Ruang privat, Ruang publik 4

Sabtu, 24 Jul '10 10:50

Beberapa hari yang lalu aku ditegur seseorang yang notabene pacarku karena aku memposting tulisan terkait dengan hubungan kami di wall FB-Q. "Kak, kalo curhat jangan di FB, napa!" Katanya. Bukan berarti kalo curhat di tempat lain semisal blog atau my yahoo, twitter, atau apalah, boleh juga, tetapi dia ingin bilang kalo untuk urusan kami berdua jangan disebarkan pada khalayak ramai. Yah, akhirnya aku hapus juga statusku itu. Masalah yang ini beres. Pacarku tak komplain lagi.

Kemarin, sepulang dari Monas, karena saking keselnya pada penjual soto di Parkiran Irti, aku buat status yang isinya kurang lebih semacam pernyataan ketidakpuasanku pada pelayanan di tempat itu. Temanku mencak-mencak dengan status itu. Bahkan dengan bahasa Inggrisnya yang lancar itu dia mengataiku nggak dewasa karena komplain di FB seperti itu. Hal yang membuatnya marah karena dianggapnya aku mendiskriditkan sukunya karena aku menyebutnya dalam statusku itu. Aku hanya diam soal itu. Tak juga tertarik untuk mengklarifikasi pernyataanku, yang kira-kira isinya adalah aku kapok makan di tempat sekitar Monas dan Istiqlal yang penjualnya orang dari suku temenku itu. Mungkin temenku masih marah sekarang. Aku tak mau ambil pusing. Yang terjadi, aku begitu dirugikan dan merasa "diperas" dengan harga makanan yang setinggi langit tetapi tidak memadai jika diukur dengan kualitas pelayanan yang diberikan. Biarlah temenku mencaciku nanti kalo ketemu. Persoalan belum selesai, meski tlah aku hapus statusku itu.

Semalam, pacarku minta foto2 yang dari perjalanan di Jogja dan Magelang agar diupload di FB. Dia pengen lihat katanya. "Tag-in ke Q ya!" dia bilang. Ya sudahlah aku upload juga akhirnya foto2 itu. Dan tak satupun foto2 yang aku hapus, karena emang dia suka dengan itu. 

Ruang privat, Ruang publik, di mana keduanya kini harus ditempatkan? Dunia semakin kabur. Belum lagi kalo kita dihadapkan pada tanyangan-tanyangan infotainmet di televisi. Akan dikatai gila kalo kita maksa bilang Privat as Privat, Public as Public.


Tag: Public Space, Private Space, Private, Public

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

fairyteeth 0 0
hihihi.... kalo saya pantang ngapus status FB... org keberatan ya biarain aja, kan kita tetap boleh toh menyatakan pendapat...

tapi iya euy, suka lieur mana yg private mana yg public... kecampur baur...
Havellar 0 0
fairyteeth: Lain lubuk lain ikan...lain orang lain pendirian....hehehe..: )
Sepertinya batas keduanya memang semakin kabur..apalagi setelah ada Tipi, internet, dan jelas Pacebook dan kawan-kawan....
Lama-lama ke kamar mandi untuk pipispun jadi masuk informasi public lagi......hemmm
sari indah 0 0
saya sih cenderung memilih bebas menulis apa saja di fb yang penting benar dan bukan bohong. Karena siapa tahu apa yang ditulis berguna bagi orang lain. Tapi kalau isi statusnya tentang hal yang terlalu pribadi dan ga penting, kayaknya enggak usah ditulis deh.
maharrani 0 0
Nice posting, tapi mungkin lebih pas di post di Ngerumpi
Karena di sini bukan tempat curhat : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat