakespeare in Love- ini sangat funny, menyentuh, dan bahkan menyedihkan. Kita merasa kasihan pada Truman namun tidak bisa berbuat apa-apa ketika ia menyadari bahwa dunia ini tidak seperti yang ia kira. Rasa simpati kita pada Truman membuat ending film ini begitu emosional. Sebuah finishing sempurna untuk sebuah film brilian. Ending ini selain menyenangkan bahwa Truman akhirnya bisa mengetahui dunia luar, sekaligus juga menyedihkan karena belum tentu dunia barunya itu lebih baik daripada dunianya di dalam dome raksasa. Yang agak menyedihkan, di akhir film begitu Truman berhasil keluar dari dome, seorang petugas keamanan penggemar "The Truman Show" dengan santainya bertanya pada rekannya, "So what else is on?" Kehidupan Truman, setelah hampir selama 30 tahun menjadi program favorit, tidaklah lebih berharga daripada sebuah tombol di remote control. Ini secara tidak langsung merepresentasikan moral dari masyarakat televisi generasi sekarang yang menganggap tontonan hanyalah tontonan, bukan tuntunan atau suatu hal yang harus diambil hikmahnya.

            Bagusnya penyajian The Truman Show harus berhutang pada Jim Carrey, Ed Harris, sutradara Peter Weir, dan penulis skenario Andrew Niccol. Jim Carrey adalah setengah nyawa film ini. Ia adalah pilihan paling tepat untuk karakter Truman Burbank yang mengundang simpati penonton. -seperti halnya Tom Hanks dalam Forrest Gump (1994). Performa yang mantap -kadang komikal dan kadang dramatis- dalam karakternya yang sentral membuat keraguan penikmat film mengenai kemampuan akting Carrey sirna. Kita dibuat terkesima dengan penampilannya, sama seperti fans dari reality show itu sendiri. Aktor kelahiran Ontario, Kanada, pada 17 January 1962 bernama lengkap James Eugene Carrey ini membuktikan bahwa kesuksesan aktingnya tidak melulu melalui genre komedi murni saja. Garansi yang selanjutnya dibuktikan oleh si muka karet dalam Man on the Moon (1999), The Majestic (2001), dan film brilian Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004). Berkat penampilan apiknya, Carrey diganjar penghargaan Golden Globe. Sayang, piala Oscar tidak mampir pada aktor yang angkat nama lewat Ace Ventura: Pet Detective (1994) ini. Pihak juri Academy Awards lebih terkesan dengan Roberto Benigni dalam peran sebagai ayah yang harus berpura-pura pada anaknya dalam Life is Beautiful

            Mungkin benar bahwa film ini adalah one man show oleh Jim Carrey. Namun, jangan kesampingkan pula peran Ed Harris, Laura Linney, dan Noah Emmerich sebagai bintang-bintang pendukungnya. Ed Harris adalah aktor yang selalu bagus dalam perannya sebagai karakter antagonis. Tapi di sini, aktor yang pernah merangkap sebagai sutradara dalam Pollock (2000) ini benar-benar bagus. Bahkan, pihak juri Golden Globe sangat terkesima dan menjatuhkan gelar aktor pendukung terbaik pada Harris. Namun sayang, -idem dengan Jim Carrey- Ed Harris harus kalah dari James Coburn (Affliction) dalam ajang Academy Awards. Sebuah hasil kontroversial yang bisa diperdebatkan. Permainan Harris memang sangat ciamik dalam perannya sebagai Christof yang arogan dan keras kepala. Ia berpikir bahwa ia paling tahu apa yang terbaik bagi Truman. Ia menciptakan utopia bagi Truman dengan mengontrol semuanya, mulai dari perbuatan penduduk kota Seahaven, sampai detail cuaca: kapan ada hujan, badai, matahari terbit, dan lain sebagainya. Ia adalah "tuhan" bagi dunia Truman ciptaannya yang menjadi fenomena dalam dunia nyata. Seorang mastermind yang menawarkan dunia yang aman, dunia tanpa kejahatan. Namun, di luar semua itu, Truman menginginkan sesuatu yang lebih berharga: kebebasan, meski untuk itu risiko besar harus ditempuhnya. Ia tidak ingin lagi menjadi pion dalam permainan ini. Dan ketika "anak"nya mulai memberontak, Christof mulai murka dan menjadi diktator yang melakukan segala cara demi keutuhan dunianya.

            Laura Linney berperan sebagai Meryl, istri Truman. Ia bukan hanya istri, tapi juga komersial berjalan. Ia selalu mengenalkan produk-produk sponsor pada penonton, mengingat "The Truman Show" adalah reality show tanpa jeda iklan. Iklan-iklan lainnya pun harus jeli dalam penempatannya, seperti pada dinding di tepi jalan yang tiap hari dilalui Truman. Noah Emmerich -saudara kandung eksekutif New Line Cinema, Toby Emmerich- juga bermain gemilang sebagai sahabat Truman, Marlon, yang motivasinya sangat ambigu, antara murni sebagai sahabat -lebih dari 20 tahun Marlon tumbuh bersama dan menjadi sahabat bagi Truman- atau hanya tuntutan script reality show belaka. Ia adalah karakter penting dalam reality show ini. Ketika Truman butuh teman bicara, ia ada. Ketika dunia Truman akan terbongkar, ia ada. Ia adalah bagian dari hidup Truman yang membuat dunianya kembali menjadi "nyata" ketika semuanya kelihatan palsu. Kesimpulannya, Marlon adalah senjata pamungkas Christof dalam menjalankan programnya. Bahkan ketika Truman hilang, Marlon lah yang pertama disuruh ke kamarnya pada tengah malam dengan "senjata" satu krat bir.

            Peter Weir, dibantu naskah cerdas oleh Andrew Niccol -kita kenal juga sebagai sutradara film sci fi S1m0ne (2002) dan Gattaca (2003)- , membuat The Truman Show menjadi film intelektual yang memorable dan salah satu film terbaik di tahun 1998, selain American History X , Saving Private Ryan, The Thin Red Line, dan Shakespeare in Love. Penggunaan opening credit yang menggunakan opening credit dalam "The Truman Show" (contoh: Truman Burbank as Himself) sangat cerdas. Weir juga menggunakan angle kamera yang bervariasi dalam penggarapannya. Kadang di-shoot dari atas seolah-olah dari tempat Christof mengamati "anak"nya, kadang dari kamera tersembunyi di rumah atau mobil Truman, dan kadang memposisikan kita sebagai penonton "The Truman Show". Ia juga sukses mengarahkan sinematografer Peter Biziou untuk memvisualisasikan Seahaven sebagai sebuah kota artifisial. Weir sekali lagi membuktikan diri sebagai sutradara elite yang selalu sukses mencetak film-film hit bila berkolaborasi dengan bintang-bintang papan atas, seperti Mel Gibson dalam The Year of Living Dangerously (1982), Harrison Ford dalam Witness (1985), dan Robin Williams dalam Dead Poets Society. Fakta ini selanjutnya ia tegaskan ketika mengarahkan Russel Crowe dalam Master and Commander: The Far Side of the World (2003). Kita tunggu kiprah Weir selanjutnya dalam film The Way Back tahun ini, dengan bintang Colin Farrell.

            Meski bertabur respon positif, bukan berarti film berdurasi 103 menit ini nihil kekurangannya. The Truman Show dirasa terlalu cepat selesai tanpa menggali lebih dalam lika-liku penggarapan sebuah reality show kolosal yang wah. Kita tidak tahu apa yang dilakukan para aktor dan aktris bayaran di luar show ini, kontrak kerja, berapa gaji mereka, pengembangan skenario, dan lain sebagainya. Dan yang paling menggelitik adalah apakah Truman mengenal seks. Apakah ia berhubungan seks dengan istrinya, Meryl, adalah sebuah pertanyaan yang tidak terjawab di sepanjang film. Faktor hilangnya karakter Meryl di seperempat akhir film tanpa alasan yang jelas, menambah kekurangan film ini.

            The Truman Show adalah sebuah film yang sarat akan pesan. Film ini lebih ke arah metafora daripada sebuah cerita mengenai seorang Truman Burbank. Penonton yang kritis pasti akan menemukan pesan terpendam dari filmmakers, bahwa kita menerima apa adanya hampir semua hal di dunia ini tanpa mengamati atau mengujinya lebih jauh.  " We accept the reality of the world we are presented." Mungkin kita beranggapan biasa saja matahari terbit di sebelah timur dan tenggelam di barat, mengapa setiap benda di bumi jika dilemparkan akan jatuh ke tanah, atau -yang paling simpel saja- mengapa kita bisa melihat suatu benda. Termasuk juga kita menelan mentah-mentah semua dogma dalam agama tanpa telaah lebih jauh, meskipun itu tidak masuk rasio. Mungkin jawaban kita adalah bahwa itu sudah dari sononya, sudah digariskan oleh Tuhan. Sebuah jawaban konyol yang membunuh naluri berpikir kita sebagai manusia yang sekaligus kontradiktif dengan penciptaan manuia itu sendiri. Saya pribadi berpendapat bahwa agama dan science -banyak orang beranggapan bahwa dua hal ini berjalan di rel yang berbeda- bisa disatukan dengan penjelasan ilmiah, meskipun bisa saja Tuhan menciptakan sesuatu hal tanpa masuk di akal manusia.

            Kesimpulannya, The Truman Show memberi hikmah kepada kita untuk mengeksplorasi tempat-tempat baru, ide-ide baru, dan mendobrak pola pikir dan hidup yang sudah ketinggalan jaman. Film ini juga sebuah satire mengenai bagaimana media memanipulasi realitas. Christof melakukan segala upaya demi membuat "The Truman Show" menjadi sebuah konsumsi televisi yang terus menarik tanpa mempertimbangkan efek negatif pada Truman -mungkin dalam beberapa hal, secara tidak sadar kita seperti Christof, memanipulasi semua hal dan semua orang demi tujuan pribadi kita. Dalam mencapai tujuannya, Christof tega mendegradasikan sisi kemanusiaan Truman yang paling mendasar: kebebasan. Bahkan, di akhir film ia hampir saja membuat Truman kehilangan nyawanya. Hal ini mengingatkan kita pada proses kematian Putri Diana yang secara kebetulan terjadi beberapa saat sebelum film ini dirilis. Waktu itu, demi mendapatkan informasi berharga, paparazzi nekad mengejar Putri Diana dan teman prianya, Dodi Alfayed, yang mengakibatkan tewasnya pasangan ini dalam kecelakaan di terowongan Point d'Alma, Paris.

            Di dunia Barat banyak yang beranggapan bahwa The Truman Show adalah film yang sekaligus sebagai alegori anti agama. Karakter Christof dan Truman menurut mereka mewakili anggapan ini. Christof sebagai figur "tuhan' disamakan dengan Christ, sedangkan Truman adalah simbol untuk true man (manusia sejati). Usaha Truman untuk melarikan diri dari Seahaven ciptaan Christof, dianggap sebagai kiasan dari usaha manusia untuk mendobrak dogma agama yang out of date untuk mencari kebenaran sejati jika ingin menjadi true man. Benar tidaknya anggapan tersebut, yang jelas film ini bersama film-film sci fi yang lain, seperti Gattaca (1997), Dark City (1998), The Matrix (1999), Thirteenth Floor (1999), dan eXistenZ (1999) memberi nilai filosofi mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhan, antara free will dan free act dengan kehendak Tuhan (dalam Islam, hal ini telah lama menjadi bahan perdebatan antara aliran Qadariyah (berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya (free will dan free act)) dan aliran Jabariyah (berpendapat bahwa manusia bertindak atas paksaan dari Tuhan)), antara realitas dan fantasi, dan pencarian identitas diri. Mungkin setelah menonton film ini, timbul pertanyaan-pertanyaan mengenai eksistensi kita. Siapakah aku? Apakah dunia yang kurasakan dan yang orang lain rasakan berbeda? Apakah orang lain melihat bentuk televisi yang sama dengan bentuk televisi yang aku lihat? Mengapa aku dilahirkan? Mengapa Tuhan menciptakan dunia ini? Apakah aku akan dihukum oleh Tuhan jika aku memikirkan semua ini?

            Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan di atas, yang jelas dunia kita sama dengan dunia Truman. Dunia ini hanya ilusi, seperti pernah diungkapkan oleh ilmuwan muslim, Harun Yahya. Gunung, bintang, mobil, bahkan anggota tubuh kita hanyalah ilusi. Semua itu hanya persepsi pikiran melalui syaraf-syaraf lima indera kita. Jutaan sel syaraf lima indera kita mengirim pesan ke otak yang selanjutnya diinterpretasikan menjadi dunia yang kita lihat dan alami sehari-hari. Jika semua syaraf itu mati, mati pula kehidupan kita. Hal ini berarti, bahwa dunia yang selama ini kita asumsikan berada di luar diri kita, sebenarnya berada di dalam diri kita, di dalam otak kecil kita yang tidak berwujud.

 


Tag: The Truman Show, Jim Carrey, Peter Weir, Ed Harris

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

angkasabiru 0 0
keren banget review nya,...
yah sampai sekarang saya juga beranggapan bahwa dunia saya jangan2 komersial jga *sokartis
fadex 0 0
wow panjang sekali ulasannya... tapi udah nonton :d

satu lagi yang gue suka film jim carey adalah "Bruce Almighty"
AndriaGutama 0 0
Segera Saya cari Gan DVd nya: ))
AndriaGutama 0 0
Selama ini Saya gak pernah menonton filmnya Jim Carrey selain yg gener komedi ... But setelah nonton 'Eternal Sunshine of The Spotless Mind' ama 'Number 23' mau gak mau Saya mengakui kalau Jim Carrey adalah salah satu aktor multi talenta!!!
deadeye doll 0 0
yep, film ini adalah salah satu all time favorite saya! Karena sebelum ada "the boy who lived", ada "the man who played god" : D
Titiw 0 0
Betul.. film ini Ho Oh bangeeett.. aku yang waktu itu masih remaja tanggung sangat terpukau dengan pelem inih! JENIHUUUUUUSSHH!!
Bieb 0 0
kereeennn review nya
eh tapi saya ga suka film dy yg "Number 23". Akting Jim Carey sih bagus. Tapi ceritanya ga banget. : D
fairyteeth 0 0
kata semua org film ini sangat bagus... tapi berhubung diriku sangat anti Jim Carey termasuk semua film nya, maka film yg konon sangat bagus ini jadi gak pernah daku tonton : (( : ((

Silahkan login untuk memberikan pendapat