Anna, Kenangan, dan Kenyataan 13

Kamis, 8 Jul '10 13:13

Diiringi petikan gitar Tito Soemarsono, dengan lirih dan terbata, Gugun bernyanyi, ''Kupersembahkan lagu ini. Sebagai tanda cinta kasihku. Padamu setulus hati ini untukmu... Kau permata hati....''

Di sisi kiri Gugun, Anna Marrisa, istrinya, mengejapkan mata, berkali-kali. Tangan kanannya terus sibuk mengusapi pundak Gugun. Dan ketika lagu itu sampai di bagian tengah, airmata Anna pun tumpah. Dia peluk Gugun, dia ikuti larik-larik lagu itu, dia biarkan pipinya basah....

Berkali-kali dia terlihat menengadah, bukan saja menahan airmata yang akan tumpah, melainkan juga mencoba mengais kenangan lama, yang selalu hadir ketika lagu itu dinyanyikan. Kenangan ketika mereka jatuh cinta, dan menjadikan lagu itu sebagai tanda asmara. Lagu cinta mereka.

Di talkshow ''Just Alvin'' lebih dari setahun lalu itu, saya melihat Anna terpenjara antara kenangan dan kenyataan.

Juga harapan.

Tapi, harapan itu, saat ini, tampaknya telah dia lepaskan.

Anna meminta cerai.

Kelak, tak akan ada lagi tangan Anna yang mengusapi pundak Gugun, dan membisikkan kata penuntun di telinga lelaki itu.

Kelak, tak akan ada lagi genggaman tangan Anna di jemari Gugun, menuntunnya melangkah.

Kelak tak akan terlihat lagi geletar lengan Anna yang menyendoki teh dan nasi ke mulut Gugun, sesuap, sesuap....

Kelak, tak akan ada lagi mata basah Anna, yang terbit tiap kali dia berkata, ''Yayang akan sembuh kok ya, akan sembuh...'' Ucapan yang, barangkali, dia daraskan lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Anna mencintai Gugun. Itu pasti. Lebih dari tiga tahun dia membuktikan itu. Dengan sekuatnya, perempuan yang belum genap 23 tahun itu merawat cinta, bukan saja di tengah suami yang sakit, terutama di sekeliling masyarakat yang sakit, yang selalu memprasangkainya. Terutama setelah dia hamil. Apalagi kini, ketika dia meminta cerai.

Dan Anna kuat. Tabah.

Dia, seperti Dewi Yull, percaya, tiap rumah tangga pasti memiliki rintihan. Anna mau mendengar rintihan itu, dan tidak mengabaikannya. Hanya dengan mau mendengar, sebuah rintihan akan berdiam hanya sebagai erang, dan perkawinan tak sampai guncang.

Tapi itu dulu.

Sekarang Anna tak kuat lagi. Dia mulai percaya, hanya perceraian yang dapat menyelamatkannya.

Dulu, selepas operasi otak di Singapura itu, Anna menangis karena Gugun tak lagi mengenalinya. Dan setiap hari, pelan-pelan, dia menjelaskan ke Gugun, ''Ini Anna Yang, istrimu...'' Meski sedih, Anna tak begitu menyesali Gugun yang tak lagi mengenalinya. Yang penting, dia mengenali suaminya. Tapi kini, ketika Gugun telah dapat mengenali kembali istrinya, justru Anna yang tak lagi bisa membaca siapa suaminya.

Gugun, selepas operasi tumor otak itu, bukan lagi pria yang sama. Gugun jadi pemarah, dan tak dapat mengendalikan emosi. Dalam keterbatasan fisik, tekanan psikologis yang berat, Gugun, seperti pengakuan juru bicaranya, Dwi Heri Sulistiawan, memerdekakan diri lewat amarah. ''Memang bahwa kondisi Gugun saat ini dalam keadaan sakit fisik. Tidak bisa memenuhi selayaknya kepala rumah tangga. Dengan adanya sakit itu, perangai Gugun gampang berubah-ubah, emosi dan temperamental,'' terang Heri.

Dan Anna, yang lelah fisik --dia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan obat-obatan suami, dan lelah batin --merawat suami dan anak yang masih kecil, juga perasaan sendirian menghadapi gosip, dan semua beban psikologis, tak kuat dengan sisi emosional Gugun. Dia tertekan.

Anna memilih berpisah rumah. Dia berharap, Gugun dapat berubah.

Tapi Gugun tak berubah. Tiga bulan menunggu, Anna tak bisa bersabar lagi.

''Memang harus dibutuhkan kesabaran ekstra dari istri. Mungkin kesabaran itu sudah habis," jelas Heri.

Kesabaran Anna tak habis. ''Kami pun sering menasihati, suami kamu, kan lagi sakit, kamu harus sabar. Tapi Anna sakit dengan hal lain,'' jelas Rudi, kakak Anna.

Anna, barangkali, tak lagi merasa mendapatkan ruang untuk dirinya. Pernikahan itu, bagi Anna, telah memakan sosoknya. Dirinya perlahan mengecil, mengabur, menyatu, dan semua menjadi Gugun.

Anna tak ada.

Tapi, bukankah perkawinan adalah sebuah proses penyatuan? Aku dan engkau yang melebur menjadi kita? Khalil Gibran dengan yakin menjawab, bukan.


Berpasangan kalian telah diciptakan, maka bersamalah
selamanya
Bersamalah, saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan


Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk ''merasa'' dan ''membiarkan sendiri'', adalah zona ''menjadi diri pribadi'', sebuah kamar untuk ''kembali menjadi aku''.

Anna tak lagi menemu Anna.


Saling isilah cawan minuman kalian
Namun jangan meminum dari satu cawan saja
Berbagilah roti, tapi jangan memakan dari kerat yang sama
Bernyanyi dan menarilah bersama dalam kegembiraan
Tapi ijinkan masing-masing dalam kesendirian
Sebab dawai-dawai harpa pun sendiri
Saat menggetarkan senandung yang sama


Gibran tampaknya mengerti, menikah bukanlah saling menguasakan: Berikanlah hati kalian, namun jangan saling menguasakan. Menikah adalah lebih pada memberi, dan bukan sekadar berbagi, jangan meminum dari satu cawan saja.

Karena memberi adalah mendapatkan. Memberi adalah kebahagiaan.

Tapi telah lama Anna tak mendapat, juga tak lagi bahagia.

Dia hanya bersama kesepian. Cuma air mata. Dan pertanyaan-pertanyaan yang tak mendapat jawab.

Anna menemu penjara.

Dia tak lagi percaya bahwa perkawinannya akan membenihkan kegembiraan. Padahal, ''Kata dokter, dengan membuat gembira, Gugun akan lebih cepat pulih. Makanya, aku selalu menyenangkan hatinya, meyakinkannya."

Ketika kegembiraan itu tak ada, Anna pun kehilangan keyakinan.

Kini, jika dia dengar lagi lagu, ''Kupersembahkan lagu ini. Sebagai tanda cinta kasihku. Padamu setulus hati ini untukmu... Kau permata hati....'' Anna pasti akan menangis. Dia sedih, kegembiraan itu, lagu cinta itu, hanya berbicara tentang masa lalu. Kesedihan. Kepiluan, dan bukan harapan.

Barangkali, di seberang perceraian, Anna menemu bahagia, mendapat jawaban-jawaban. Kita hanya berdoa, untuk keduanya.

 


Tag: cinta, bintang, belajar, anna, gugun

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Bieb 0 0
keren...memang tak selamanya prasangka masayarakat benar adanya.
Anna hanyalah manusia biasa yang memiliki kesabaran yang terbatas
maharrani 0 0
aku jadi pengen nangis.. : (
Reality bites, Anna masih muda..
Titiw 0 0
maharrani: Aku udah nangis.. : ((

Gemana ya.. orang bilang "Ana jahat banget, suami sakit tapi ditinggalin". Tapi somehow aku merasa dia udah ngasih yang terbaik.
Dan kalimat ini bener banget: "Anna, barangkali, tak lagi merasa mendapatkan ruang untuk dirinya. Pernikahan itu, bagi Anna, telah memakan sosoknya. Dirinya perlahan mengecil, mengabur, menyatu, dan semua menjadi Gugun.".

Ketika seseorang merasa sudah "tidak ada", dia akan bertanya2 untuk apa hubungan ini diteruskan. Sabar, tapi sosoknya kabur.. Kasihan Anna, kasihan Gugun.. Moga2 yang terbaik terjadi pada mereka.
sari indah 0 0
apapun keputusan mereka, semoga itu yang terbaik. : ((
bimasena 0 0
Ohh, Anna... (❤‿❤)
pemuji mimpi 0 0
ternyata aktif di sini juga toh?
pherdita 0 0
sedih.... : (( jd nangis bacanya : ( : (( semoga mereka menemukan kebahagiaan yang mereka cari ya... : ((
njoups 0 0
anna masih 23? masa sih? anyway, sebelum baca tulisan ini saya langsung searching lagu itu dan dengerin juga membaca tulisan ini : D

*maaf bukan golongan yg sedang nangis.... (hiks...)*
Yujitea 0 0
Gw malah ga tau kalo si Anna ini gugat cerai Gugun...
MiMa 0 0
aku sedih, hiks...
aila 0 0
sedih bgt... hiks hiks..

Anna emang ada di posisi yg sulit. Semoga apapun yg terjadi, adalah yg terbaik buat keduanya ya..
fairyteeth 0 0
apapun penyebabnya,,, semoga mereka berdua bisa lebih bahagia lagi... kalo emang harus berpisah yang terbaik... ya terserah mereka.. kita cuman bisa ikut mendoakan kebahagiaan mereka... : )

*mewek* : (( : ((
Sundea 0 0
Telat banget baru liat posting ini skrg ...

Iya, sedih ...

Kalo kayak gini, no one to be blamed. Akhirnya ada kondisi yg cuma bisa diterima, bukan dilawan ...

Silahkan login untuk memberikan pendapat