Sarang Kuntilanak di Televisi 3

Jumat, 7 Mei '10 23:46

Ayu Utami, dalam Si Parasit Lajang, mengidentikkan televisi sebagai kotak penghasil kuntilanak. Menurut persepsinya, aneka macam kuntilanak dengan segala variannya diproduksi dalam kotak ajaib ini. Pendeknya begini. Anda bisa menyaksikan kuntilanak dalam balutan sprei putih dan rambut dengan sasakan yang dahsyat terbang di antara pohon sawo dan tertawa kakak-kikik -pengennya- menyeramkan.

Di channel lain, kakak-kikik terdengar juga dari kuntilanak-kuntilanak cantik yang lebih fashionable dari kuntilanak yang nangkring di pohon sawo. Tapi sayang bibir mereka kebanyakan monyong dan basah kuyup oleh mantra-mantra andalan berbunyi "Mungkinkah..", "Akankah.." dan kata tanya lain yang selalu diawali dan diakhiri dengan nada tinggi agak sopran. Kuntilanak-kuntilanak ini umumnya pandai meramal. Tidak ada artis yang pacaran, menikah, cerai bahkan kentut tanpa diketahui terlebih dahulu oleh kuntilanak ini. Ibu-ibu rumah tangga beserta pembantunya senang sekali menonton mereka.

Yang ketiga adalah kuntilanak perpaduan dari kuntilanak pertama dan kedua. Tabiatnya sama dengan kuntilanak pohon sawo. Tapi performa tidak kalah gaya dengan kuntilanak fashionable. Kuntilanak jenis ini, bukan bibirnya saja yang setajam silet. Tatapan matanya yang selalu bercelak tebal pun terkenal canggih. Kuntilanak ini perilakunya paling tidak terpuji dari semua teman-temannya. Mereka senang menyiksa perempuan-perempuan lemah gemulai dengan gagang sapu dan berbuat jahat dengan orang tua (biasanya yang sakit keras dan pakai kursi roda). Setelah puas melakukan perbuatan-perbuatan tercela, seperti umumnya kuntilanak, ia akan tertawa kakak-kikik juga. Ibu-ibu tidak suka dengan kuntilanak jenis ini.

Channel lain tampaknya kurang menguntungkan bagi semua spesies kuntilanak. Channel ini menayangkan para lelaki, kebanyakan sudah tua, berjenggot, bersorban dan berjubah putih lebar berkibar seperti sprei. Dari segi penampilan memang agak mirip dengan kuntilanak pohon sawo. Lelaki ini juga suka merapalkan mantra, persis seperti kuntilanak fashionable. Tapi mantra ini ditakuti oleh para kuntilanak karena bisa menyebabkan mereka terkurung dalam botol bensin. Lelaki-lelaki itu biasanya memulai ritual menangkap kuntilanak dengan senam khusus ala perguruan mereka. Gerakan-gerakannya hampir sama dengan senam untuk ibu hamil. Setelah dirasa sudah berhasil, mereka meyakinkan penonton dengan senam penutup berupa kejang-kejang tak terperikan. Mereka memberi teori bahwa menangkap kuntilanak tidak semudah menangkap kodok. Harus punya ilmu hebat yang riskan menimbulkan gejala ayan.

Tahun ini, tampaknya hanya kuntilanak fashionable dan kuntilanak celak tebal yang masih menjadi produk utama kotak kaca bernama televisi. Kuntilanak pohon sawo bermigrasi ke layar lebar. Mengadu nasib ke bioskop. Beranak pinak jadi bermacam-macam merk. Ada yang gendong jamu, jeruk purut, tali pocong, cassablanca dan lain-lain. Peminatnya banyak. Tak heran mereka meninggalkan kampung halaman dan memilih berkarir dengan bantuan si bos Shanker yang doyan yang angker-angker.

Kali ini yang banyak bersinar di televisi adalah anak-anak kunti lain yang lebih muda, fresh dan banci tampil. Mereka harus lolos audisi hanya untuk dikuntit kemanapun mereka pergi. Namanya saja acara penguntit, ya kerjaannya nguntit-nguntit. Mereka pun harus jago nangis, jago acting, dan di kebanyakan kasus harus jago selingkuh. Biasanya anak-anak kunti ini harus berpelukan dengan Om-Om Senang, check-in di hotel atau ajojing di diskotek, dan dishoot dengan kamera yang katanya tersembunyi (lihat Helmy Yahya dan Fani Rahmasari dalam Just Alvin di Metro TV edisi "Realita Reality Show"). Bahkan ada beberapa reality show dalam satu channel televisi yang bisa membuat sepasang manusia berkenalan, jatuh cinta, berpacaran, cemburu dan berselingkuh hanya dalam satu hari. What a garbage!

Sinetron, acara gossip dan reality show. Kuntilanak dan anak kunti kejar tayang. Ketiganya adalah yang berimplikasi pada degradasi kesadaran masyarakat untuk membangun parameter kualitas.

Sebenarnya ada satu lagi yang saya khawatirkan. Acara musik. Maksud saya acara musik yang kurang berkualitas tentunya. Kalau memang banyak pelaku musik yang orang bilang tidak memiliki kualitas, seharusnya acara musiknya yang bertugas memfilter, agar penyakit tak tanggap kualitas itu tidak meracuni banyak masyarakat. Salah satunya dengan tidak membanggakan konsep live show dengan lip sync. Apa bedanya dengan dengerin kaset??? Bedanya sih cuma bisa liat penyanyi/bandnya jingkrak-jingkrak nari-nari senyam-senyum goyang-goyang sambil mulut monyong komat kamit, bibir kemana suara kemana, eh malah rok sama toket yang kemana-mana. Sekalipun suaranya tidak asik, saya tetap salut untuk penyanyi/band yang tetap percaya diri mau nyanyi sendiri. Setidaknya mereka tidak cemen.

Di Indonesia, sejatinya konsumen bukanlah raja sesungguhnya. Mungkin mereka tetap yang menjadi raja yang harus dituruti pasar. Namun di belakangnya, raja yang satu ini dicekoki oleh "baby sitter" yang secara persuasif (untuk tidak menyebut provokatif) mengajarkan apa-yang-harus-disukai-hari-ini. Masyarakat dikomando untuk beramai-ramai menyukai ini atau itu.

Di Amerika Serikat, trend warna pernah disebarkan oleh pelaku modal.

"Tahun 1934, The American Tobacco Co. repot memasarkan rokok Lucky Strike di kalangan wanita. Setelah survai, diketahui bahwa warna bungkusnya yang hijau waktu itu tidak cocok untuk trend warna baju yang sedang kuat. Maka bagian pemasaran Lucky Strike mendirikan "biro mode warna", mensponsori satu pesta dansa dengan tema hijau, membujuk para redaktur majalah untuk menyebarkuaskan demam hijau, bahkan membeli studio couture Prancis. Hijau pun jadi hot. Di akhir tahun, beribu-ribu wanita perokok membeli Lucky Strike." (Goenawan Mohammad dalam "Warna", Catatan Pinggir dari Tempo Interaktif Edisi 1 Februari 1997).

Hampir sama dengan Orde Baru ketika warna kuning disebarkan melalui operasi "kuningisasi" di tempat-tempat strategis di Jawa Tengah. Bedanya, arahan untuk menyukai warna kuning dikerahkan oleh kekuasaan beserta bedil dan anjing-anjingnya. Dengan kedipan mata yang pasti ditakuti coro-coronya.

Sekarang ini, tak perlu upaya keras (apalagi bedil) untuk mengarahkan masyarakat menyukai film horror, sinetron berjudul nama orang, pergunjingan selebriti, reality show penguntit orang atau acara musik live show yang vokalisnya tidak benar-benar menyanyi.

Masyarakat tidak punya banyak pilihan ketika, misalnya, televisi mereka di waktu yang sama 80%-nya menayangkan acara gossip. Akhirnya kelompok masyarakat yang memiliki waktu sangat luang untuk duduk di depan televisi saat "jam-jam gossip" pun dengan sendirinya suka menggosip. Kelompencapir akan suka mendengar, membaca dan memirsa apa saja yang disodorkan penyuplainya. Sedihya, pemilik program menyadari ini, dan hukum komersil membuatnya memperbanyak dan memperbanyak lagi produk sampah yang membuatnya kaya itu.

Menafikan kualitas (dan menggantinya dengan memanjakan konsumen melalui kuantitas) sebenarnya bukan monopoli Indonesia. McDonalds menerapkan penekanan kuantitas ini pada produknya, Big Mac. Yaitu, burger yang dibikin besar. Konsumen digiring agar percaya bahwa mereka mendapatkan sejumlah besar makanan dengan sedikit harga (George Ritzer dalam "Ketika Kapitalisme Berjigkrang: Telaah Kritis terhadap Gelombang McDonaldisasi"). Di Indonesia (dikerucutkan pada program televisi, dan dipersempit pada kasus sinetron), kuantitas ini ditelan masyarakat dan memberi "teori" bahwa memang acara seperti ini yang lagi trend. Mereka pun senang-senang saja dimanjakan dengan hiburan seperti itu. No more choice.

Seharusnya penyuplai acara televisi yang berperan aktif. Pelaku modal, dalam hal ini iklan komersial, memilih menaburi program televisi yang memiliki rate tinggi. Rating yang tinggi dilihat dari survai kepada pemirsa televisi. Pemilik program pun berlomba-lomba menarik hati pemilik modal dengan meniru program-program yang katanya be-rating tinggi. Masyarakat semakin silau oleh bling-bling layar kaca televisi yang memproyeksikan tayangan-tayangan yang -tanpa tendensi apapun saya katakan-membuat saya terperangah oleh ketidakmutuannya. Jauh panggang dari api, jauh dari kualitias.

Upaya untuk menarik minat masyarakat terhadap ketidakbermutuan ini pun tidak terlalu rumit. Cukup dengan iklan yang ciamik, atau dipantik dengan pencontohan oleh para artis-artis yang ciamik pula. Sinetron, misalnya, akan naik ratingnya kalau aktrisnya banyak diekspos di acara gossip. Tidak perlu berprestasi loh, hanya agar seorang selebriti diperbincangkan di media pergunjingan. Representasinya bisa diamati dari lirik ini:

"Rekam, dan memamerkan badan dan yang lainnya

Mungkin hanya untuk kenangan..

Ketika birahi yang juara, etika menguap entah kemana.."

(Efek Rumah Kaca - Kenakalan Remaja di Era Informatika)

Pada akhirnya, kuntilanak, baik terbungkus sprei atau telanjang sama sekali, sama-sama menarik untuk dinikmati.

Sudahkah Anda, mahasiswa penentu generasi, mematikan televisi hari ini? Mahasiswa di Orde Baru melawan rezim. Mahasiswa sekarang, terutama yang terlalu pusing dengan pergerakan ini pergerakan itu, revolusi ini revolusi itu, yang paling relevan di zaman ini adalah, perlawanan terhadap KETIDAKBERMUTUAN.

Jadi, matikan televisi! Hidupkan TV-Tuner! (LOH?)

 

Artikel ini bisa dilihat di

http://arletafenty.wordpress.com/2009/06/27/kuntilanak-dan-televisi/

 


Tag: sinetron, televisi, reality show, gossip

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ipool 0 0
(Efek Rumah Kaca - Kenakalan Remaja di Era Informatika)

+100 : D
gigides 0 0
tulisannya keren loh mbak...!
maharrani 0 0
Melihat kata "sejatinya" di artikel ini saya jadi ingat salah satu kuntilanak ; ))

Great post! : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat