Kegelisahan Anji Drive 16
Selasa, 9 Mar '10 09:01
Erdian Aji "Anji" Prihartanto harus repot-repot menulis di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Maret. Soal apa? Dia teringang-ingang soal julukan mainstream ke diri dan bandnya, Drive. Apa pasal? Saat datang ke pernikahan salah seorang temannya ia disapa oleh pembawa acara. Kutipannya begini, "kita kedatangan tamu, seorang vokalis dari sebuah band mainstream, Anji Drive."
Persoalan yang membuat Anji berfikir, ia ditertawakan. Anji menulis, hampir semua yang ada di tempat itu menoleh dan tertawa. Ia berfikir apa makna di balik tawa tersebut. Dianggap berkelakar bisa saja. Tapi jika itu sebuah sindiran yang bersembunyi di balik kelakar penyegar suasana, bagaimana? Karena menurutnya, untuk beberapa kalangan yang tidak mainstream, menjadi mainstream adalah hal yang kurang baik, sangat kurang baik, atau bahkan hina.
Mainstream adalah arus utama dari pemikiran mayoritas. Ia mencakup budaya populer dan biasanya disebarkan oleh media massa. Dalam dunia musik Indonesia apa yang menjadi arus utama sekarang? Tak bisa dipungkiri budaya musik melayu dan fenomena Ringback Tone (RBT) adalah arus utama. Kenapa harus ada klasifikasi terhadap musik yang dinamakan melayu itu?
Musik melayu digemari karena gairah dan selera pasar musik Indonesia sedang di situ. Apalagi dengan konsep musik pop dengan warna melayu yang kental, maka akan semakin masyuk. Beberapa musisi memperhitungkan dengan matang soal ini. Sebelumnya mereka telah mempelajari kecenderungan notasi band pop yang disukai banyak orang. Mendayu-dayu, lalu bercerita soal hubungan cinta terhadap pasangan, patah hati, maka akan lebih menjual. Bukan berarti lagu tentang alam dan semangat hidup tidak laku. Tapi industri sekarang lebih mudah menjual cinta dan mendayu-dayu tentu. Seperti kata Efek Rumah Kaca: "Lagu cinta melulu, kita memang benar-benar melayu, suka mendayu-dayu, apa memang karena kuping melayu, suka yang sendu-sendu."
Persoalan selera ini memang tak bisa disalahkan. Kata ungkapan lama, "degustibus non est disputandum" artinya "selera tidak dapat dapat diperdebatkan." Audy, solois wanita yang sekarang sedang mengembalikan masa jayanya angkat bicara di majalah Rolling Stone. Ketika dia ditanya kenapa butuh waktu empat tahun untuk merilis album baru, dia menjawab.
"Gue juga mempertanyakan hal yang sama sebenarnya. Nggak tahu ya, mungkin sekarang industri musik juga sedang berubah. Jadinya dari pihak label juga ingin mengeluarkan yang saat ini sedang hit dulu. Band-band melayu itu contohnya, yang tadinya tidak ada dibuat ada karena alasan sedang tren..."
Audy bilang industri berubah haluan ke arah yang lebih buruk. Tidak hanya Audy. Band sebesar /rif, atau Rio Febrian juga merasakan efek buruknya. Kebetulan juga memang, tidak ada tempat untuk para rock & roller seperti /rif di arus utama sekarang. Dia menyayangkan kalau orang Indonesia terus-menerus disuapi ‘makanan' yang kaya' begitu, akan selalu begitu.
Penyebabnya? Pihak label, produser dan siapa saja yang terkait dengan karya musisi ini bernafsu mengejar keuntungan lewat RBT! Ini sekaligus korelasi selera dan tren musik saat ini. Dedi Lisan, pernah menjadi wartawan dan sekarang vokalis Andra & The Backcone mengungkapkan di Rolling Stone edisi Februari, "makin lama kita makin sadar bahwa ada perbedaan jelas antara penikmat musik yang juga pembeli CD atau kaset, dan penikmat musik yang men-download RBT."
"Gue pikir, mayoritas pengguna RBT itu kalau dari kelas sosial A sampai D, dia mungkin ada di kelas C atau D. Misalnya, pembantu rumah tangga, atau siapa, dia nonton acara TV acara Inbox, nonton Wali, ST12, dan memang suka lagunya," sambungnya.
Ngomong-ngomong soal Wali, saya sempat berfikir dan bertanya dalam hati. Wali adalah band mainstream, dengan warna musik kental melayu. Kapan mereka akan diberi kesempatan diwawancarai oleh media seperti Rolling Stone? Karena menurut pandangan saya, Wali bukan seleranya Rolling Stone. Tapi di edisi Maret ini, Wali menjadi narasumber untuk rubrik special feature mereka, soal RBT.
Awal tulisan Soleh Solihun itu memaparkan ketidak percayaan personel Wali, bahwa mereka diwawancarai. "Ini benar, Mas, kami diwawancari oleh Rolling Stone?" Di beberapa kalimat saya dibuat geli oleh persepsi Soleh Solihun. Misalkan, ketika dia menilai Apoy, gitaris Wali. Wajahnya sekilas seperti wajah peniru Aa' Gym alias Aa' Jimmy. Vokalnya mengandung faktor treble yang cukup, sehingga nyaris cempreng. Belum cukup? Secara visual, pakaian yang dikenakan Wali hari itu tak bisa masuk kategori trendy sehingga jauh dari kata keren, tapi tetap rapi.
Kalau saya kasihan dengan kerasnya Soleh, sayalah yang seharusnya dikasihani oleh Wali. Dengan status saya bukan siapa-siapa, jelas Wali lebih siapa-siapa. Populer, sedang menanjak, mendekap beberapa penghargaan. Tak kurang hingga saat ini angka RBT untuk lagu "Baik Baik Sayang" mencapai 13 juta aktivasi dari seluruh provider. Bulan Januari, Meseum Rekor Indonesia menganugerahkan Wali rekor aktivasi Ringback Tone (RBT) untuk lagu tersebut yang menembus angka delapan juta hanya dalam waktu dua bulan selama November-Desember 2009. Angka tertinggi di Indonesia saat ini.
Tapi, Wali tetap merendah. Mereka masih merasa sedikit tidak layak dan tidak pantas karena merasa banyak yang lebih berkualitas dan lebih bagus dibanding mereka.
Agak ngeri juga ketika membaca pendapat Emir Gema Surya. Ia adalah Vallues Added Service (VAS) and Emerging Product Telkomsel.
"Kalau dipikir-pikir buat apa? Yang dengar (RBT) juga orang lain. Tapi yang kami incar adalah sifat konsumtif masyarakat dan prestise. What your music is what you are. Tapi itu awal ya, (semakin) ke sini itu kelasnya C dan D yang 80 sampai 90 persen pelanggan Telkomsel. Ya saya berharap tingkat konsumtif masyarakat berkembang (cetak miring dari saya) karena pasar itu masih banyak sekali. Masih ada sekitar puluhan juta yang belum kita tangkap..."
What??? Apakah hal seperti itu yang dibutuhkan oleh masyarakat? Saya jadi teringat gagasan Jean Baudrillard, salah satu filsuf postmedernitas. Ia mengemukakan soal kebutuhan yang menjadi problematis. Baudrillard menunjukkan bahwa subjek dan objek tidak bergabung atas dasar kualitas abadi subjek itu. Tetapi mengikuti Levi Strauss, subjek dan objek bergabung melalui struktur tak sadar yang ada dalam hubungan-hubungan sosial.
Singkatnya, manusia tidak mencari kebahagiaan, manusia tidak berusaha untuk mendapatkan persamaan dan konsumsi tidak melakukan homogenisasi. Akan tetapi, manusia melakukan diferensiasi melalui sistem tanda. Yang melandasi kehidupan sosial adalah gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi.
Ini selaras dengan strategi bisnis RBT, yang mengedapankan nyanyiannya. Musik di belakang, bisa dikatakan si bos label tak terlalu peduli dengan musiknya. Ini semacam statement di mana lagu itu mewakili suasana hati saat itu. Kalau lagi ditelpon RBT yang keluar lagu "Kucing Garong" berarti lagi konyol saja orangnya. Atau ditelpon lagunya Kerispatih lagunya yang sedih-sedih begitu berarti suasana hatinya lagi mengharu biru. Krisna J. Sadrach (produser Ungu dan pemain bas band metal Suckerhead) mengatakan, yang penting sound vocal bulat, keren, bright, dan reverb-nya bagus.
But show must go on! Pada kenyataannya sekarang dunia digital memang telah mengalahkan suatu yang bersifat fisik. Musisi akhirnya, dibuat pandai-pandai menyikapi ini semua. Kalau rasa kecewa mungkin sudah tak terhingga.
Lalu kadar mainstream selanjutnya menurut Anji Drive, salah satu yang mempengaruhinya adalah peran media massa. Ketika Anji menulis, jadi pada saat sebuah media ( dan sayangnya media yang bagus menurut Anji) terlalu mengistimewakan band yang tidak mainstream secara tidak langsung media itu juga sedang "memperjuangkan" posisi band itu untuk menjadi mainstream. Persepsi saya, pendapat Anji ini ditujukan kepada Rolling Stone Indonesia.
Ya, saya pikir RSI memang lebih condong kepada band-band seperti White Shoes and the Couple Company, Melancholic Bitch, The Sigit, Efek Rumah Kaca, Sore, Bugerkill, The Flowers, Tika & The Dissidents, Monkey to Millionaire dan lainnya. Atau seperti Seringai, Komunal, Rumah Sakit, Denial, The Jones dan Teenage Death, yang Anji sebutkan berteriak dari atas panggung dalam tulisannya.
Mungkin Anji lupa, band-band di atas tidak menjadi mainstream, karena tidak diberitakan secara luas dan terbuka oleh media mainstream.
Saya jadi sangat tak tahan untuk mengutip tulisan Kartika Jahja, di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Februari. Dia menulis sangat bagus tentang jurnalisme musik Indonesia. Katanya, penyeragaman yang ada dalam industri musik tak bisa disalahkan seratus persen kepada industrinya. Media pun semestinya memberi sudut pandang yang membuka pikiran.
Tika, memaparkan rahasia umum bagaimana kebanyakan media- cetak khususnya- lebih suka meng-copy paste siaran pers keluaran label atau manajemen artis dibanding meriset dan menambahkan twist yang membumbui artikelnya. Untuk media ini menjadi praktis dan untuk manajemen artis ini bagus, karena poin jualan sudah dipaketkan dalam siaran pers tersebut. Keduanya diuntungkan. Yang dirugikan masyarakat.
Sangat setuju dengan pendapat Tika, bahwa informasi yang dikonsumsi masyarakat menjadi sama dan seragam. Melukiskan hal yang sama, dari sudut pandang yang sama. Jadi apa yang tersisa untuk dipelajari?
Kalau kata Superman is Dead, "...ingin keluar tuk dapatkan pemikiran baru. Ku kesal hari ini melihat di sekitar, semuanya sama dan seragam, korban dari majalah..."
Industri musik Indonesia bermain aman dengan pilihan repertoire-nya dan musisi bermain aman dalam membuat karya. Media pun ikut bermain aman dalam menyampaikan informasi kepada publik. Main aman biasanya erat dengan kemalasan.
Maka tak heran jika apresisasi orang di luar Indonesia justru lebih besar dari pada di dalam negeri. Pengakuan walau sedikit mungkin telah ada, tapi masyarakat belum mengenal secara luas prestasi musikal musisi Indonesia.
Shaggydog misalnya, mereka telah sekian kali diundang main di beberapa festival luar negeri negeri, macam Australia hingga Belanda. Tanpa banyak yang tahu, atau mungkin juga tak banyak media massa yang tertarik pada mereka. The Hydrants juga begitu. White Shoes and the Couple Company sukses dengan berbagai festival di Amerika bahkan sampai dirilis oleh label rekaman internasional. Kemudian Superman is Dead, punk rocker asal Bali yang menggetarkan panggung Warped Tour di Amerika Serikat. Mereka sampai menjalani tur intensif selama sebulan lebih.
Demikian juga dengan aliran musik cadas. Burgerkill yang berasal dari Bandung telah menciptakan arus baru penggemar metal Indonesia di benua Australia. Mereka sukses menjadi salah satu pengisi acara Soundwave festival di Perth. Ada pula Ghost of a Thousand, sebuah band hardcore/punk asal Inggris yang anggotanya ternyata adalah dua orang putra Indonesia. Band ini berhasil mencuri perhatian penggemar musik internasional setelah berbagai media Inggris seperti, Kerrang dan majalah Q menobatkan mereka sebagai pendatang baru terbaik.
Masih banyak musisi-musisi asli Indonesia yang luput diliput oleh media. Yang begini-begini biasanya tak pernah diekspos di dunia mainstream. Padahal media massa mempunyai peran besar dan signifikan dalam membuat band menjadi dikenal.
Heru Wahyono, vokalis Shaggydog di majalah Rolling Stone edisi Januari, mengungkapkan jangan harap berita soal Shaggydog tampil di luar negeri tersebar luas.
"Kami nggak pernah diliput media massa. Justru yang ke Malaysia...sering diekspos. Kan banyaklah, artis yang ngomong go international. Nyanyi bahasa Inggris saja belum bagus kok," kata Heru.
Addie MS, komposer andal, kini sukses di Australia, Elfa Secioria sukses di Korea, lalu ada band prog rock Discus yang tampil mewakili Indonesia di festival Zappanale di Jerman. Belum lagi penyanyi-penyanyi solo seperti Dira Sugandi atau Sandhy Sandoro. Dira yang asal Bandung mengisi acara ulang tahun Incognito, band acid jazz asal Inggris, sebelum akhirnya dibuat albumnya oleh salah seorang pentolan Incognito.
Penyanyi bersuara emas, Sandhy Sandoro termasuk yang terlambat diekspos oleh media sendiri. Setelah dia memenangi sebuah perlombaan penyanyi international di Eropa Timur dan pulang ke Indonesia baru terpublikasi. Dengan single Malam Biru (Kekasihku), Sandhy diundang ke acara Dahsyat. Bernyanyi dengan latar belakang para ABG berjoged hula-hula dan menggerakkan tangan seperti gurita. Seakan-akan mereka semua akan menerkam Sandhy. Sayang sekali!
Mungkin kita (orang Indonesia) memang agak lebih suka terlambat daripada tidak sama sekali.
----
*Petikan tulisan Kartika Jahja (Rolling Stone, Februari 2010)
Reporter itu tak sadar bahwa ia meneguk air dari gelas saya. Saya biarkan, sebab tak ingin mempermalukannya. Ia mengeluarkan selembar kertas dan memulai sesi wawancara dengan pertanyaan pertama. "Oke, kenapa pilih nama Tika?' tanyanya. "Apakah ini pertanyaan trik?" pikir saya. Sebab Tika adalah nama pemberian orang tua. Tentu saja nama bisa dialterasi untuk kesan lebih catchy, misalnya dengan pengejaan aneh seperti ‘Teeka' atau ‘Tiqa'. Banyak yang sudah melakukannya. Tapi bukan itu tampaknya arah pertanyaan sang reporter dari majalah remaja kenamaan tersebut. Akhirnya saya balik bertanya, "Maksudnya apa, mbak?" Ia menepuk dahinya dan meminta maaf. "Aduh! Maaf, Mbak Tika. Di daftar pertanyaan saya, itu sudah template pertanyaan untuk band," akunya (terlalu) jujur. Ia memperlihatkan lembaran pertanyaan isu standar dari majalah tersebut yang tampak sudah kusut karena sering dipakai.
‘Mengapa pilih nama band__'. ‘Ingin berkolaborasi dengan siapa saja?' ‘Apa harapannya untuk album ini?'. Pertanyaan yang terakhir bisa dijawab para musisi dengan jawaban klise, "semoga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia."
Ironis memikirkan betapa banyak musisi yang mampir ke kantor itu dengan maksud memperkenalkan karya, karakter, dan citra mereka kepada masyarakat luas. Tapi dengan daftar pertanyaan yang distandarisasi, musisi paling unik sekalipun akan terdengar standar, tentunya. Begitu pula dengan hasil penulisan artikelnya. Standar-standar saja...
Tag: Anji Drive, musik mainstream
Terkait:
-
Anji "Drive" Akhirnya Mengaku. So?
Jumat, 9 Apr '10 14:44
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Bieb: yoi banget
-
missmaharrani: yoi banget
-
sofie: keren
-
ibhe: yoi banget
-
deadeye doll: keren
-
Titiw : yoi banget
-
mokas: yoi banget
-
to Ra nt: yoi banget
-
fadex: yoi banget
-
fairyteeth: nggak ada matinya
-
kmonoarfa: yoi banget
-
Chika: keren
-
JustRudy: keren


Komentar:
Tapi bener juga nih mas..industri musik Indonesia sudah berubah haluan..seiring dengan menjamurnya RBT
Anyways, waktu Java Jazz kemarin, saya nonton Oom Benny Likumahua. Sebelum main dia bilang begini, "Dalam musik itu nggak ada yang benar atau salah. Yang ada hanya enak dan nggak enak."
Saya jadi berpikir. Benar juga katanya. Yang ambil pusing mainstream tidak mainstream itu mungkin hanya segelintir orang saja.
Pendengarnya ya hanya mengkategorisasikan dari sisi enak & tidak enak itu. Dan itu menurut saya, baik
menurut saya pribadi, inti tulisan Anji di RS online itu ada di paragraf awalnya hahaha
"Hapuskan Terminologi Indie" (wawancara dengan koran Pikiran Rakyat)
Ini adalah wawancara TIKA dengan surat kabar Pikiran Rakyat dari Bandung. Salah satu interview paling enak karena reporternya piawai sekali. Tak ada pertanyaan std seperti "inspirasinya dari mana?" dan "ingin kolaborasi dengan siapa?"
deadeye doll: iya bos, menurut saya, there's nothing wrong with mainstream. indie dan mainstream punya pasar masing-masing. CUMA di Indonesia sini agak aneh memang, Indie dan mainstream (baca: major label) seperti punya gap "tabu" yang membuat satu dan lainnya agak berjauhan.
Musisi indie enggan masuk mainstream karena nggak ingin idealisme mereka diacak-acak. Di lain sisi, Musisi mainstream malah nggak pengen dibiang mainstream.
duh.. bingung saya jadinya *ngupi dulu ah*
ENOUGH WITH THE EGO ALREADY, PEOPLE.
What's the reason for you to make one kind of music? Is it because you like it or because people like it? What do you search in your music, ego fulfillment or entertaining people? Pick one, stick with it, nothing else matters.
Sebetulnya siapa yang paling ngerti sebuah lagu? Musisinya sendiri, that's for sure. Tapi kalau sudah dilempar ke dunia luar, biarkanlah orang yang menilai sesuai dengan interpretasi mereka masing-masing because music is subjective, no matter how you put it. Penilaian setiap individu terhadap sebuah karya tidak mungkin sama, karena masing-masing kepala beda isinya, dan begitu pula dengan isi hati yang terhubung dengan kenikmatan mendengar lagu.
Dan kalau memang apa yang musisi sampaikan ditangkap berbeda oleh audiens, so be it. Jangan dikeluhkan juga, just keep on making music until your message is heard.
Lagian, nyanyi dengan falset melirih-lirih dan lirik cinta-cintaan nggak mau dibilang mainstream? Get real aja lah.
yah mungkin sekarang lagi zamannya musik melayu ato gue lebih suka nyebutnya dengan musik ALAY... (no offence)
sebagai penikmat, gue sih cuma menunggu aja kapan trend akan berubah lagi,
kan nggak ada yang abadi bukan?
btw, saya pribadi suka lagu2 nya Drive, dan mereka ndak nyanyi lagu melayu kan??
Silahkan login untuk memberikan pendapat