Gary Iskak dan Topeng Kita 25
Jumat, 30 Apr '10 09:12
''Saya jadi malas menonton 'Buku Harian Baim' karena ada Gary Iskak. Kayaknya, tidak pantas dia bermain di situ, secara kehidupan dia tidak sebaik di sinetron itu. Malas banget deh....''
Begitulah tulis salah satu pembaca Nyata di surat pembaca. Dan sepanjang kasus Gary-Risma-Richa meramaikan tabloid dan teve, surat pembaca senada sudah tayang beberapa. Intinya, pembaca --yang juga penonton-- merasa Gary yang playboy dan tak bertanggungjawab, sangat tidak pantas untuk memerankan sosok ayah Baim di dalam sinetron itu. Penonton merasa ''tersakiti'' dan tidak rela melihat Gary bersanding dengan Baim yang sakit-sakitan dan lugu, juga dengan Inneke Koesherawati yang lembut, tabah, penyabar, dan penuh Tuhan.
Lucunya, suara satu-dua pembaca itu ternyata bisa menjadi ''mayoritas'' di kalangan penonton. Sinetron ''Buku Harian Baim'' ternyata mengalami penurunan rating yang cukup signifikan. Produser pun menyadari ''kehadiran'' Gary yang ''merusak'' imajinasi penonton. Tapi, karena kontrak dan profesionalitas Gary yang tak pernah mangkir, haknya sebagai pemain tak bisa ditangguhkan.
Gary tidak sendirian dalam hal ini. Jauh sebelum dirinya, penonton juga pernah merasa ''tertipu'' oleh Zaskia Adya Mecca. Gadis cantik yang selalu berakting saleh, sabar, penuh ketertundukan pada perintah Tuhan itu, tertangkap kamera tengah merokok dengan posisi duduk yang ''nakal''. Akibarnya, foto merokok itu membakar seluruh imaji penonton tentang sosoknya yang amat bertolak-belakang. Hujatan, caci-maki, sampai tuntutan agar dia meminta maaf pun datang. Banyak yang merasa malu telah mengidolakan dia, dan bertanya-tanya, apakah aktingnya itu tidak merupakan bagian dari kehidupannya.
Dan Zaskia meminta maaf. Dia mengaku khilaf.
Barangkali, itulah kali pertama, sosok imajiner --di dalam sinetron-- dapat menginfiltrasi karakter alamiah dari sang tokoh, dan membuat sang pemeran menyelaraskan hidupnya seperti watak yang dia mainkan. Hidupnya, atas permintaan banyak penggemar, diarahkan agar sesuai dengan karakter yang dia mainkan. Dan Zaskia mau. Karena, baginya, barangkali, akting adalah perpanjangan dari kehidupan nyatanya.
Tapi Gary berbeda. Dia tak meminta maaf.
Dia tak merasa bersalah.
Dan dia benar. Penonton tak dapat mendikte hidupnya. Dan dia tak harus merasa telah ''menipu'' penonton karena aktingnya yang berbeda dari kehidupannya. Akting adalah suatu wilayah imaji, yang boleh sama atau berbeda dengan dirinya. Sebagai ayah Baim, dalam sinetron itu, sosok kebapakan dia yang alamiah, lembut, dan juga penyayang, tidak bisa diperbandingkan dengan karakter asli Gary yang bertolak belakang; menolak mengakui anaknya dari Risma, dan meragukan benihnya dengan Richa.
Sebagai sosok imajiner di dalam sinetron itu, nilai peran yang harus diterakan, estetika pengarakteran, dan bukan sudut moral. Dengan kata lain, keseluruhan Gary di dalam sinetron itu harus diukur dalam totalitas cerita, dunia peranan. Penonton harus masuk ke tubuh cerita, ke dalam dunia sinetron, dan membaca kehadiran Gary di dalamnya. Bukan di luar cerita.
Namun, tampaknya, hiperealitas semacam itu sudah jadi penyakit manusia modern. Penonton kehilangan batas antara dunia tontonan dan realitas keseharian. Yang tayang di teve terasa lebih nyata daripada kenyataan sebenarnya. Seakan semua yang tampil di televisi adalah kenyataan yang didekatkan, reality show. Padahal, ideologi televisi bukan ketertundukan pada realitas, tapi show-nya. Kehilangan jarak itu membuat penonton kehilangan persepsi antara cerita dan berita. Semua saling tindih, tak terpisahkan. Gosip berpadu fakta, data digosipkan, imaji dinyatakan, kenyataan diimajikan.
Semua Baur. Nyaris tak ada batas.
Penonton pun tak bisa menarik garis tegas.
Gary dalam cerita dan Gary dalam berita dipandang sebagai sosok yang sama. Tentu, karena ''kedua'' Gary itu tetap hadir di dalam kamera. Dan kita pun percaya, semua yang tampil di dalam kamera bukanlah kealamiahan yang nyata. Kamera = akting. Realitas di dalam kamera adalah kenyataan yang sudah dipiuhkan, sudah dibentuk, diarahkan, ke segmen tertentu, untuk citraan tertentu. Kehadiran kamera adalah bentuk dari kesadaran bahwa ada yang selalu menonton kita.
Dan karena itu, kita memang tak akan dapat menemukan Gary yang ''asli'', Zaskia yang ''asli'', seseorang yang ''asli''.
Identitas menjadi subjek yang bergerak, dan terdefenisikan hanya di dalam fase-fase tertentu.
Selalu berjarak. Mewaktu. Berubah. Tak tergenggam.
Carl Gustav Jung menyebut ''identitas menyaat'' itu sebagai persona, topeng. Dan menurutnya, orang tidak akan mengenakan topeng yang sama untuk setiap kesempatan atau pada setiap waktu dan tempat. Setiap topeng adalah merupakan respon terhadap situasi atau individu yang spesifik.
Akting pun sebuah topeng.
Masalahnya, topeng akting itu bukan sebuah pilihan sadar, melainkan dipilihkan oleh orang lain untuk dimainkan di dalam satu situasi yang telah direncanakan. Tak heran jika Koyuki Kazahana, Putri Salju dalam Naruto The Movie: Ninja Clash in the Land of Snow pernah berkata, ''Menjadi artis adalah pekerjaan rendah yang bisa dilakukan semua orang. Bayangkan, kau harus menjalani hidup yang dipilihkan oleh orang lain.''
Jadi, penonton yang gerah pada Gary di "Buku Harian Baim'' sebenarnya tak menyadari bahwa Gary cuma objek. Dia boneka dalam ''kehidupan'' sinetron. Kebapakannya yang lemah lembut itu adalah topeng yang ''terpaksa'' dia kenakan. Sedangkan Gary yang mencampakkan Risma dan Richa adalah Gary dalam topeng yang lain. Membandingkan ''kedua'' Gary itu --juga ''dua'' Zaskia-- adalah menilai dua topeng, yang barangkali tak akan pernah dikenakan Gary dan Zaskia lagi.
Lihatlah, dia sudah mendatangi Risma, dia sudah menunggui Richa melahirkan.
Lihatlah, Risma mencium tangan Gary, dan Richa tersenyum bahagia membelai suaminya itu.
Risma dan Richa juga telah mengganti topeng, dari istri yang menghujat, mengadu ke media, ke istri yang bahagia, meminta media mengerti.
Dan kita, jujurlah, bukankah juga tengah mengenakan topeng ketika melihat ''sinetron'' mereka itu, entah itu sebagai berita atau cerita. Tak ada bedanya.
Jadi, sebagai sesama pemakai topeng, yang juga berganti-ganti, marilah kita melihat Gary dan para perempuannya itu dengan riang-gembira saja.
Toh, kelak, kita alpa pada Gary, Risma, dan Richa, dan dalam topeng yang lain, barangkali jadi memuji mereka, seperti kita yang sudah menerima Inneke Koesherawati dengan topeng barunya.
Mari tertawa saja, karena kita dapat menyerahkan semua ''sandiwara'' ini pada kekuasaan Sang Sutradara.
Terkait:
-
Syahrini dan Cobaan Itu
Kamis, 26 Mei '11 13:21 -
Anang dan Kemenangan Ingatan
Kamis, 12 Mei '11 17:26 -
Udin Tengu dan Gajah KPI
Rabu, 20 Apr '11 14:11
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
to Ra nt: nggak ada matinya
-
Bieb: yoi banget
-
cabiledi: nggak ada matinya
-
kakilangit: yoi banget
-
sofie: yoi banget
-
njoups: keren
-
fadex: nggak ada matinya
-
MiMa: keren
-
ndableg: keren
-
Titiw : keren
-
hni: keren
-
maharrani: nggak ada matinya
-
mokas: yoi banget
-
warm: keren
-
Chika: keren
-
kmonoarfa: keren
-
aliya muafa-bodjyoale: yoi banget
-
Coker: yoi banget


Komentar:
Mas..banyak warga Curipandang yang pingin ketemuan.
Datanglah sesekali di #klubuku atau #klubfilm
Atau mau main ke markas kami juga boleh, pintu selalu terbuka lho.
Tulisannya bagus banget. Coba ada ya tulisan seperti ini di mainstream media
iyya, kapan-kapan mampir deh ke markas, sekalian pulangnya bawa pintu markas ya, kebetulan lagi butuh untuk mengganti pintu rumah yang udah rongsok, hehe..
ada kok di media mainstream...
ah mas, keren pisan ini tulisan!
fadex: wahh maaf kalau terlalu lama menunggu..
kan cerita bisa dibelok2in kemana aja seperti produser mau..
sofie: sebenarnya, sebelumnya ada juga Anji Drive dan lainnya, tapi karena tulisan pesanan, tidak tampil di sini, deh...
apapun tayangannya ya musti sesuai alur yg ada di otak penonton,
dan ga smua tentu maunya yg bagus2
ah komen apa pula saya, dan woh ketemu sampeyan lagi disini, sip bos !
masa kita pernah bertemu, warm?
Chika: iyya, benner banggets
contoh gampangnya begini. kita ingin makan serabi, karena sudah kelaparan. lalu kita ke pasar. mencari serabi. tidak ada. dan perut harus diisi. maka, getuk goreng, telo goreng, martabak, apa pun, itulah yang kita beli.
artinya, teve dan ph tidak ''menjual'' yang penonton butuhkan, tapi ''memaksakan'' agar penonton butuh. pasar itu hasil ''bentukan''. selera pun hasil bentukan. ahh saya tak sempat untuk menuliskan teori-teori tentang hal itu..
kembali ke gary iskak, apakah sosok dia menggambarkan kondisi mutkahir moral masyarakat kita sekarang ya?
coba bandingkan dengan Andi Soraya misalnya atau jupe yang ngotot mo jadi wakil bupati pacitan. (apa coba hubungannya)
hahahah. ditunggu tulisan lainnya yak.
diriku tidak di jakarta, jadi susyah kalau kopdaran...
Silahkan login untuk memberikan pendapat