ONE NIGHT AT 39th 11

Senin, 15 Mar '10 16:13

"Terus terang saya sedih dengan kondisi perfilman di Indonesia. Banyak film-film komersil yang bagus, justru sepi penonton, sementara film dengan kualitas asal-asalan justru mendapatkan ratusan ribu penonton. Saya capek, dan akan pindah ke Zimbabwe, dalam waktu yang tidak lama lagi," kata Joko Anwar.

Kata-kata yang diucapkan Joko (entah main-main, entah serius) itu membuat saya tercekat.

Bukan, bukan karena sentimentalitas idola yang membuat saya kehilangan apabila "orang sinting Indonesia" itu pergi beneran ke luar negeri. Namun ucapan Joko itu seolah menggambarkan betapa susahnya mempertahankan idealisme di negeri dengan tingkat kreativitas yang sangat beragam ini. Sebuah pernyataan yang nyelekit, sekaligus tamparan keras.

Saya termasuk orang yang optimistis, dengan keberagaman yang dimiliki, Indonesia akan menjadi pusat pengkajian dan pertumbuhan budaya dan seni paling maju di Asia, pada suatu saat nanti.

Lihatlah produk film Indonesia saat ini, sangat beragam. Satu sisi kita masih belum menemukan identitas yang tepat untuk sesuatu yang disebut film Indonesia, namun akulturasi berbagai budaya (thanx berkat DVD bajakan, yang membebaskan kita menonton film dengan refrensi budaya manapun!) telah menyebabkan puluhan style film Indonesia telah lahir  dan ada. Mainstream maupun indie. Kelas A maupun kelas B. Film murahan maupun blockbuster. Genre eksperimen hingga slasher.

Pasca reformasi, industri film seolah sedang mencari identitas bentuk dan posisioningnya. Akankah menjadi sebuah bagian keberagaman budaya, yang menjadi salah satu media pencerdasan bangsa; Sebuah produk industri yang berujung pada orientasi keuntungan dan sebuah ladang yang menggiurkan; atau menjadi sebuah alternatif hiburan sebagai sebuah bentuk pelarian dari rasa penat disela-sela aktivitas sehari-hari.

Pada masa pencarian posisioning, identitas dan bentuk inilah kita dihadapkan pada berbagai pilihan karya. Mulai dari ekperimental ala Garin, komedi urban ala Nia Dinata, action silat ala GH Evans, slasher ala Mo brother, Fantasi ala Joko Anwar, satir komedi ala Hanung, horor murahan ala helvi kardit, Koya Pagayo, dan entah siapa lagi sutradara di bidang film berkategori  ini, atau dokumenter ala ani ema susanti.

Masyarakat akan dihadapkan pada banyak pilihan. Tidak hanya terpaku pada Setan budeg, Hantu jembatan ampera, Pocong datang bulan, Tiren, namun juga disuguhi dengan Keramat, Rumah dara, Fiksi., Merantau, Get MArried, Love, Kala, Pintu Terlarang, Pertaruhan, Kado hari jadi, Ayat-ayat cinta, dan Generasi Biru. Melihat kondisi seperti ini, saya sangat yakin keberagamanan film kita itu akan menghantarkan Indonesia menjadi raksasa film art asia. Bukan Hongkong, bukan Jepang, bukan Malaysia. Kita punya segudang film dan pembuat film karbitan yang buruk. Namun kita juga memiliki puluhan sineas yang berdedikasi, mapan dalam pengertian refrensi film yang dimiliki, dan yang terpenting mengetahui fungsi lain sebuah film: sebagai pernyataan sikap.

Demokrasi sedang menyentuh berbagai lini kehidupan di Indonesia. termasuk dalam bidang film. Semuanya dibiarkan lahir, tumbuh dan berkembang. Dan ketika ada satu atau dua diantara film-film tersebut yang melawan norma, etika, dan nilai yang berlaku, biarkan masyarakat yang akan memberi hukuman tersendiri. Ini semua adalah sebuah proses. Karena membiarkan semuanya tumbuh berkembang, dan memberikan kuasa penuh pada publik untuk menilai, adalah ciri khas utama dari Demokrasi.

Ongkos demokrasi memang mahal. Teramat mahal malah. Namun demokrasi adalah sebuah sistem yang akan membiarkan hati nurani tetap hidup dan memilih yang baik. Kecerdasan masyarakat hanya dapat diciptakan melalui sistem ini. Karena demokrasi memberikan sebuah ilmu terbaik yang bernama pengalaman. Demokrasi akan menumbuhkan mayarakat madani dalam berbagai bidang. termasuk perfilman.

Saya tidak terlalu mengerti tentang ilmu politik. Namun hakikat luhur demokrasi yang saya tulis tadi, tidak meleset terlalu jauh nampaknya. Masyarakat Indonesia disuguhi karya tidak bermutu secara masif sejak awal 90-an (seiring lahirnya Multivision Plus yang memproduksi sinetron kacang di jagad pertelevisian tanah air). Atau apabila ingin diurut lebih mundur, sejak jaman orde baru bergulir.Dan baru disuguhi secara masif karya film yang baik dari berbagai belahan dunia sejak reformasi digelindingkan. Tinggal masalah proses. Karena saya sangat yakin cukup banyak para movie maker kita yang sudah merubah paradigma standar film yang akan dibuatnya, termasuk pada para penonton.

Karya-karya bagus harus tetap ada untuk mendampingi karya-karya busuk tadi. Sebagai sebuah bentuk penyeimbangan. Pertumbuhan kecerdasan dan kesadaran masyarakat akan karya yang baik saat ini tumbuh semakin bagus. Film terlaris masih dipegang oleh film bermutu dengan judul "Sang pemimpi". Film-film memorable masih dipegang oleh karya-karya yang bukan hanya ingin cari untung.Tidak ada yang dapat melupakan rumah dara, merantau, atau pintu terlarang. Tapi sudah banyak orang melupakan film "Tiren( mati kemaren).

So...ketika Joko mengucapkan kalimat itu, saya tercekat.

Takut.

Karena indonesia akan kehilangan seorang pembuat  film stylish dengan story telling brilian dan penceritaan yang tidak biasa, dan otomatis menghilangkan film dengan jenis tersebut di Indonesia.

Bagaimana jika langkah ini diikuti oleh sutradara brilian lainnya. Riri Riza, Nia Dinata, Mo brothers, Hanung Bramantyo. Monti Tiwa, bahkan Garin Nugroho?

Berapa banyak jenis dan genre film dengan kualitas baik, akan hilang?

Sehingga yang tersisa hanya film-film sampah dengan sutradara karbitan...

 

 

 


Tag: Film, diskusi, ajang

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Bieb 0 0
seperti biasa...panjang beneeerrr...
hahahaha...
Tapi Joko Anwar emang kereeeennn d... : D
aji aditya junior 0 0
Bieb: hihihi
mumpung kagak dibatasin ama redaksi....
Titiw 0 0
aji aditya junior: Oh.. Aku jadi ngerti maksud kamu dengan mengatakan "ongkos demokrasi itu mahal" di ruangan sempit yg panas itu..
to Ra nt 0 0
Kalau begitu mari kita ganti sistem demokrasi dengan kekhalifahan! *jokepolitikanagangertigapapa*

Anyways... kalau mau berkaca kepada pengalaman dari jaman saya belum lahir, ini adalah sesuatu yang wajar, kalau nggak mau dibilang predictable. Coba baca majalah-majalah era 80an akhir, saya yakin anda akan menemukan protes yang sama mengenai perfilman yang hanya terpusat kepada horor, seks, dan kekerasan.

Kalau mau pakai cara pandang yang agak sinis (read: mine) nggak akan terasa perbedaan antara...
to Ra nt 0 0
...film horor era ini dan era itu. Most old Indonesian movie are overrated just because of the nostalgic sense, imo.

Yet again, this is where it gets silly to yell at the industry. Remember, in democracy MAJORITY RULES. Dan dari uraian di atas kayaknya udah jelas mayoritasnya gimana. Then the better solution is to play in both world, main and side stream. How? Maybe take a whole new article to explain that : D.
to Ra nt 0 0
...film horor era ini dan era itu. Most old Indonesian movie are overrated just because of the nostalgic sense, imo.

Yet again, this is where it gets silly to yell at the industry. Remember, in democracy MAJORITY RULES. Dan dari uraian di atas kayaknya udah jelas mayoritasnya gimana. Then the better solution is to play in both world, main and side stream. How? Maybe take a whole new article to explain that : D.
aji aditya junior 0 0
Titiw : hehhehe, ruangannya gak panas kok tiw, cuma mati lampu...hih. kagak nyangka ibukota tercinta pun masih sering seperti ini
to Ra nt: nice. bikin buruan articlenya yah....karena menurutku diskusi kemaren agak gak tuntas
Titiw 0 0
aji aditya junior: Ya iya gak panas lah.. secara kamu yang di depan kipas angin.. ahahahha... : D
to Ra nt: Iye.. buruan deh bikin artikelnya biar kita diskusi lagi via CP.. : D
oelpha 0 0
iya, komentarnya tora bisa jadi artikel sendiri tuh hihihi...

sayangnya gw ga bisa ngikut sampai selesai. tapi gw emang bersyukur banget di tengah terjangan film-film abrakadabragakjelasmaunyakemana, masih ada segelintir orang-orang gila berbekal idealisme macem Joko Anwar, Nia Dinata dan kawan-kawan, yang membuat gw tetep bisa optimis dan bangga terhadap film Indonesia.
sofie 0 0
sepakat dengan para pandahulu komen. to Ra nt ditunggu artikelmu, apalagi soal joke di akhir film KALA itu, aku ingin penjelasan *lebay* : )) : D
maharrani 0 0
aji aditya junior: mau diskusi lagi ayo aja. Nanti rencananya pas launching CP emang mau ngomongin "Kenapa Film Indonesia Nggak Laku" tunggu tanggal mainnya yah! ; )

Once again, thanks for coming all the way to #klubfilm!

Silahkan login untuk memberikan pendapat