Ras Dalam Film: Diskriminatif atau Adaptatif? 10
Rabu, 11 Agu '10 14:30
Belakangan ini Hollywood dan industri film di negara lain makin getol mengadaptasi komik, animasi ataupun novel menjadi sebuah film, karena, berharap pada penggemar karya aslinya, prospek filmnya diharapkan bagus, sehingga bisa menghasilkan sekuel-sekuel yang tidak kalah laris.
Setelah menonton The Last Airbender, ada beberapa pertanyaan yang makin mengusik benak saya. Mungkin ini dikarenakan beberapa kritik penggemar kartun Avatar yang memprotes pemilihan pemain.
M. Night Shyamalan, sutradara film ini, adalah keturunan India, dan agak mengherankan bahwa dia memilih pemain-pemain bertampang India untuk menjadi warga Fire Nation. Mungkin beberapa peran menjadi pengecualian, seperti Cliff Curtis (Fire Lord Ozai) yang keturunan Maori New Zealand dan Shaun Toub (Jendral Iroh) yang keturunan Iran tapi besar di Manchester. Pemilihan Noah Ringer (yang keturunan Kaukasian) sebagai Aang (serial kartun Avatar beratmosfer Asia Timur) juga banyak dikritik.
Yang menarik, cara pengucapan nama Aang sendiri adalah pengucapan asli sesuai penulisan huruf Cina nama tokohnya, yaitu "Ang". Tapi, hal ini dikritik penggemar serial kartunnya yang terbiasa mendengar pengucapan "Eng".
Tapi, mari kita lihat sedikit ke belakang. Pencipta serial Avatar adalah Bryan Konietzko dan Michael Dante DeMartino yang jelas-jelas orang kulit putih (Kaukasian). Penggambaran tokoh-tokoh di Avatar sendiri juga tidak terlalu menjelaskan apakah mereka Kaukasian ataupun Mongoloid. Yang jelas, di serial kartunnya, masing-masing tokoh terlihat punya rona kulit yang sama.
Yang jelas, saya tidak tahu apakah pemilihan peran di film The Last Airbender dipengaruhi oleh studio Paramount, milik raksasa media Viacom (yang kemungkinan besar dikepalai orang-orang Kaukasian). Viacom sendiri adalah pemilik beberapa jaringan TV, seperti VH1, MTV dan Nickelodeon (stasiun yang menayangkan serial Avatar).
Apakah M. Night Shyamalan tidak berdiskusi dengan Konietzko dan DeMartino soal ras dan penampilan para pemainnya? Apakah Konietzko dan DeMartino juga lebih cenderung memilih pemeran keturunan Kaukasian? Apakah M. Night Shyamalan harus dipuji karena berani menampilkan keberagaman ras dalam film ini? (Seingat saya, ada adegan Aang cs. menolong sebuah desa yang penduduknya berkulit hitam semua, seperti penduduk asli Afrika)
Bagaimana kalau kita putarbalikkan kasus lain? Misalnya, dalam komik Dragonball Z, karakter Songoku dan suku bangsa Saiya lainnya adalah petarung yang bisa berubah wujud menjadi petarung super kuat dengan rambut pirang. Apakah pengarang komiknya, Akira Toriyama, memang membayangkan bahwa tokoh utamanya adalah seorang Kaukasian, ataukah awalnya (pada episode-episode awal Dragonball) dia membayangkan seorang bocah Jepang lucu? Ketika Hollywood mengadaptasi komik ini menjadi film, pemeran Goku adalah Justin Chatwick yang notabene Kaukasian.
Contoh lain, meskipun bukan produksi Hollywood, pada anime Tales of Earthsea (judul Jepangnya: Gedo Senki) keluaran Studio Ghibli di Jepang, tokoh-tokohnya terlihat seperti Kaukasian. Padahal menurut Ursula K. Le Guin, pengarang seri novel Earthsea, dunia tersebut dihuni oleh orang-orang yang rona kulitnya setipe dengan orang Indian Amerika.
Dan siapa yang tidak bingung melihat Jake Gyllenhaal bermain sebagai Pangeran Dastan di Prince of Persia: The Sands of Time? Tentunya masih banyak contoh lain yang akan teringat begitu kita membanding-bandingkan karya asli dan adaptasi filmnya. Pertimbangan pemilihan pemain juga bisa saja karena dibutuhkannya nama besar, kecocokan dengan sutradara, keahlian akting, kekurangan SDM yang cocok, atau tekanan dari pihak studio.
Mungkin, ketika Hollywood masih menganggap bahwa pasar terbesarnya adalah Amerika, praktek menyesuaikan warna ini adalah melayani pasar utama. Tapi, pasar film sekarang adalah dunia, yang terdiri dari beragam suku dan bangsa, dan, dengan demikian, memiliki banyak pendapat. Hasil yang diperoleh The Last Airbender bisa jadi bahan pelajaran, biaya pembuatannya 280 juta dolar dan baru menghasilkan 180 juta dolar (130 juta dolar di Amerika Serikat). Apakah ini berarti tidak akan ada sekuelnya?
Jadi, apakah penyesuaian ras ini harus kita anggap sesuatu yang diskriminatif atau masih bisa kita terima sebagai sesuatu yang adaptatif?
Gambar diambil dari sini.
Tag: Film, uang, avatar, box office, ras, shyamalan, airbender, aang
Terkait:
-
Devil: Another Shyamalan's Meh
Jumat, 24 Des '10 11:38 -
Avatar Menenggelamkan Titanic
Senin, 25 Jan '10 21:21 -
AVATAR Kalahkan DARK KNIGHT
Selasa, 29 Des '09 10:40
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sofie: nggak ada matinya
-
maharrani: keren
-
fairyteeth: nggak ada matinya
-
AndriaGutama: nggak ada matinya
-
Titiw : nggak ada matinya
-
Bieb: keren


Komentar:
Aku sih sepaham sama Sofie. Mungkin profit lebih jadi pertimbangan. Cuma, ini memang sering banget terjadi. Kaya di serial Heroes. The bad guys are mostly not Caucasian. Nyadar nggak?
Ada juga teman yang bikin skripsinya tentang ini..nanti diundang ah kl pas bikin diskusi benerannya. #klubfilm September mungkin?
iya sih, kadang suka sebel sama pemain yang kok ya rasanya gak sesuai gitu buat memerankan tokoh2 tertentu, terutama buat film-film yang diangkat dari buku.
para pembaca setia nya suka udah punya gambaran sendiri, n jadi kecewa pas duduk manis di bioskop.
or ok, pemeran nya pas, cocok seperti di buku, eh tau2 akting nya jelek...
dilemma
setuju sama to Ra nt karakteristik dan aktingnya kurang banget
Silahkan login untuk memberikan pendapat