DARAH GARUDA – the best Indonesian heroic film 9

Jumat, 20 Agu '10 12:28

Setelah berhasil merebut perhatian jutaan penonton tahun lalu, kini lanjutan dari trilogi Merah Putih akan segera tayang di bioskp pada 8 September 2010 dengan judul DARAH GARUDA. Film yang berdurasi 100 menit ini disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Conor Allyn serta melibatkan ahli perfilman terbaik dan berpengalaman di Hollywood. Maka tak heran jika efek-efek yang disuguhkan pun sangat apik dan mengagumkan.

Film yang berlatar belakang agresi militer Belanda pada tahun 1947 ini bercerita tentang perlawanan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih 2 tahun sebelumnya. Perjuangan kali ini pun dirasakan lebih berat bagi Amir (Lukman Sardi), Thomas (Donny Alamsyah), Marius (Darius Sinathrya), Dayan (T. Rifnu Wikana) dan Senja (Rahayu Saraswati) setelah bergabung dengan pasukan Jendral Sudirman serta mendapat tugas khusus yang berat dan sangat beresiko dengan perlengkapan seadanya. Belum lagi dengan penghianatan orang dalam yang sangat membahayakan misi mereka dan adanya kaum separatis Islam yang mereka temui ketika menyelamatkan diri ke hutan dari serangan tentara Belanda.

Pengorbanan demi pengorbanan pun telah dilakukan demi keberhasilan misi yang mereka jalani secara gerilya. Bahkan Budi (Aldy Zulfikar) seorang prajurit anak-anak dan Astri (Atiqah Hasiholan) yang seorang pelacur pun turut berperan dalam keberhasilan misi tersebut. Dengan kepungan musuh dari luar dan dalam, intrik, strategi jitu serta keberanian luar biasa pun sangat ampuh untuk menyiasati sebuah perlawanan untuk mencapai kemerdekaan.

Film yang temponya agak lamban di awal ini sangat berhasil membangunkan emosi serta adrenalin penonton yang disuguhkan adegan menegangkan ala peperangan dengan tembakan beruntun dan ledakan-ledakan dahsyat. Belum lagi beberapa peran Darius disini sangat menggemaskan dengan nyali yang sangat minim. Hingga membuat ending film ini begitu sempurna sebagai film heroik. Film Darah Garuda ini sangat pas disuguhkan pada liburan lebaran dan sangat amat sayang jika dilewatkan begitu saja, karena film ini punya muatan moral serta nasionalisme yang sangat berharga.

 


Tag: Film, kemerdekaan, perang, heroic, tegang

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

AndriaGutama 0 0
Wow!! Wajib tonton!!
aliya muafa-bodjyoale 0 0
iya wajib!! keren deh pokoknya...dari pada nonton yang nggak2..hihihi
Alderina 0 0
Pengen nonton, semoga ganteng yang main....
fairyteeth 0 0
tahun lalu gak nonton yg merah putih... daku nonton nya Merantau : D ga terlalu suka film kolosal. eh ini termasuk kolosal bukan sih... ; ))
aji aditya junior 0 0
aku termasuk penonton seri pertamanya, dannnnn kecewa. karena menurutku penceritaan film ini terlalu dangkal, dialog yang dikeluarkan juga sangat tidak mencerminkan suasana Indonesia kala itu, cuma menang di efek doang, tapi kurang riset. BTW, "Janur kuning" atau "Surabaya 45" lebih berasa heroiknya, sori......
Ki Pustoko Sastro Suwek 0 0
aku baru aja liat trailernya, tapi ternyata udah ada bloopersnya di adegan ketika sang jagoan kita akan pergi dengan pesawat berbaling-baling tunggal, setelah tak cek di internet, ternyata prototipe pesawat tersebut baru pertamakali terbang tahun 1959, dan baru diproduksi massal tahun 1960, nama pesawat tersebut Pilatus PC6 Porter, silahkan di cek google klo saya salah, tapi overall, usaha untuk mendapatkan nuansa film tahun 1947 cukup lumayan.
aliya muafa-bodjyoale 0 0
aji aditya junior: kalo yang merah putih 1 emang sengaja dibikin temponya agak lama dan kurang berdarah2 karena untuk lebih mendalami karakter para pemain.....lagian menurut saya, ini cukup oke lahhh untuk menggambarkan suasana kala itu. ibaratnya, ini cukup jadi koleksi film perang dalam negeri yg bagus di jaman orang2 malah bikin film berbau bokep dan komedi jayus
aji aditya junior 0 0
ada lagi blopers yang lebih ngaco ki pustoko, di film pertama, salah seorang pejuang mengucapkan sebuah dialog (yang diperankan oleh T Wisnu Wikana kalo ga salah namanya), "Merindukan saya?" Bos, please deh, itu tahun 40 menjelang 50-an, belum ada kosakata dialog segaul itu pada saat itu, lagian kalimat itu terasa asing dalam dialog untuk film indonesia, karena kalimat itu bukan dialog khas indonesia, kalimat itu berasal dari dialog para tokoh di film berbahasa inggris, untuk menyajikan sisi humor dari sebuah adegan yang menegangkan, "Do you miss me, boss?". Itu salah satu alasan kenapa aku bilang Merah putih kurang riset dan kerasa dangkal
Ki Pustoko Sastro Suwek 0 0
hahaha...mas aji terpancing juga untuk sedikit mengeluarkan spoiler...kasiyan yang belum nonton mas, hehehehe...termasuk sayaa

Silahkan login untuk memberikan pendapat