PERTARUHAN 8

Jumat, 18 Jun '10 14:26

Ini adalah film yang tergolong lama. Diproduksi pada 2008 lalu. Nama beken Nia Dinata menjadi jaminan buat saya menonton film ini. Saya membuat tulisan ini untuk berbagi tentang film yang bercerita nasib buruh mirgan.

Pertaruhan. Merupakan film dokumenter kolektif yang terdiri dari empat cerita. Masing-masing cerita tidak memiliki hubungan. Satu-satunya persamaan dari keempatnya adalah seluruh tokoh dalam cerita merupakan perempuan yang bergulat dengan nasib dan ceritanya masing-masing.

Pertama, Mengusahan Cinta. Pada bagian ini bercerita tentang kisah dua buruh migran di Hongkong. Keduanya memiliki masalah, baik pekerjaan maupun cinta. Ruwati, perempuan 43 tahun itu sedang dalam kebimbangan. Ditemani sang majikan, dia memeriksakan dirinya. Ternyata di rahimnya terdapat tumor.

Tapi Ruwanti masih tegar. Ketegaran Ruwati baru hancur, ketika calon suaminya meragukan kegadisannya. Karena pengobatannya harus dilakukan melalui vagina.

Sementara, cerita buruh migran yang kedua tidak kalah pelik. Riantini, janda satu anak itu memiliki pasangan seorang perempuan sesama buruh migran asal Indonesia. Yup, dia seorang lesbian. Tapi usaha Riantini mendapatkan cinta dari pasangan terputus di tengah jalan. Saat pulang kampung nanti, Riantini dan pasangannya memutuskan akan menjadi saudara. “Orang-orang pasti tidak akan mengerti,”. FYI, sutradara di bagian ini, Ani Ema Susanti sendiri merupakan mantan buruh migran di Hongkong.

Kedua, Nona atau Nyonya. Ini adalah bagian favorit saya. Sang sutradara, Lucky Kuswandi secara cerdik memotret persoalan yang mungkin tak pernah terpikir banyak perempuan. Diskriminasi pelayanan kesehatan reproduksi-untuk cerita ini adalah pemeriksaan pap smear-- terhadap perempuan tidak menikah dan sudah.

Perempuan tidak menikah yang sudah aktif secara seksual mendapat pertanyaan, ”belum menikah kok pap smear” atau ”nama suami?”. Pap smear adalah cara mendeteksi dini kanker mulut rahim dengan mengambil jaringan mulut rahim.

Ketiga, Untuk Apa. Menyoal tentang praktek sunat terhadap bayi perempuan di Indramayu dan Banten. Di sini saya mendapatkan pengetahuan ilmiah alasan Depkes melarang praktek sunat terhadap bayi perempuan. Tapi sebagian masyarakat tetap melakukan praktek ini dengan berbagai alasan. Salah satunya, perempuan yang tidak disunat tidak dapat mengontrol syahwat.

Nong Darol Mahmada, putri kiai di Labuan, Banten, dan penerima Yap Thiam Hien Award Musdah Mulia dalam film ini menyanggah semua alasan tradisi maupun agama. Menurut Nong, dalam ajaran agama, sunat perempuan tidak wajib dan tidak ada manfaat bagi perempuan sendiri. Dan tangis bayi saat disunat dengan silet saat menutup bagian ini, memperkuat keyakinan saya. Kalau saya punya anak perempuan, tidak akan disunat.

Terakhi adalah Ragat’e anak atau menghidupi anak. Bagian ini cukup menguras emosi saya. Menceritakan perjuangan dua perempuan pemecah batu. Dan pada malam harinya kedua menjadi PSK di komplek pemakaman Tionghoa di Gunung Bolo, Tulung Agung.

Keinginan memenuhi kebutuhan hidup anak, memaksa perempuan itu menaiki bus malam hari. Berkencan di gelapanya kawasan pemakaman. Soal pendapatan, tidak sampai 50 ribu. Miris hati ini melihat mereka menjemput anak yang dititipkan ke tetangga usai pulang ‘bekerja’. Terlebih, usai pembuatan film ini pemeritah daerah setempat merazia PSK di kawasan tersebut.

Perempuan yang diceritakan dalam film ini adalah perempuan biasa dengan permasalahan sehari-hari. Ada marah, tawa, kepolosan, sedih. Pertaruhan adalah film tentang perempuan. Yang mungkin ceritanya terlupakan oleh sebagian perempuan yang lain.

 


Tag: Film, Nia Dinata, dokumenter

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

aji aditya junior 0 0
sutradara "Nona Nyonya" Lucky Kuswandi, mau dateng ke Lampung dalam acara ZOOM off Air, sekaligus promo film bioskop pertamanya, Madame X, aku udah kontak2 dengan pihak Kalyana Shira, jadwal tentatif akhir Juli, doain acaranya bener2 bisa dilaksanakan.
BTw, aku udah lupa loh detil cerita Omnibus film ini.
Nice Post
fairyteeth 0 0
anjrit keren gila... mengupas tentang wanita yaaaa...

wajib tonton kayaknya nih... : D
sari indah 0 0
aji : asik dong acaranya. Peningkatan ya daripada kalau bintang tamunya cuma penikmat film. Hehe. : p
Fairyteeth : musti, kudu, wajib.
maharrani 0 0
fairyteeth: kalau kamu menemukan film ini diputar di fisetival film apa gitu kita saling mengabarkan ya aku juga belum nonton soalnya..

sari indah: kamu juga kasitau ya. Penasaran banget soalnya sama film ini. sofie: pernah bilang bagushhh.. : D
Titiw 0 0
maharrani: Beuhhh.. bagus banget duuut!! Kamu pasti emosi jiwa nonton iniiiihhH!! : ))
Sundea 0 0
Rasanya film ini pernah disinggung GM di Catatan Pinggir ...
Titiw 0 0
Sundea: betul, ini pernah beliau singgung.. tepatnya di film yg terakhir, buruh pemecah batu yang malamnya harus menjadi pelacur. Eh, kok jadi aku yg jawab nih.. hehe..
sari indah 0 0
maharrani: ya kalau aku tahu pasti aku sebarin. tapi ga janji ya.. : p
Sundea: memang pernah. memangnya kenapa?
Titiw : jangan esmosi dong. : ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat