Nia dan Kebahagiaan Prasangka 15

Rabu, 17 Mar '10 21:23

Nia Ramadhani, apa yang ada di pikirannya, seakan semua infotainmen tahu. Raga dan gestur Nia tak lagi menjadi puisi, sehingga tak butuh tafsir, melainkan objek di depan mikroskop --televisi-- yang benderang, tak menyembunyikan apa pun. Di sekujur tubuhnya, infotainmen melihat tato berupa tulisan terang: materi.

Maka ketika dia menikah dengan Adrie Bakrie, April nanti, itu adalah skenario yang telah diketahui.

"Setelah Reza dan Bams, memang Ardie yang paling bergelimang materi," kata narator "Insert Investigasi", Minggu kemarin, di Trans TV

Entah siapa yang memulai, tapi tato gadis penggila materi itu memang telah menempel di dahi Nia, dan diabadikan televisi. Ketika dia berkasih dengan Reza, materi pun menjadi prasangka yang diterakan orang padanya. Apalagi kemudian dia memadu cinta dengan Bams, stempel itu bahkan dicapkan langsung ke keningnya.

"Nia itu gadis matre, tidak cocok dengan Bams," demikian Hotma Sitompul pernah berkata, yang membuat ibu Nia, Chanti Mercia, meradang.


Tanpa restu, hubungan itu tak langgeng berlalu. Nia dan Bams berpisah. Tapi stempel materialistis itu, makin tertera padanya. Televisi pun mengarahkan kamera, mengira-duga, siapa sasaran Nia selanjutnya.

Dan prasangka itu mendapatkan titik temu. Nia dikabarkan dekat dengan Ibas, putra bungsu Yudhoyono. "Iya, saya kenal. Dia baik dan dewasa," terang Nia kala itu, seakan sengaja membubuhkan mesiu ke dalam senapan kamera. Maka, berminggu-minggu, infotainmen berspekulasi, mencari bukti asmara itu, dengan tak meninggalkan jejak materialistik Nia. Hasilnya, kisah itu tak menjadi nyata. Ibas, barangkali demi citra ayahnya, tak mengikutkan godaan asmara itu. "Tawaran" Nia tak membuatnya mengambil lebih dari yang diberitakan media. Nia, di mata media, tak berhasil melemparkan lasonya.

Tapi cerita tak berakhir, Nia tetap meninggalkan jejak untuk dapat dilacak. Maka, kamera pun menjeratnya di Makasar, tengah berdua dengan Adnan Purisa, putra dari Gubernur provinsi itu. Namun kisah ini tak berlanjut. Nia kemudian seperti menghilang, dan lalu kembali dengan kejutan: menggandeng anak Abu Rizal Bakrie.

Jadi, tak ada yang salah dengan media, karena Nia memang mengarahkan biografi hidupnya ke arah yang diinginkan infotainmen. Dia tak mencoba membantah atau mengelak. Barangkali, dia juga menyadari, melawan pencitraan itu akan menjadi kesia-siaan. "Mau tanya apa lagi? Soal saya yang matre ya? Biaya pernikahan? Lumpur Lapindo? Kenapa sih tidak mengenai suasana hati kami?" katanya.

Ya, Nia benar. Hari-hari ini, infotainmen dan tabloid hiburan, memasang angka tebal, 100 miliar rupiah, sebagai biaya hajatan pernikahan itu. Angka yang luar biasa besar. Dan, tak masuk akal. "Coba katakan pada saya, bagaimana menghabiskan uang segitu untuk pesta," kata Prya Ramadhani, ayah Nia.


Tapi infotainmen dan tabloid tak peduli. Kebenaran dan fakta bukanlah hal yang dicari. Ada yang lebih penting dan menjual daripada fakta, yakni sensasi. 100 miliar adalah sensasi yang sensual, dapat dibayangkan meski tak mungkin diwujudkan. Soal kesiapan dan suasana hati Nia-Ardie? Basi.

Tapi di sini juga kesalahan infotainmen. Media ini tak menempatkan cerita Nia-Ardie dalam porsi yang adil: kisah cinta. Pernikahan, janji suci sebagai tanda bersatunya dua insan untuk memenuhi perintah Tuhan, dipandang tak lebih hanya sebagai "perampasan" kekayaan. Nia menjual status selebritinya untuk mendapatkan kemudahan selebrasi. "Wajar, jika akhirnya Nia berani meninggalkan dunia selebriti setelah menikah nanti," kata narator "Insert Investigasi" lagi, "Karena dia akan menjadi ratu baru di kerajaan bisnis Bakrie."

Nia, dengan biografi asmaranya, disangkakan media mengarahkan jalan cinta.

Media dengan semena-mena mendudukkan cinta sebagai budak dari pesona ragawi Nia.

Padahal, "Jangan mengira kau dapat mengarahkan jalannya cinta," kata Gibran, "sebab cinta, apabila dia menilaimu memang pantas, akan mengarahkan jalanmu." Nia tak punya kuasa apa pun. Termasuk jika ingin menukar cinta dengan materi. Karena, "Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri."

Tentu, suara Gibran terdengar usang di hari-hari ini. Bukan karena ungkapan itu tak memiliki kebenaran, melainkan kita sendiri telah lama erosi dalam memahami cinta. Kita hidup di masa ketika relasi pria dan wanita hanya dipandang sebagai perbarteran raga dan kaya. Makna hidup kita kelola dengan keahlian berprasangka. Di televisi dan dunia maya, dalam kelindan imajinasi dan relasi virtual itulah, kini kita menemukan bahagia. Dan Gibran? Halah! Itukan nostalgila!

 

 

 

 

 


Tag: bintang, entahlah, nia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

fadex 0 0
wuiihh... seperti biasa, keren om tulisannya.

tapi kasihan juga jadi nia ramadhani, siapa pun pasangan yang dipilihnya pasti jadi gunjingan. dan sayangnya dia memang menegaskan itu...

tapi emang bener nia matre ya? hehehe.

langit bara lazuardi 0 0
fadex: makasih pakde. ini ditulis terburu-buru, hehehe... maklum, pesanan. jadi seperti mesinlah, mengetik tanpa ketenangan refleksi...
fadex 0 0
langit bara lazuardi: hihihi.. saya merasakan itu juga...
biasanya banyak kutipan 'hadist', tapi kok ini aga sedikit ya : D
langit bara lazuardi 0 0
fadex: hahaha... hadits paan? cuma selinapan ingatan saja. yah seperti mcd-lah, kudu siyap saji, asal renyah. thanks ya...
sofie 0 0
hah pesanan? siapa yang pesan langit bara lazuardi . aku juga mau pesan donk seminggu dua kali : p *kabuuuurrrr*
langit bara lazuardi 0 0
sofie: tanggung! 14 kali seminggu ya? hahahahaha
Chika 0 0
aaaah tulisan yang benar-benar keren! menguak dari sudut pandang yang sama dengan infotainment, namun dengan bumbu yang amat berbeda.

gosip nia matre itu memang sudah melebar. bukannya generalisasi sih, tapi kebanyakan artis memang dapat pasangan orang tajir, IMO.
maharrani 0 0
*tepuk tangan*

Coba ada ya tayangan infotainment yang seperti ini.
Nggak berprasangka, hanya mengabarkan tapi in a beautiful way : )
Titiw 0 0
Eish.. tato materialisme tertempel di jidat nia..? ck ck ck.. Eh denger2 ya, kawinan mereka bakal didatengin STING! masya Allah!!!! Eike juga mau sok2 jadi catering, bantu2 di situ asal bisa ngelihat si mas ituh.. Hohoho..
langit bara lazuardi 1 suka | 0
Chika: hahaha kan cepat saji dengan bumbu baru, biar serasa mcd...

maharrani: infotainmen mah bermain prasangka, dan memberi justifikasi, atau menuntun pembaca agar sama dengan sebangun dengan cara eja ala "investigasi" yang gak berupa pendalaman apa pun, hehehe...

langit bara lazuardi 0 0
Titiw : bukan hanya sting, juga STANG, stang speda, hahaha...
njoups 0 0
mantap nih ceritanya hohohohoho

ga heran deh kl nia ramadhani kek gitu
Natalixia 0 0
*bow in respect*

Keren. Suka banget dengan tulisan ini. Kejam memang dunia infotainment, tapi memang makna cinta mengalami erosi, seperti juga banyak makna lain di dunia.

*aih*
langit bara lazuardi 0 0
njoups: lha, kok malah mewakili infotainmen? hehehe...

Natalixia: aih, pembenci infotainment nih, jadi merasa punya teman, hahaha
Natalixia 0 0
Pembenci infotainment? Hmm.. entah ya, tapi yang jelas aku nyaris gak follow newest gossips in infotainment. Gak gaul dan seringkali telat tau : D.. Pas dapet gossip agak awal, bawaannya kaget "eh kok gua gaul juga ya" : D : D

*hehe apaan sih*

Ngomong-ngomong pernah lewat daerah menteng dan ada sepasang insan lagi foto-foto, malam hari jam 7an, di atas sepeda motor berdua, lengkap dengan fotografer dan asisten gitu. Temen gue kekeuh kalau itu adalah Nia dan Bakrie's son.. Gue... ngga ngenalin mereka, dan ga melototin muka mereka sih : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat