Pra design dari Cinema Modern 14
Jumat, 23 Jul '10 15:23
Jaket, sarung, kopi, kopiah dan rokok tingwe (nglinting dewe/racikan tembakau lokal, menyan dan cengkeh) sudah seperti perangkat wajib ketika menghadiri pentas kebudayaan asli Indonesia yang sudah ditetapkan sebagai world heritage oleh UNESCO, yang tidak lain adalah wayang. Aroma khas menyan menguar dari asap rokok tingwe, seiring dengan tetabuhan gamelan dan nyanyian sinden dengan tembang-tembang jawa klasik. Umumnya penonton yang hadir adalah orang-orang tua yang gandrung akan seni pertunjukan wayang kulit ini. Kalaupun ada anak muda, mungkin mereka lebih tertarik pada pedagang-pedagang camilan, maupun makanan berat pengisi perut, ketimbang menonton wayang kulit. Hanya orang-orang tua saja yang setia menemani dalang, sinden dan niyogo (penabuh gamelan), mulai dari jejer kawitan/ Opening (biasanya dimulai selepas Isya) sampai tancep kayon/ Closing (sebelum Subuh). Kisah yang disampaikan oleh sang dalang biasanya adalah epos Ramayana, Mahabharata, dan Bharata Yudha.
Pada awal perkembangannya pergelaran Wayang Kulit hanya menggunakan kelir/Pakeliran (secarik kain pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton). Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan dari blencong (pelita dari minyak kelapa) yang jatuh dibalik kelir/pakeliran. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak (Sumber dari: http://spiritchild16.multiply.com/journal/item/19). Namun pada perkembangan selanjutnya musik pengiring pagelaran wayang menjelma menjadi orchestrasi perkusi yang sering kita sebut sebagai gamelan.
Sekarang, kita lihat cinema modern sekarang yang sejarahnya dimulai pada tahun 1889 (http://en.wikipedia.org/wiki/1890_in_film) ketika William Dickenson menyempurnakan karya Kinetograph Cylinder milik Thomas Alfa Edison, tetapi film tersebut masih bisu, hanya proyeksi gambar bergerak di kain putih yang dibentangkan. Baru pada tahun 1914 film mulai menggunakan orchestra (http://en.wikipedia.org/wiki/Film_score).
Now I'm gonna wake you all with our heritage. Sadar nggak, klo sebenarnya kita sudah mempunyai cikal bakal cinema modern dari nenek moyang kita? Mari kita bandingkan persamaan dan perbedaan antara film dengan wayang kulit
Pertama, wayang menggunakan pakeliran (kain putih yang dibentangkan), demikian juga dengan film-film yang kita tonton di 21cineplex, blitz, maupun XXI. Kedua, Wayang menggunakan lampu/sinar dari blencong sebagai proyeksi dari karakter wayang kulit, demikian halnya dengan film yang menggunakan sorot lampu untuk memproyeksikan pita seluloid. Ketiga, wayang membutuhkan lingkungan yang gelap, dalam hal ini diselenggarakan pada malam hari, demikian juga dengan film modern yang membutuhkan ruangan gelap dalam bioskop. Keempat, wayang mempunyai orchestrasi perkusi (gamelan+sinden) untuk menambah dramatis lakon yang dibawakan, demikian juga dengan film yang menggunakan orchestrasi atau kita mengenalnya dengan musik score/theme song. Kelima, pada pagelaran wayang kulit selalu ada pedagang camilan/ snack beserta minumannya, seperti, ronde, sekoteng, kopi, teh, dll. Demikian juga di lobby bioskop yang menjual aneka jajanan maupun softdrink.
Lalu bagaimana dengan perbedaannya? Perbedaan yang mencolok antara wayang dan cinema modern terdapat pada actor, sutradara, dan tata suara. Pada film mungkin kita disuguhi tema dan karakter aktor-aktor yang sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi sehari-hari. Tetapi tidak pada pagelaran wayang kulit, untuk aktor, sutradara, dan tata suara. Aktor dan sutradara dimainkan oleh satu orang yaitu dalang, sedangkan untuk tata suara, masih mengandalkan suara dari sang dalang dan gamelan serta sinden.
Namun demikian, tingkat nilai budaya masih lebih tinggi wayang kulit, karena karakter suara yang di ucapkan dalang bisa bermacam-macam sesuai dengan tokoh yang dimainkannya, selain itu daya tahan sang dalang yang bisa duduk berjam-jam sesuai dengan lakon yang dimainkan.
Pertanyaanya sekarang adalah, apakah anda mau meluangkan waktu luang anda untuk menonton pagelaran wayang?
Terkait:
-
Laporan Menonton SANGKALA 9/10 (Part 2)
Kamis, 12 Mei '11 14:13 -
Laporan Menonton SANGKALA 9/10 (Part 1)
Jumat, 6 Mei '11 14:03 -
Siapa Ikut Malem Mingguan?
Sabtu, 24 Jul '10 22:26
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Titiw : yoi banget
-
maharrani: nggak ada matinya
-
fairyteeth: nggak ada matinya
-
sofie: keren


Komentar:
soal betah nggak betah relatif, ada adegan ditengah-tengah durasi nan panjang yang namanya "goro-goro", nah yg ini sedikit menghibur, karena sang dalang (dlm hal ini diwakilkan oleh karakter punakawan) membanyol, dan terkadang berinteraksi dengan penonton/ crew gamelannya.
ini nggak terdapat dlm cinema modern, dimana interaksinya cuman satu arah.
Soal "Namun demikian, tingkat nilai budaya masih lebih tinggi wayang kulit,...."
Menurutku, nilai sejarahnya memang lebih tinggi wayang kulit..
Tapi nilai budaya..bukannya lebih tinggi film ya? Kan lebih beragam..
Hihihi..bukan ahli budaya sih..mohon pencerahannya
Ketika pada jamannya wayang kulit dimulai, manusia dibelahan dunia manapun belum kepikiran akan sebuah bayangan yang bisa bercerita dan diiringi musik yang mirip dengan score musik pada film (question 1), tapi pada perkembangannya, evolusi wayang stuck karena "pakem" yang membatasi kreatifitas dan mengakibatkan ditinggal oleh penonton, terutama anak muda yang anti kemapanan.
Ketika cinema bisu diciptakan, mereka terus berevolusi menjadi sebuah cinema modern, dengan cerita yang beragam dari seluruh penjuru dunia lengkap dengan musik score, sound effect, pendingin ruangan dan camilan nan yummy.
sekarang kita yang mewarisi pusaka, trus mau diapain nih pusaka, apa mau trus stuck dan wayangnya tetap dalam kotak, apa mau dikreasikan tanpa batas pakem?
saya kasih contoh dalang favorit saya yang orangnya agak gemblung : http://www.youtub…xt=1&index=1
Ki Pustoko Sastro Suwek: thanks ya pencerahannya
@missmaharrani: sama-sama
Silahkan login untuk memberikan pendapat