Dari Dafoe ke Gat 8

Rabu, 2 Jun '10 13:56

Suatu komposisi musik kadang bisa membawa kita ke situasi transisi yang serba surealis. Kita mengizinkan diri untuk bermain kejar dan tangkap dengan kenyataan di luar sang partitur itu, sekaligus terbenam dalam 'kenyataan' lain yang kita ciptakan seturut garis birama musik tersebut. Kita dilempar-benturkan ke sebarang dinding imajiner seperti bola mesin pinball: terlemparkan dengan cepat ke pojok takterduga oleh pelontarnya dan kembali menuju dasar mesin tanpa melalui garis yang sama. Seperti mimpi, kira-kira, yang senantiasa menggerakkan gambar-gambar dalam alam bawah sadar kita sekehendaknya.

Saya merasakan itu pagi ini ketika mendengarkan "Adagio for Strings" karya Samuel Barber yang dimainkan oleh Los Angeles Philharmonic, yang pernah menjadi lagu tema film "Platoon" arahan Oliver Stone pun diadaptasi oleh DJ Tiësto dalam albumnya "Just Be". Pikiran saya sontak mengenangkan rangkaian gambar dalam "Platoon" yang mengawasi Sersan Elias (Willem Dafoe) nan pengasih itu sedang diudak tentara Vietnam Utara pada sebuah penyergapan yang sesungguhnya ia telah antisipasi. Dalam gambar itu, tubuh si sersan telah doyong, serupa kaleng Coca-Cola di Ciliwung yang banjir-bandang. Badannya berdarah, dan lelah oleh kejahatan perang. Satu-persatu peluru menusuk-tembus otot punggungnya yang terlatih menenggang dingin hutan tropika. Namun ia tak jeda berlari mendahului pohon-pohon kelapa menuju ke sebuah reruntuhan gereja. Pada momen puncak, ia, seraya menularkan sorot matanya yang ngungun dan menggentarkan kepada kita, tertahan di sebuah titik. Kedua lututnya yang sobek oleh derita perang menancap-lesak di rerumputan basah yang beraroma mesiu. Sebelum tumbang, "itu tubuh mengucur darah", demi meminjam baris sajak "Isa" Chairil Anwar, membentuk pose Kristus menanggung derita.  

Eksekusi Sersan Elias di lahan terbuka itu sungguh kengerian tak tepermanai bagi si awam, tapi mungkin hal yang sungguh remeh-temeh dalam perang. Tapi pengadeganan peristiwa itu teramat baik, terutama dalam pengolahan gerak. Willem Dafoe cukuplah tergambar sebagai penari, di sana, sebab ia semata menampilkan, dan membagi, kesakitannya dengan meyakinkan melalui 'tarian'. Mungkin ini terdengar berlebihan. Namun bukankah kita selalu mesti bersikap berlebihan ketika seorang aktor berhasil memainkan karakternya dengan akurat?

Keseluruhan gerak Dafoe itu tiba-tiba menerbangkan ingatan saya pada pertunjukan tari Emanuel Gat dua pekan lalu (19/5) di Taman Ismail Marzuki.

Menari itu bak sajak yang memiliki sepasang tangan dan kaki, kata penyair Charles Baudelaire pada suatu masa. Sebab dari tarian, seperti juga puisi, orang belajar memahami keterbatasan, sekaligus juga ketiadaan batas. Tarian yang baik, demikian pula sajak, mampu bergerak dari ruang yang sangat sempit melalui mediumnya masing-masing - bahasa dan gerak tubuh - menuju keserbaluasan makna. Dunia keduanya menolak ketunggalan-bentuk dan penafsiran. Jagat keduanya membuka ruang dialog selebar-lebarnya kepada kita.

Lihatlah bagaimana mereka, Emanuel Gat dan Roy Assaf, bergerak pada Variasi Musim Dingin dan Perjalanan Musim Dingin: Mereka menyeberang dari sebuah ujung panggung ke pucuk yang lain, meninggalkan garis khayali lapis pertama. Kemudian, garis-garis itu mereka pertegas dengan bergerak membujur-melintang demi membangun pondasi dan dinding 'ruangan'. Ketika bangunan 'ilusif' itu terbentuk, kini mereka kian leluasa bertukar-gerak, saling menatap, berdiri bersisian, berlari menjauh-melingkar. Dan seperti dialog, ada bagian tertentu ketika mereka menyiratkan situasi yang penuh tekanan: Hanya lengan bersinggungan, tanpa tangan yang bersentuhan.

Variasi Musim Dingin dipentaskan tanpa musik. Namun keadaan demikian kian meneguhkan keyakinan bahwa kesunyian pun merupakan musik. Dan dari keadaan seperti itu, tubuh kian peka terhadap musik imajiner yang terbentuk dari dengus nafas, riuh peluh, kaki yang menumbuk lantai, atau bahkan suara batuk penonton.

Kepekaan Gat, sang koreografer, pada musik terbukti ketika memasuki bagian Perjalanan Musim Dingin. Irama "Winterreise" gubahan Franz Schubert menangkupi panggung. Gat dan Assaf tanpa cukup jeda meracik berbagai gerak rumit dan ritmis dalam ketepatan yang baik yang menghindarkan mereka berbenturan ketika bergerak saling bersimpangan. Ketelitian akan gerak itu tidak membenamkan tarian ke dalam kekakuan. Ia justru jadi pembuka bagi variasi gerak selanjutnya yang menyarankan keanggunan dan obsesi seksual yang bergolak hebat.  

Maaf kiranya jika saya tak meneruskan berbicara tentang komposisi tari terakhir Gat yang dimainkan oleh tujuh orang. Sebagaimana mimpi, seperti paragraf awal tulisan ini, jalinan kisah tidak mesti runut dan selesai.

--

Gambar diambil dari sini


Tag: Film, tari, willem dafoe, emanuel gat

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sofie 0 0
wah, selera mas bon top deh! *ngilang* ; ))
maharrani 0 0
Yang mana sih ini lagunya ya? *bongkar iTunes Store dulu nanti komen lagi* : D
njoups 0 0
ga akrab ama musik gituan nih : p

jadi ga mudeng bon ; ))
bonmw 0 0
sofie: Duh
maharrani: Itu tak ambilin dari Youtube : p
njoups: Ga harus akrab. Musiknya enak kok : D
sari indah 0 0
duh, kok videonya susah dibuka ya. : (
ini sama dengan adagio in c minor nya yani ga ya? maklum, ga begitu familiar dengan lagu klasik : ))
Titiw 0 0
Haduh.. bahasanya bon bon keren bangeeeet!!! tapi yutubnya susye disetel.. : (
fairyteeth 0 0
haduh haddduuuuhh... jadi penasaran to the max... : ((
bonmw 0 0
sari indah: Titiw fairyteeth: Hmm. Mungkin karena durasinya 10 menit. Coba diunduh di sini: http://www.modern-strings.de/sound/barber.htm

Silahkan login untuk memberikan pendapat