Arumi Pergi, dan Kita tak Bahagia 31

Rabu, 26 Mei '10 10:02

Arumi pergi, dan kita tidak bahagia.

Kita boleh tak mencintai Arumi, juga keluarganya, dan memang bukan itu sebabnya. Tapi, melihat tangis Alila, kita tahu, Arumi telah merusak sesuatu yang kita yakini bersama: cinta seorang ibu. Alila, dengan mengiba, sampai berkata, "Pulanglah..." Di rumah, ibunya sakit. Bukan hanya karena rindu, melainkan terluka: Arumi telah membuat publik bertanya, sungguhkan dia seorang ibu yang tega.

Kita tak bahagia, karena infotainmen jadi punya hak untuk bertanya dan meragukan cinta di dalam keluarga. Apalagi, bumbu Arumi berbau kekerasan ibu, pemerasan ayah, dalam sengkarut uang. Arumi memberi jalan infotainmen merusak nilai yang kita pegang bersama bahwa cinta ibu adalah bumi, tak pernah meminta dan selalu memberi.

Untunglah, Arumi seorang aktris, sehingga kita dapat berharap, ''kerusakan'' itu hanya bagian dari akting. Dan kemudian benar, Arumi pulang. Di depan rumah penampungan, tempat dia disembunyikan Komnas HAM Anak, tak ada wajah gundah. Arumi tersenyum, dan berkata, ''Penjemputan ini seperti sinetron ya?" Kita ikut tertawa. Lega.

Kita ingin, meskipun memang ada masalah antara Arumi dan ibunya, cukuplah itu terjadi di dalam rumah mereka. Karena pertengkaran ibu dan anak, sekasar apa pun, adalah bahasa personal, yang pasti tidak dimengerti publik. Bahkan, jeweran seorang ibu, adalah tindak personal yang memiliki makna khusus, antara si ibu dan anak, dan tak perlu dianalisa dalam ''hukum'' publik, karena berbeda, dan tak mungkin dapat terbaca.

Arumi, saya kira mengerti sungguh bahasa personal itu, karena dia pernah berkata, ''Kasih sayang anak cuma sampai di ujung gang, kasih dan cinta ibu sepanjang jalan.'' Ternyata, bagi Arumi, ungkapan itu masih sebatas hapalan, barangkali seperti skenario, yang dia baca, dia dialogkan, lalu dilupakan. Arumi lebih ingat pada frasa ''kasih sayang anak sepanjang gang'' itu, daripada ''kasih ibu yang sepanjang jalan'', dan dia pun pergi dari rumah.

Arumi kemudian pulang, dan kita tetap tidak bahagia.

Benar, ada haru dalam penjemputan itu, juga kecemasan yang berlebihan. Tapi, kita terganggu dengan masuknya bahasa hukum ke dalam hubungan yang personal itu: Arumi meminta syarat. Ada bukti hitam di atas putih, bahwa ibu dan keluarganya akan memperlakukan dia dengan kepantasan hak yang harus dimiliki seorang anak pada umumnya. Dia ingin mendapatkan cinta dan perlakuan yang sama seperti yang dia rasakan diterima oleh remaja lain pada umumnya. Arumi ingin hubungan dia dan ibunya memakai standar umum, yang bahkan ''dirumuskan'' oleh Komnas HAM. Bagi kita, inilah wujud cinta anak yang cuma sepanjang gang, bersyarat, dan penuh kecemasan.

Kita tidak bahagia, bukan saja karena Arumi merusak ''personalitas'' ibu dan anak, tapi juga sikap Komnas HAM yang mengakomodasi tindak Arumi. Kita bisa setuju pada ungkapan Kak Seto dan Arist Merdeka Sirait, bahwa kak anak harus dilindungi, dan hak itu universal. Tapi, barangkali Kak Seto dan Aris lupa, bahwa cara ungkap seorang ibu, atau sebuah keluarga, tidak bisa universal. Bahkan, bahasa dan tindak yang umum sekalipun, punya makna yang berbeda, juga amat privat, di dalam sebuah keluarga, atau interaksi ibu dan anak. Dengan demikian, tindak dan bahasa umum itu, tidak serta merta menabrak kaidah umum. Arumi, setelah bertemu Kak Seto, seharusnya dibuat mengerti hal itu, dan bukan difasilitasi untuk mendapatkan pernyataan hitam-putih tadi. Apalagi, seharusnya, Kak Seto mendengar kalimat Arumi yang ini, ''Aku cuma anak kecil, yang masih punya kelabilan.''

Ya, bagaimanapun, Arumi cuma anak kecil, meski wajah dan aktingnya selalu tampak lebih dewasa dibandingkan umurnya. Dan sebagai anak kecil, Arumi masih bertanya-tanya, mencari pegangan, terkadang dengan kerisauan yang menggelikan, ''Aku tak yakin, bahwa dia ayahku yang sebenarnya..." tulisnya. Kerisauan dan pertanyaan, yang kita tahu, nyaris dihinggapi semua anak ketika mendapat marah yang berlebih dari orangtuanya. Dan karena itu, kelabilan seorang anak ini, jangan selalu difasilitasi, bahkan sampai mengorbankan perasaan seorang ibu.

Arumi, mungkin tengah mencari ''jati diri'', atau mengikuti Lacan, berada dalam fase cermin (stadu de miroir), ketika meyakini bahwa yang tayang di depan cermin itu adalah dirinya yang asli. Dan karena Arumi seorang aktris, selalu berhadapan dengan kamera dan melihat dirinya di layar kaca --bentuk cermin yang lain-- keyakinan telah menemukan diri itu mengkristal. Arumi, dan juga kita, acap lupa bahwa cermin tak pernah memberi tampakan yang nyata. Kanan menjadi kiri, kiri menjadi kanan. Dan sebagai subjek, Arumi butuh eksistensi.

Masalahnya, upaya untuk menunjukkan eksistensi itu bukan hal yang mudah. Bahkan, menurut Slavoj Zizek, setiap subjek selalu berada dalam situasi kekurangan (lack), ketidakcukupan (insufficiency), dan kehilangan (loss), dan karena itu berusaha menambalnya. Tambalan itu, biasanya lahir dalam bentuk angan-angan sosial. Berkait Arumi, tambalan itu, fantasi itu, adalah Miller.

''Setiap fantasi,'' kata Zizek, ''Tidak dapat menambal apa pun. Subjek akan tetap merasakan lack yang abadi." Arumi menyadari itu, meski terlambat. Fantasi dia pada Miller telah membuatnya berani untuk keluar rumah, karena menemukan ''cermin'' baru yang lebih nyata dalam kasih sayang. Ketika dia sadar, cermin dan fantasi itu tak nyata, semua telah terlanjur terluka. Arumi tak bisa menutupinya, meski dengan jujur berkata, ''Ini masalah kecil, tidak seperti yang diberitakan."

Ya, kepergian Arumi adalah masalah kecil dari seorang anak kecil. Sebuah subjek terbelah yang mencoba mencari penambal di luar rumah. Arumi hanya seorang anak, yang terkadang tak mengerti bahasa cinta orang tua. Dia hanya ngambek. Dan kengambekan seorang anak, tak pernah berusia lama. Semua menyadarinya. Masalahnya, Arumi ketemu Kak Seto, Aris, dan juga kamera. Dan di depan kamera, seperti juga cermin, semua orang punya hasrat yang sama: nampang!

"Ini adalah kepolosanku, sehingga tak tahu mana mereka yang berbuat baik atau buruk. Aku perlu sekali belajar, mengenal banyak orang, sehingga tak lagi menjadi korban,'' katanya, sembari menunjukkan foto-foto masa kecilnya, yang selalu berada dalam pondongan atau apitan sang mama. 

Arumi pergi, lalu pulang, dan kita tak bahagia, karena ada seorang ibu yang telah menangis di sana.

 


Tag: bintang, entahlah, arumi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

maharrani 0 0
Tulisannya seperti biasa keren.

Nah, tentang Arumi..
Jujur, aku nggak ngikutin kabarnya.
Ada Drama, tapi siapa itu Arumi?
Jadi buatku, Arumi Pergi, Aku Tetap Bahagia : D
langit bara lazuardi 0 0
maharrani: bukan soal pergi atau tidaknya, juga bukan soal kembalinya. dan bukan soal arumi an-sich. masalahnya, ''drama'' itu membuat ruang privat kembali diperkosa oleh televisi. dan itulah yang menyedihkan, membuat kita --sebenarnya saya-- tidak bahagia.

televisi sudah terlalu menjajah wilayah pribadi seseorang, secara konotatif dan denotatif, dan menabrak batas-batas privat. jika selama ini privasi artis dapatlah kita ''terima'' untuk dimasuki atas dasar legitimasi --yang salah kaprah-- figur publik, tapi ''bahasa privat'', tata-gaul, intimitas seorang ibu-dan anak, tetap harus dijaga. publik tidak punya tafsir yang benar untuk "intimasi" hubungan ibu dan anak.

arumi membuat kamera dan infotainmen dapat kembali memasuki wilayah itu. dan ini adalah wujud ''kekalahan'' ruang privat.

itu yang membuat saya tak bahagia.
njoups 0 0
denger2 doi disembunyikan sama salah satu tokoh : D : D : D
Bieb 0 0
iya..si Arumi ini aneh. Saya rasa dy hanya inginkan sebuah sensasi.
Saya mendengar pernyataan Anwar Fuady di salah satu infotainment. Si Ibunda Arumi selalu memfasilitasi kebutuhan syuting Arumi. Dan terlihat tidak ada konflik antar mereka. Bahkan kerap kali si Ibu menyuapi makanan ke Arumi.
Kesian ya..
sari indah 0 0
"Karena pertengkaran ibu dan anak, sekasar apa pun, adalah bahasa personal, yang pasti tidak dimengerti publik."

saya setuju dengan kalimat ini. Bahwa hubungan ibu dan anak tidaklah mudah. Saya juga baru bisa merasakannya, ya setelah saya menjadi seorang ibu. Tapi di mata ibu saya, saya tetaplah anaknya.

njoups: yang dari tetangganya upin ipin itu? : )) : ))
ichaotic 0 0
aku baru tau, ternyata nama aslinya miller itu Muhammad Suhaemi ya? ko bisa jadi miller siiihh?? : ))
njoups 0 0
sari indah: bisa jadi wkwkwk *mulai OOT
langit bara lazuardi 0 0
Bieb: iyya, kan terpengaruh ''fantasi'' cinta si miller...

sari indah: sippp...

ichaotic: karena waktu kecil dia itu kalau tidur suka ngiler, tapi bukan dibuang, malah disedot. jadilah dinamakan MILLER alias MIMIK ILLER ; )) ; )) ; ))
to Ra nt 0 0
Knew her personally, back when she's still in the same sinetron with Agnes. Gotta say she's a smart girl. If not, she won't be running to the cop at the first place : )).

She ran and she came back. It's normal, as normal as a girl that never date any man on her life. As a young child actress, she lost her childhood, a lot, and this is just part of the accumulations from pressure we might not know.

And because we don't know what happened between she and her mum, the pressure and the conflict. How can we say that:

[ Tapi, barangkali Kak Seto dan Aris lupa, bahwa cara ungkap seorang ibu, atau sebuah keluarga, tidak bisa universal.]

Because not every parents are good parents. When a kid cry for help, that kid might actually need help.
langit bara lazuardi 0 0
to Ra nt: kalau engkau baca pengakuan Arumi terakhir, maka terlihat bahwa sebenarnya dia tidak butuh pertolongan. sangat tidak butuh pertolongan. Arumi, secara tersirat bahkan mengakui, ''kesalahan'' terbesar dari peristiwa itu adalah ketika dia meninggalkan rumah.

kutipanku yang engkau petik di komentar di atas justru menegaskan situasi yang terjadi, bahwa ''tangis'' seorang anak karena ibunya tidak bisa langsung dibaca sebagai jeritan penganiayaan dan rintihan permintaan tolong. karena, sekali lagi, ''bahasa yang umum pun'' memiliki makna yang berbeda ketika terkomunikasikan dalam personalitas hubungan ibu dan anak. jika pun ada pihak luar, memediasi, maka mereka harus lebih dahulu mengerti privatisasi bahasa umum tersebut di dalam konteks hubungan ibu-anak atau keluarga. sehingga tidak terjadi deviasi tafsir.
fairyteeth 0 0
tidak setiap keluarga sama, perlakuan kepada setiap anak pun berbeda, kalo aku sih mikirnya mungkin dia cuman cari sensasi.. terbiasa hidup dalam dunia shitnetron, jadi ya gitu.. mungkin dia lupa dia hidup dimana? di shitnetron yg dia jalani itu jadi kehidupan yg sebenarnya dan kehidupan aslinya jadi cuman bayang2

ah ribet.. kalo cuman bicara kabur dari rumah, aku juga sering berharap bisa kabur dari rumah.. tapi setiap mau kabur, udah ambil tas kosong mau ngepak baju, pasti inget nyokap.. gak jadi deh kaburnya.. : ( : (
langit bara lazuardi 0 0
fairyteeth: iyya, betapa pun kecewa, rasanya tak pernah ingin membuat emak terluka...

Black.Rose 0 0
aku sama sekali gak ikutin cerita drama arumi ini. sama skali gak nyambung ada apaan. dan smp skrg pun masih gak nyambung.. : p

tp mgkn dia terlalu terpengaruh sama sinetron kali ya? jadi blur mana yg panggung sandiwara dan mana yg real live. *berasa matrix*
fadex 0 0
langit bara lazuardi: OOT dikit... Sekjen Komnas PA yang sekarang jadi Ketua Komnas PA udah ganti nama jadi Arist Pesta Sirait ya???? : D bukannya Arist Merdeka Sirait? hehehehe

anyway... setuju sama ulasan bung langit bara lazuardi: yang namanya udah nambah pake Bara...

Jadi ingat Bara Pattirajawane hahahah : D (OOT lagi) ..

Arumi mungkin sedang cari sensasi atau dia butuh perhatian lebih?
perkembangan terakhir dia dan keluarganya kok jadi nuduh si Miller alias Suhaemi itu yang jadi penyebab kaburnya ya?

Yah ini jadi pelajaran buat orang tua yang punya anak artis. Tidak bisa memperlakukan anaknya seperti anak 'biasa' lainnya...
langit bara lazuardi 0 0
Black.Rose: mungkin begitu.. tapi persoalan saya adalah ruang privat yang diobok2 infotainment hehehe..

fadex: engkau bener... thanks ya pembenarannya.. arist karena sudah merdeka, jadi bisa pesta sirait, hahaha...
to Ra nt 0 0
langit bara lazuardi: [kalau engkau baca pengakuan Arumi terakhir, maka terlihat bahwa sebenarnya dia tidak butuh pertolongan. sangat tidak butuh pertolongan. ]

Dan ketika berhadapan dengan dunia ini, kita tidak tahu apakah pengakuan itu adalah pengakuan dia atau skenario lain lagi. Bukankah begitu? Karena toh ini adalah momen di mana seseorang harus memasang wajah "semua baik-baik saja". Toh tuntutan dia sudah dipenuhi dengan perjanjian hitam di atas putih itu. She might as well do them a favor back after she get what she want.

[kutipanku yang engkau petik di komentar di atas justru menegaskan situasi yang terjadi, bahwa ''tangis'' seorang anak karena ibunya tidak bisa langsung dibaca sebagai jeritan penganiayaan dan rintihan permintaan tolong.]

Tapi ketika seorang anak kecil, yang bukan artis, melakukan hal yang serupa apakah kita tidak akan menolong anak itu? Dengan penilaian seperti ini kita berada di posisi abu-abu, sama-sama tidak bisa mengetahui apakah ada masalah atau tidak, sesungguhnya.

Ya, saya tida tahu, tapi anda juga tidak tahu. Lalu bagaimana anda bisa mengatakan bahwa Kak Seto (as much as I don't like him) melakukan kesalahan dengan mediasi di dalam ranah hukum? Ketika anda menulis dengan jelas kalau dia hanya "ngambek", apakah anda yakin itu adalah kebenaran atau hanya hasil analisa melalui jendela televisi?

Karena seperti yang anda tulis, kita tidak tahu.

Lalu anda bisa memiliki legitimasi dari mana untuk memutuskan kalau ini hanya sekedar "ngambek"? Dari hasil akhir? Bukankah kita semua tahu bahwa hasil akhir dari sebuah drama infotainment itu sama seperti drama di perpolitikan atau drama sejarah? No one know, unless they who experience that firsthand.

Sadar atau tidak, anda sedang membentuk opini publik dari sudut pandang yang berbeda dari infotainment. Tetapi itu juga tetap sebuah cerita (bukan berita) yang dituliskan dengan sebuah judgement secara tidak langsung. Anda juga memiliki tanggung jawab terhadap penilaian pembaca terhadap pribadi Arumi setelah mereka membaca tulisan ini (seperti yang terlihat di kolom komentar ini).

Anda, secara sadar atau tidak, juga sedang melakukan apa yang infotainment itu lakukan.

Di sisi lain, biar bagaimanapun, ketika ada masalah antara orang tua dan anak, si anak pasti selalu harus kalah. Apapun kondisinya, semua orang pasti berkata "itu ibumu".

No.

Parental relationship is grossly overrated. Jika kita selalu kembali kepada istilah "kasih ibu sepanjang jaman", maka tidak akan ada penyelesaian terhadap kasus-kasus parental abuse yang nggak jarang terjadi. Dan pandangan "ah, anak kecil cari sensasi" juga berbahaya. Sangat berbahaya. Sikap seperti ini sering membuat bantuan datang terlambat di saat bantuan benar-benar dibutuhkan.

Jadi bijaksanakah kalau kita menyebutkan bahwa ini hanya imbas dari "fantasi cinta Miller"? Apakah kita tahu seberapa jauh peran Miller dalam kaburnya Arumi? Apakah kita tahu seberapa banyaknya peran Tante Maria dalam kehidupan keseharian dan privasi anaknya sampai bisa ada keributan seperti ini?

Tidak ada, kita tidak ada yang tahu sampai sejauh itu.

Lalu apa yang kita semua sekarang sedang lakukan saat ini? Dan apakah kita masih punya kredibilitas untuk mengatakan bahwa infotainment itu mengobok-obok ranah priat ketika kita sendiri juga sering kepo' dengan opini, tafsir, dan komentar masing-masing?
to Ra nt 0 0
...dammit, kebiasaan politikana kebawa ke sini.
langit bara lazuardi 0 0
to Ra nt: hahahahaah sweneng aku, komentarnya bermutu...

tapi tora, sepertinya di artikelku, tak ada keterangan bahwa Arumi mencari sensasi, karena bukan itu titik pijakku. soal pengakuan arumi, cobalah engkau baca di tabloid nova dan nyata --yang kebetulan terbit hari ini. akan terlihat juga peran miller, termasuk soal sms yang bukan dia tulis sendiri, dan pengakuan bersalah telah pergi dari rumah.

apakah pengakuan itu valid? tentu, kita --terutama aku-- bukan polisi yang bisa mengecek validitas pengakuan itu. tapi, dari kalimat dan gestur, tafsir bisa bekerja. dan tafsir tidak berada di wilayah abu-abu. tafsir berada pada sebuah posisi, sebuah tindak.

aku membahas Arumi, justru karena dia aktris, yang bisa menjadi titik pijak untuk melihat kasus-kasus lain di luar aktris. jadi, peran kamera --ketika akhirnya orang tidak lagi berlaku wajar-- juga perlu dicatat. tentang ''jeritan'' anak-anak biasa, tentu bisa kita bahas di ranah yang lain. tapi saya percaya, ''bahasa privat'' itu ada, dan tidak bisa dibaca dengan ''pengetian umum''.

soal bijaksana (kayak jaman orba aja, pake bijaksana, mungkin bijak ya maksudnya, hehehe), saya justru tidak berada di wilayah bijak dan tidak. sebuah tafsir, tidak bekerja untuk bijak dan tidak. sebuah tafsir juga tidak bekerja dalam ''investigasi'' yang mensyaratkan pengetahuan biografis dan dalam sebagaimana yang engkau syaratkan. bagi saya, ketika bertemu ''teks'', tafsir bisa segera bekerja. tafsir bekerja dari ''jejak'' dan tanpa ''jejak'' yang final. jadi, kalau pun dalam kerja pembacaan saya atas arumi ada terdapat kebenaran, itu hanya ''kebenaran'' dalam proses, demikian juga sebaliknya.

soal kak seto, ketakmafhuman saya hanya terletak pada keiyaan dia untuk "menghitamputihkan'' perjanjian itu. dan dengan asumsi itu, saya ''membaca'' tentang ''jeritan privat'' yang ''diumumkan''.

apakah saya punya kridibilitas? tentu, setiap orang bebas menafsir, dan biarkan kata-kata itu bekerja, untuk mendapat makna atau tidak, hehehe...
Titiw 0 0
DANG! seeruuuu banget ini komentar2 di sini antara to Ra nt & langit bara lazuardi! Hehe..
langit bara lazuardi 0 0
to Ra nt: eh satu lagi, dalam perseteruan ibu dan anak, engkau mengatakan anak selalu kalah, rasanya juga tidak. aku beberapa tahun lalu pernah menulis "ibu-ibu yang durhaka", untuk menunjukkan sisi keibuan yang ''hangus dan tercemar'', perseteruan kiki fatmala dan ibunya, bisa menjadi contoh, juga della puspita dan ayahnya...

juga tak mengapa politikana di bawa ke sini, bisa sekalian seriusana dan becanda-ana, hahaha...
to Ra nt 0 0
langit bara lazuardi: [Arumi hanya seorang anak, yang terkadang tak mengerti bahasa cinta orang tua. Dia hanya ngambek. ]

This.

Bahasa yang digunakan memang tidak mengatakan bahwa dia mencari sensasi, cuma menyebutkan bahwa dia hanya "ngambek" itu sudah merupakan sebuah judgement. Dan "ngambek" itu sendiri merupakan bentuk lain dari pencarian sensasi. Sadar atau tidak, kata-kata kecil seperti ini bisa membuat judgement yang besar. Subtle, tapi impactnya bisa dilihat dari arah komentar-komentar di sini bukan?

Dan itulah mengapa saya mempertanyakan kredibilitas anda. Sudah beberapa kali anda menuliskan mengenai infotainment yang menerobos ranah privat, sudah beberapa kali pendapat terkeluarkan di situs ini betapa opini publik disetir oleh media itu. Tapi jika kita mengutuk mereka dan kita sendiri masih kepo dengan tafsir dan prediksi, apakah kita berbeda dengan mereka?

Saya rasa tidak.

Dan tafsir yang bekerja tanpa basis yang jelas, adalah seperti sebuah sup yang hambar. Berdiri dan berbicara, tapi hanya didasarkan sebuah asumsi. Asumsi, selogis apapun itu, hanya sebuah asumsi. Tidak bisa dijadikan sebuah dasar yang kuat untuk membuat sebuah penilaian yang valid.

Kenapa? Karena asumsi akan selalu terbiaskan oleh posisi si pembuat asumsi berdiri. Maka oleh karena itulah saya selalu menanyakan basis dari sebuah tulisan. Karena seperti kita semua tahu, kata-kata adalah senjata. kata-kata bisa menggiring opini, dan opini bisa merubah jalur rejeki seseorang, terutama seorang publik figur.

Dan kita hidup di Indonesia di mana mayoritas publik itu sangat mudah digiring. Ya, sangat. Dan mayoritas itu tidak bisa membedakan mana tulisan yang subjektif, mana yang objektif. And mostly, even, can't differ which one is real and which one is for the sarcasm [curcol].

Dan inilah mengapa saya bermasalah dengan "tafsir". Karena banyak yang memakan tafsir secara mentah-mentah. Ya, setiap orang punya kebebasan berpendapat dan bertafsir. Tapi apakah tafsir itu bisa dipertanggungjawabkan ketika dilepas di ruang publik, itu urusan lain lagi. Makanya saya nanya kredibilitas, karena untuk saya tafsir yang didasarkan asumsi adalah sesuatu yang void (ini sih maksud kebiasaan politikana itu).

Jika kita bicara tafsir, mari kita bicarakan tafsirkan di sini.

Mengapa saya menolak untuk menempatkan Arumi sebagai "anak kecil yang lain" di sini?

Satu; dia langsung berjalan ke polisi. Anak-anak biasa yang dibuai mimpi kekasih akan kabur bersama kekasih itu ke tempat entah di mana dan kembali setela drama-drama antar keluarga. Ini kejadian yang sering terjadi, sering banget bahkan ketika saya SMA dulu. Jika dia berlari ke polisi berarti ada alasan yang memang butuh bantuan polisi.

Dua; dia membuat MoU itu. Keputusan inilah yang membuat saya berpikir bahwa dia sudah dewasa, dan masalahnya lebih dari sekedar anak ngambek karena tidak boleh pacaran, bahwa ada tekanan di sana. Dan kenyataan bahwa Arumi mengalah dan pulang setelah ada MoU, berarti bisa dengan aman menyebut bahwa MoU itulah tujuan dia.

Polisi dan MoU, itu adalah posisi aman secara legal. Dan pemikiran sejauh itu, bukanlah pemikiran emosional.

Masalah mengapa anak selalu kalah, saya sebutkan itu adalah karena anda menuliskan ini:

[Arumi memberi jalan infotainmen merusak nilai yang kita pegang bersama bahwa cinta ibu adalah bumi, tak pernah meminta dan selalu memberi.]

Ini membuat saya merasa bahwa anda sudah punya posisi yang kukuh bahwa romantisme kekeluargaan itu ada di sana, ketika itu adalah masalah yang dipertanyakan. Dan ketika ini semua masih abu-abu, by default semua orang pasti akan lebih bersimpati kepada sang ibu, padahal seperti yang kita tahu: Kita. Tidak. Tahu.
langit bara lazuardi 0 0
bung to Ra nt yang baik, sekarang saya merasa geli dengan komentar anda. maafkan...

persoalannya sederhana, anda tidak mau "membaca" arumi, dan seluruh peristiwa yang terjadi dengan dirinya. Anda justru yang amat sangat bermain dengan asumsi, dan "menafsir'' hanya dari situ. dan maaf, karena itu, Andalah yang tidak punya basis.

makanya, saya bilang, bacalah tentang pengakuan arumi yang terbaru, sehingga anda bisa ''kaya'' dengan basis, dan bisa melihat ''tafsir'' saya dengan kekayaan basis yang sama. sayangnya, ''teks asli'' tidak saya ''mainkan'' di sini, sehingga ''basis'' itu tidak anda lihat. jika anda pertanyakan kenapa ''data'' itu tidak saya sebutkan, jawabnya sederhana: ini artikel ringan, dan bukan disertasi atau tesis, hahaha...

mengapa saya bilang anda tidak memiliki ''basis'' yang sama? karena anda tidak tahu bahwa ''seluruh pelarian'' arumi adalah ''skenario'' yang telah disusun dan akan direncanakan oleh orang lain, yang kata arumi dan ibunya, si miller itu.

kalau anda punya ''basis'' yang sama, anda akan tahu bahwa karena ketidaksetujuan orangtua arumi, si miller itu merencanakan ''pelarian'' arumi ke polisi dan bersembunyi. dan kemudian, si miller-lah yang akan jadi pahlawan untuk menjemput arumi, sembari membawa keluarga ke tempat persembunyian itu.

tapi skenario itu tak jalan, karena arumi ragu dan kehilangan pegangan, dan dia berlindung ke komnas ham, kemudian. bukan karena dia ''terluka'', tapi karena merasa telah ''menyakiti'' orangtuanya, dan takut untuk kembali setelah peristiwa jadi berkembang ke arah yang tak dia bayangkan.

arumi disetir. arumi berjalan berdasarkan skenario. arumi bertindak di luar dirinya.

apakah itu bukan sikap anak-anak, bung to Ra nt?

apakah itu tidak dapat disebut ngambek? yang ini pun diakui sendiri, karena tidak mendapat restu pacaran dari orangtuanya?

polisi pun kemudian tidak mengambil alih kasus ini sebagai ''ketertekanan'' anak, tapi akan merespon kalau arumi mengadukan miller yang merencanakan semua peristiwa ini. (ah, pasti bung to Ra nt juga tidak tahu ''cerita'' ini kan?)

karena itu, saya tidak akan berpanjang-lah, karena terlihat basis anda yang tidak ada. dan atas dasar itu juga, saya tak ingin berdebat soal tafsir, yang anda akui anda punya ''masalah''. karena di frasa itu pun saya heran, siapa yang tidak ''bermasalah'' dengan tafsir? hehehe...

soal-soal lainnya, saya anggap kembangan yang juga anda salah tafsirkan. barangkali karena anda terlalu bermasalah itu, sehingga tidak rileks dan ''bermain'main'' dengan tafsir, sehingga satu artikel ini sudah anda jadikan ''pandangan politik'' saya yang utuh, hahaha...

demikian, saya cukupkan sajalah, karena berpanjang kata pun tidak akan ''kena'' jika anda hanya baru satu-dua hari ini saja ''menafsirkan'' infotainmen, sementara saya karena pekerjaan, telah lebiih dari 10 tahun, dan demikian, maaf sekali lagi, basis data saya sangat amat lumayan.

maturnuwun, saya suka dengan koemntar anda.
to Ra nt 0 0
langit bara lazuardi: saya memberikan "tafsir" itu justru untuk menunjukkan kepada anda betapa loose tafsir itu. tentu saja saya bisa melanjutkan dengan mengataan sesuatu seperti:

"Anda bisa percaya Arumi disetir Miller karena dia masih kanak-kanak, tapi mengapa anda tidak memikirkan kemungkinan bahwa saat ini dia disetir oleh orang tuanya? : )"

Oleh karena itulah saya menggunakan kalimat ini:

[Jika kita bicara tafsir, mari kita bicarakan tafsirkan di sini]

Sadarkah anda, bahwa itu adalah sebuah sindiran saya untuk anda?

Dan mengapa saya menempatkan posisi "tafsir" saya bertentangan dengan anda, karena saya sama sekali tidak setuju dengan sikap yang ditunjukkan dalam artikel ini oleh anda, seperti yang sudah saya tuliskan dua kali di atas:

Judgement.

Itu saja, judgement. Anda mengeluarkan sebuah statement yang menjudge, memberi keputusan akhir dari sebuah kasus dengan nada yang menurut saya men"trivial"kan seluruh kasus ini dari awal. dan sikap yang anda tunjukkan di komentar-komentar di bawahnya jelas memperlihatkan kalau anda menganggap remeh, bahkan mentertawakan masalah ini.

Masalahnya bukan pada subjek, ini bisa saja kasus Yuni Shara atau Anang-Syahrini, for all I care. Masalahnya ada di sikap dan deliverance. Deliverance anda menunjukkan sikap yang memberikan konklusi akhir, menutup ruang dari segala keraguan sementara pada faktanya anda sendiri berbasis pada asumsi yang--menurut anda--valid.

Saya benci mengulang kalimat, tapi biar saya tegaskan ulang;

[Dan tafsir yang bekerja tanpa basis yang jelas, adalah seperti sebuah sup yang hambar. Berdiri dan berbicara, tapi hanya didasarkan sebuah asumsi. Asumsi, selogis apapun itu, hanya sebuah asumsi. Tidak bisa dijadikan sebuah dasar yang kuat untuk membuat sebuah penilaian yang valid.]

Basis yang anda katakan semuanya masih berada di wilayah "katanya", seperti sewajarnya sebuah cerita infotainment bergulir. Jika sumber data anda masih berasal dari infotainment yang validitasnya selalu dipertanyakan, saya kira wajar jika saya meragukan bahkan mempertanyakan kredibilitas dari seluruh judgement yang anda berikan di atas.

Dan seperti yang saya bilang juga sebelumnya:

[Anda, secara sadar atau tidak, juga sedang melakukan apa yang infotainment itu lakukan. ]

Jadi jangan menutup diskusi terlebih dahulu, apalagi dengan ad-hominem yang anda berikan di paragraf terakhir reply anda : ).
langit bara lazuardi 0 0
bung to Ra nt, saya tidak menutup diskusi, tapi ini memang bukan diskusi.

diskusi terjadi jika dua subjek, atau lebih, punya ''dasar'' yang sama ketika membicarakan suatu masalah. punya ''data'' yang sama.

dan masalahnya, anda tidak punya data. anda hanya ''membaca dan menafsir'' tulisan saya. bukan berangkat dari data yang saya ajukan. itu saja. amat sederhana.

soal ''katanya'' yang anda ragukan validitasnya, ini juga rancu. ''katanya'' itu kan soal teknis pengutipan saja, ketika area data berada di level wicara. bahkan dalam penelitian sejarah pun, ada ''sejarah lisan'', berupa data yang berujud pelisanan, dan itu sahih!

gampangnya gini deh, anda itu tidak bergerak dan bergaul dengan lingkup artis dan kerja infotainmen. sementara saya justru berada di lingkaran itu, memburu data, dan mendapatkan pasokan data dari berbagai sumber di sekitar peristiwa.

jadi, bagi saya, ini bukan diskusi. karena sekali lagi, maaf ya, anda bahkan tidak memiliki basis ''sejarah keluarga arumi''.

demikian, maturnuwun sanged.
to Ra nt 0 0
langit bara lazuardi: [''sejarah keluarga arumi''] How can you be so sure? Do you know me or her family? Or are you referring the "history" to the "dji sam soe club"? : D

[gampangnya gini deh, anda itu tidak bergerak dan bergaul dengan lingkup artis dan kerja infotainmen. ]

Same question, how do you know, how can you be so sure, do you even know from which "family" I came from? Do you know who I hung out with, and who I actually am?

And do you realize you just judged me? : D

Dan anda sekali lagi gagal melihat permasalahan yang saya kemukakan secara lebih gamblang di reply terakhir. Jadi ya sudahlah, saya tidak ingin memperpanjang omongan yang menurut saya akan berakhir dengan ad nauseam yang membosankan pembaca. Mungkin jika suatu saat anda tertarik, anda bisa coba lakukan pembacaan ulang yang lebih komprehensif, maka anda akan lihat di mana masalah saya dengan tulisan anda ini.
fadex 0 0
wah makin seru!!! : D nunggu jawaban langit bara lazuardi dulu...

Lanjutkan diskusinya...

*Arumi udah baik2 lagi kan ama keluarganya kan?
langit bara lazuardi 0 0
fadex: hahaha... makin gak seru kok.. mungkin kalau fadex yang jawab barulah akan seru, ; )) ; )) aku menikmati saja monolog di atas.
fairyteeth 0 0
astapiwlo... berkembang jauh sekali diskusinyaa...

*gelar tiker makan popcorn*
fadex 0 0
fairyteeth: ikuuut, beli berondong jagung dulu ahhh : )
aji aditya junior 0 0
yah.... kok debatnya berenti sih....
Sundea 0 0
Dulu Dea nggak nganggep Arumi cantik. Tapi pas dia muncul di infotainment abis ilang itu ... Dea baru sadar dia sebenernyacantik.

Di situ Dea ngeliat ekspresi dan senyum khas anak-anak. Mungkin dasarnya Arumi emang masih anak-anak tapi selama ini dipaksa jadi lebih dewasa. Nggak heran, sih, kalo dia jadi rebel.

Hmmm ... sebenernya Dea agak nggak gitu percaya sama Kak Seto. Dia bikin tokoh Si Komo yg masih anak-anak tapi menurut Dea karakternya sangat Bapak-bapak ...

Silahkan login untuk memberikan pendapat