Dewi Yull dan Hujan Bulan Juni 13

Kamis, 24 Jun '10 10:12

Barangkali Sapardi Sapardi Djoko Damono belum mengenal Dewi Yull ketika menuliskan puisi ini: tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni/ dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu// tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni/ dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu// tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni/ dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

Di bulan ini, Dewi ditinggalkan Gizka, dan dia menangis. ''Tidak ada seorang ibu yang tidak sedih ditinggalkan anaknya,'' katanya. Tapi, hujan tangis itu bukan sesal dan kepedihan, karena dia menambah dengan, ''Jika sekarang diambil ya memang karena Gizka itu titipan saja.''

Dewi Yull jarang menangis. Wajah sendu itu lebih sering tersenyum, bahkan dalam situasi yang teramat sulit. Dia, sepertinya, sudah melewati fase tangis sebagai ungkapan ketakberterimaan atau kehilangan. Dalam tiap tangis Dewi Yull, yang terbaca bukanlah kecengengan melainkan hanya sebagai respon tubuh, mekanisme membuang beban. Karena itu di dalam tiap tangisnya, tak tersisa isakan, tak tersedia ratapan.

Dewi misalnya, selalu menangis ketika menyanyikan ''Putri Kecilku''. Lagu yang amat personal, yang secara benderang menunjukkan cintanya kepada Gizka: Putri kecilku yang ayu/ Tak tega hatiku tinggalkanmu/ Kan ku korbankan segala kepentinganku/ untuk dirimu// Putri kecilku yang ayu/ Aku akan selalu menjagamu/ Tak kan kubiarkan kau menderita/ Seperti diriku dahulu// Tapi, sehabis lagu, dia akan tersenyum, dan berkata, ''Saya selalu bangga pada Gizka. Dia guru dalam kehidupan saya.''

Dewi barangkali percaya, dalam tiap anak yang lahir, Tuhan menitipkan surat cinta kepada ibunya. Atau, dia mungkin seperti Nehru, yang yakin, setiap kelahiran adalah tanda bahwa Tuhan belum jera pada manusia. Masih ada harapan. Dewi menggenggam itu.

Gizka, seperti Panji, memang lahir tak sempurna. Keduanya tuna rungu, dan sulit berbicara. Tapi lihatlah, tiap kali Dewi mengajak Gizka berbicara, keterbataan itu tak menjejakkan luka di dalam dirinya. Dewi selalu memandang Gizka dengan mata berbinar, tersenyum, bangga. Hanya Dorce, atau penonton, yang terpaksa menyusut air mata. Dewi menerima ketaksempurnaan Gizka sebagai cara untuk menyempurnakan kehidupannya. Dia menerima Gizka dan Panji tanpa pertanyaan apalagi gugatan. Bahkan, Dewi mengakui, kalau sampai sekarang dia tetap bernyanyi, semua tak lebih karena untuk Gizka dan Panji, meski ''Sampai kini, mereka berdua belum pernah mendengar suara saya....''

Dan Gizka memang tak akan pernah mendengar suara Dewi, selamanya.

Tapi itulah kehidupan, ketika rencana berjalan bukan sebagai garis lurus. Dan Dewi menyadari itu. "Bisa saja hidup kita berubah dalam lima menit. Suami, anak, itu semua milik Allah. Manusia tak bisa mengklaim memiliki manusia lain," katanya, sebagaimana dicatat Bintang.

Hidup yang bisa berubah dalam lima menit itulah yang barangkali membuat Dewi tabah. Baginya, perjumpaan dan perpisahan adalah siklus, harus dijalani, dihadapi, sebagai hal yang biasa. Kelahiran dan kematian hanya fase-fase tempaan, ujian, yang dalam bahasa Dewi, adalah guru di dalam kehidupan. Karena itu, di depan perpisahan --perceraian dengan Ray dan kematian Gizka-- Dewi tidak runduk, mengutuk, apalagi takluk. Dewi hanya berhenti, menghela napas, kemudian melangkah lagi. Fase itulah yang dalam bahasa Walter Benyamin diistilahkan sebagai ''dialektika dalam keadaan berhenti'', lahirnya makna baru di kekinian yang tercipta dari gubalan dengan kelampauan.

''Bagi saya ini bukan akhir kehidupan. Ini hanya lakon baru saja,'' ucapnya, pelan.

Dan kita pun melihat ketabahan, kearifan, dan kebijakan dalam satu frase itu: lakon baru.

Kata itu menegaskan bahwa apa yang dia alami bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Lakon baru itu adalah anak yang lahir dari sesuatu yang bukan rintih, bukan keluh, bukan dibesarkan dari perceraian dan kematian. Lakon baru itu adalah garis, atau siklus hidup yang dia jalani sebagai kelanjutan dari peta hidup menuju sempurna. Lakon baru adalah sesuatu yang harus ada setelah rintih, selepas cerai, seusai pemakaman. Lakon baru adalah keberterimaan Dewi atas keterbatasannya untuk tahu ''Sang Nasib''. Lakon baru mungkin bukan sesuatu yang dia inginkan, tapi telah dia sadari akan datang, dan tak tertolakkan.

Dewi pasrah, menerima, sumarah.

Tapi bukan menyerah.

''Menerima'', kita tahu adalah sikap aktif. Sebuah tindak, sebuah laku. Dalam bahasa Dewi, sebuah peranan, lakon. Dan itu, menjelaskan satu hal: ada sang Sutradara. Kesadaran tentang Sutradara itulah yang membuat Dewi --juga kita-- menyadari lakon, peranan, lebih sebagai fungsi. Menyadari diri sebagai fungsi, berarti membiarkan diri bergerak sesuai kebutuhan, seirama naskah yang dipegang Sutradara. Ada kepercayaan penuh bahwa sekecil apa pun, sepahit dan sepilu apa pun, Sutradara pasti memilihkan yang terbaik. Dalam bahasa Nietzsche, inilah amorfati, menerima nasib dengan sepenuh rasa cinta. Cinta pada hidup, terlebih pada Sang Pemberi Hidup dan Mati.

''Karunia Allah begitu besar buat saya. Saya hanya melihat agar memberi amanat untuk hidup saya dan anak-anak,'' jelas Dewi.

Perhatikan frasa ''hanya melihat agar...'' Dewi tak pernah beralih. Dia tahu, apa yang dia jalani adalah kewajiban, sekaligus haknya. Dewi ''menjalani'' semua hal di dalam hidupnya, dan bukan ''memiliki''.

Karena itu Dewi tak pernah kehilangan.

Di pemakaman Gizka, dalam tangisnya, tak ada isak, sesal, tanya apalagi gugat. Dewi hanya bicara pendek, dan yakin, ''Sekarang Gizka telah bahagia..."

Barangkali memang benar, Sapardi belum berjumpa dengan Dewi ketika menulis frasa ini, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni....

 


Tag: bintang, entahlah, dewi yull

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sofie 0 0
*speechless*
Titiw 0 0
Huaaa.. baca ini aku nangis.. Berasa banget sedihnya.. berasa banget tabahnya.. Ya Allah, kalo dapet cobaan bertubi-tubi gitu gak semua orang kuat nerimanya.. Berarti dia emang orang pilihan Tuhan ya.. Turut berduka cita Mbak Dewi.. Moga2 tetap tabah seperti hujan di bulan Juni..

PS: mas langit bara lazuardi, punya blog gak sih..? Aku pengin baca2 nih tulisan lain.. : D
langit bara lazuardi 0 0
Titiw : blognya sekarang pindah di http://ngerumpi.com
kolangkaling 0 0
saya dari dulu suka wajah Melow Dewi Yull .. tapi kenapa jalan hidupnya si Melow wajahnya juga ya ?
MiMa 0 0
*standing ovation*
adestark 0 0
saya baca ini takjub campur haru. Ikutan standing ovation juga ah..
sari indah 0 0
luar biasa, tulisan yang sangat menyentuh *ikutan standing ovation*
fadex 0 0
langit bara lazuardi: sangat menyentuh...
fairyteeth 0 0
beliau emang tabah banget yaaa... salut... *menyusut aer mata* : ((
aji aditya junior 0 0
baru sekarang saya baca curipandang dengan mata berkaca-kaca
Bieb 0 0
: ((
Chika 0 0
T____T
Sundea 0 0
Waaa ... bagussss .... puisi "Hujan Bulan Juni" pas bgt ngewakilin Dewi Yull, dan puisi itu emang liris banget.

Dea inget, tuh, lagu Dewi Yull buat Gizka. Dulu klipnya suka diputer di TVRI. Nginget puisi "Hujan Bulan Juni" dan kilasan2 klip itu bikin sedih ...

Langit Lazuardi tulisannya selalu nyentuhhh ... =)

Silahkan login untuk memberikan pendapat