Bunga di Tepi Jalan 5

Rabu, 21 Jul '10 20:17

"Suatu kali kutemukan bunga di tepi jalan
siapa yang menanamnya tak seorangpun mengira
bunga ditepi jalan alangkah indahnya...."*


Bunga-bunga kecil tumbuh di atas batu. Mereka yang putih dan kuning seperti merayakan cerah cuaca. Sesekali mereka bergerisik dihela angin, sesekali menangguk-angguk; entah menanggap cerita saudaranya atau terkantuk-kantuk.


"Di sekitar belukar dan rumput gersang
seorangpun tak kan mau memperhatikan ..."*

"Jangan khawatir," kata Dea pada lagu Bunga di Tepi Jalan yang menyanyikan keprihatinannya pada bunga-bunga kecil. "Mereka saling memperhatikan, kok, lihat, deh," kata Dea sambil menunjuk para bunga yang kait mengait seperti kancing. Mereka yang tumbuh di atas batu menemukan kemenangan dalam kemampuan bertahan hidup dan mahalnya kebebasan. Mereka yang kecil-kecil senantiasa tumbuh bersama dan saling menjaga.


"Biarlah kan kuambil penghias rumahku ..." *


Eh ... tunggu, tunggu. Apa ? Tahu-tahu Bunga di Tepi Jalan mencerabut beberapa helai bunga dan mengantunginya. Sisa bunga yang tinggal berayun-ayun, mencoba mencegah, mencoba menangkap saudara mereka dengan mengait tangkainya. Tapi apa yang terjadi ? Alih-alih berhasil menahan saudara mereka, mereka justru ikut terbawa.


"Oh..kasihan, kan kupetik
s'belum layu ...." *


Selepas itu, Bunga di Tepi Jalan mem-fade out. Pudar bersama harapan keluarga bunga. Angin dan matahari kehilangan pijakan. Batu mejadi pitak. Saya ingin menangis. Merasa kecewa pada lagu lincah dan menyenangkan yang saya pikir penyayang itu.


Apa ia tidak tahu bunga-bunga itu akan lebih cepat layu jika dijadikan penghias rumah ? Atau dia tahu, tapi bersembunyi di balik kata ‘Oh kasihan' yang mematikan ?


Sejak siang itu, di antara bunga-bunga cantik yang masih tumbuh liar di atas batu, tak ada lagi nyanyian ...


Sundea

www.salamatahari.com


*diambil dari lirik lagu Bunga di Tepi Jalan, Koes Plus


Tag: opini, lagu, nostalgia, Koes Plus, bunga

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maharrani 0 0
Aih...ini dia bintang tamu #klubuku Juli!
Salam untuk Senter..kalau telor ceploknya nggak mau, buat aku aja hehehe : D
Sundea 0 0
maharrani: Kayaknya telornya udah busuk, Dit. Soalnya itu dimasaknya 5 taun yang lalu ...
sofie 0 0
ini lho fadex contoh tulisannya dea di bukunya, jadi kamu dateng kan? : D * mana fadex ya *
warm 0 0
mengalir bagus gitu ceritanya euy
ajarin saya !!
: D
Titiw 0 0
Nice. Selama ini aku juga mikir kalo lagu ini aneh, kasihan tapi kok dipetik? Ah, can't wait to see you! : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat