Sjahrir dan Awan Merah Politik Kita 1

Kamis, 4 Mar '10 13:58

Buat saya Sjahrir itu bintang!

Masih ingat kah kita pada sosok Bung Kecil? Demikian lah dulu Sjahrir akrab disapa. Meski bertubuh mungil, Sjahrir memiliki gelora pemikiran aktual, bahkan melampaui struktur pemikiran dan zemangat zaman kala itu. Baginya mungkin tak cukup kita memproklamasikan sebuah kemerdekaan ke seluruh penjuru dunia, namun bagaimana sebuah kemerdekaan bangsa bisa diisi dengan memajukan peradaban bangsa dan masyarakat Indonesia yang sungguh ia cintai. Sjahrir memang bukan seorang politisi puritan namun ia aktif menyuarakan suara-suara Indonesia di panggung dunia. Keaktifannya dalam berdiplomasi memang harus kita akui adalah hasil tempaan diri yang ia lakukan dengan kesadaran utuh. Pergulatan intelektual dan pengalaman praksis yang langsung ia rasakan sebagai bagian dari komunitas negeri jajahan berhasil ia olah dalam paduan gerakan revolusioner dan gagasan akbar demokrasi.

Memang alam pikir Barat sangat mempengaruhi tindak tanduk pikirannya, di tengah kenyataan situasi politik Indonesia saat itu yang masih dikuasai oleh kekuatan bersenjata rezim kolonial Belanda dan fasisme Jepang. Tantangan kolektif itu tidak ia lawan dengan gaya politik gerilya, atau bahkan melakukan tandingan yang lebih eksesif dan destruktif. Sama sekali bukan gaya Sjahrir yang kita kenal. Baginya politik kolonial harus ditandingi dengan sikap politik yang harus diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sifatnya melekat dan tidak terpisahkan. Dan jika saya andaikan layaknya seperti manusia bernafas, pasti membutuhkan udara segar dan lingkungan yang sehat, sehingga akal budi dan dan bangunan peradaban bisa berkembang dengan progresif. 

Dan untuk itu ia mempercayai mekanisme politik demokrasi yang dikombinasikan dengan semangat kemajemukan dan nilai-nilai kemanusiaan adalah sebuah komponen yang amat dibutuhkan untuk menggerakkan roda-roda revolusioner pascakemerdekaan Indonesia. semangat ini saya yakini sangat ampuh untuk memutus mata rantai feodalisme dan kecenderungan chauvinistik dari produk rezim kolonialisme dan fasisme. Sejurus dengan itu, perkara politik yang diimajinasikan oleh Sjahrir adalah sebuah perkara yang tidak bisa disimplifikasikan dalam matematika pragmatis. Politik membutuhkan keberlanjutan dan kesepahaman, bukan insidental apalagi paksaan. Politik juga membutuhkan komitmen dan totalitas agar keberlanjutan dan kesepahaman di tengah kemajemukan itu bisa berlangsung abadi. Tak terputus. Politik yang digandrungi Sjahrir adalah sebuah etika politik yang mensejajarkan aspek moralitas dan rasionalitas, agar pada akhirnya semua orang Indonesia bisa merasakan buah dari keadilan sosial ekonomi yang dinanti-nantikan setelah kemerdekaan diserukan di negeri ini.

Elan vital ini memang mutakhir namun memiliki tingkat kerumitan tersendiri untuk dipraktikkan dalam situasi politik yang berkembang di Indonesia. Kesulitan kita untuk menggapai gagasan Sjahrir terletak pada ketidaktuntasan transformasi ideologi yang seharusnya dilakukan oleh para elite politik. Keterputusan pada tataran pendidikan politik untuk membentuk struktur masyarakat majemuk yang toleran adalah hal yang amat disayangkan. Padahal, Sjahrir dan Hatta yang telah diakui dalam gerakan nasionalis kemerdekaan telah begitu banyak menyumbangkan konsep pentingnya pendidikan menuju kemerdekaan sebagai kelanjutan dari revolusi kemerdekaan. Ia bahkan menamakan fase ini sebagai fase revolusi sosial dengan bertumpu pada semangat pedadogis. Semangat ini ia curahkan pada Partai Sosialis Indonesia yang ia bentuk sebagai partai kader guna melakukan transformasi pendidikan politik agar para kader bisa melanjutkan perjuangan dengan intelektualitas yang mereka miliki.

Tampaknya kita tidak sempat melalu fase ini. Meninggalkannya di belakang seperti meninggalkan bayangan diri sendiri. Bahkan kini kita disibukkan untuk menyaksikan drama politik yang memiliki panggung maha luas yang diisi oleh para wakil rakyat yang gemar mengurusi urusan-urusan pragmatis transaksional. Lakon politik yang kadung terlanjur ditertawakan rakyatnya sendiri ini memasuki pembabakan baru. Babak di mana rakyat mulai masuk merangsek ke arah panggung akibat tidak bisa tinggal diam menyaksikan kericuhan dan kesemrawutan sidang akbar paripurna ketika sebuah keputusan politik untuk memutuskan hak angket dalam kasus bailout Bank Century kembali harus diulur-ulur akibat pertarungan kepentingan para elite politik.

Lobi-lobi menjadi kosa kata sakti yang sering digunakan untuk mengulur waktu. Pada babak yang menegangkan ini rakyat yang terusik rasa keadilannya kembali meradang, kembali turun ke jalan, menuntut pertanggungjawaban dari kejahatan, apapun itu namanya: skandal, penyelewengan, kejahatan politik, dan lain-lain. Sebuah kejahatan membutuhkan pelaku, membutuhkan pihak yang harus bertanggung jawab untuk menanggung risiko kejahatannya, maka dari itu sebuah kejahatan tidak mungkin anonim.

Babak dari politik kompromi dan semua kesesatan berpikir maupun kehampaan berlogika dalam penyelenggaraan negara ini adalah wujud dari absennya negara dari tanggung jawab politiknya. Hilangnya rasa tanggung jawab ini jelas telah mencederai rasa keadilan yang seharusnya diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Mungkin kita telah terlampau lama mengabaikan gagasan sederhana Sjahrir untuk menempatkan nilai, gagasan dan perjuangan untuk membebaskan manusia-manusia Indonesia dari segala bentuk kesempitan berpikir. Bagi saya, Bung Kecil memang seorang demokrat sejati yang tahu bagaimana harus mempertaruhkan hidupnya untuk memenangkan makna kehidupan yang sejati. Dan hendaknya para wakil rakyat yang tengah mempertaruhkan nasib bangsa ini di Senayan sana tahu benar apa yang tengah mereka perjuangkan, bukan terus menerus menutupi dan menipu diri untuk menghalau awan merah dan semua keanomalian dari pilihan berpolitik di negeri ini.

Selamat ulang tahun, Bung! Eureka, eureka, eureka!


Tag: Sjahrir

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sofie 0 0
selamat ulang tahun Sjahrir! bintang itu bisa dari segmen apa saja, saya setuju itu : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat