Musik Cerdas Dan Musik Malas 11

Kamis, 4 Mar '10 22:26

 

Ketika bekerja sebetulnya saya tidak terlalu suka mendengarkan musik. Menganggu konsentrasi. Tapi keadaan ruang kerja a.k.a rumah yang sepi cuma ditemani dua ekor Gecko bernama Brintil dan Jagung Bakar yang notabene tidak bisa berbicara membuat saya mencoba mendengarkan musik sambil bekerja.

Piilhan musik saya ketika bekerja adalah yang mudah didengar dan tidak berisik, kira-kira sekitar 50 - 60 db dengan volume standar. Akhirnya lama kelamaan saya mulai terbiasa mendengarkan musik sambil berpikir yang rumit-rumit, seperti membuat ekspresi dan kondisi menggunakan berbagai operator logika.

Dan kalau diamati ternyata lagu-lagu Indonesia yang meng-encourage otak untuk tetap optimis dan tidak malas sangat sedikit. Hmm, saya coba mendengar lagu-lagu ST12, Kangen Band, The Potters, dkk.. ternyata tidak membuahkan hasil. Saya sih nggak bilang kalau lagu mereka tidak bagus. Cuma perasaan saya yang sangat awam musik ini kok tidak merasa nyaman mendengarkannya. Musiknya typically cuma drum, gitar, bass, kadang-kadang ada keyboard dan melodi yang kurang lebih sama satu sama lain. Pendek kata saya tidak berhasil bekerja sambil mendengarkan lagu jenis ini.

Kemudian saya mencoba mendengarkan jazz yang katanya rumit dan sulit dicerna. Dengan pesimis saya mencoba lagu jazz-jazz standar yang saya kenal seperti Al Jarreau. Ternyata mengejutkan, while I enjoyed the music, at the same time I completely ignored the music... thus I can work. Dan efeknya ternyata menyenangkan. Rasanya seperti mendengarkan tapi tidak terganggu dan karena nadanya yang dinamis, saya semangat bekerja.

Tapi saya penasaran dengan lagu-lagu lainnya. Saya dengarkan satu demi satu lagu dari berbagai genre. Dan ternyata masalahnya bukan di genre tapi di cara para pembuat musik itu menciptakan dan mengaransemen lagunya. Kalau dilihat-lihat lagu itu sebetulnya kumpulan deretan algoritma dan logika. Coba lihat deh, buat musisi handal yang sudah berpengalaman, membaca sebuah partitur saja bisa tahu lagu tertentu itu bagus apa tidak. Nggak masuk akal kan? Lagu itu kan harus didengar, yet they can feel it just by reading the partiture. Otak mereka memproses algoritma partitur itu secara simultan dan membayangkannya menjadi sebuah lagu.

Otak sebetulnya bekerja sangat logis dan memiliki keteraturan dalam kekacauan. Rangsangan musik yang tepat jelas akan memacu kerja otak. Jadi saya bisa bilang, musik yang baik dan diaransemen secara cerdas akan merangsang kerja otak. Dan sebaliknya musik yang diaransemen malas-malasan akan berpengaruh kurang baik pada cara kerja otak. Dan semakin di "tickle" otak kita akan terus minta "tambah" oleh hal-hal yang cerdas.

Nah, masalahnya rata-rata musik Indonesia kebanyakan yang seragam dan tidak demokratis itu tidak menggelitik otak kita untuk kreatif. Jadi, mendengarkan ST12 dan Kangen Band sambil bekerja ternyata sangat annoying, dan membuat otak malas.

 


Tag: music, brain, otak

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Titiw 0 0
Alaah.. Secara tidak langsung.. dirimu mencela si saint 12 tuh mas.. Ahaha.. tapi eh yang dibilang apy ini bener lho.. temen komplek kita yang bernama mbak ai, seorang guru piano, dengan baca partitur aja bisa bilang kalo lagu itu bagus/tidak, tanpa harus mendengarnya. Wah dan itu bener banget juga, kalo lagu yang "bagus", bisa kita nikmati sambil kerja, tapi kita "cuekin" juga karena gak "ganggu". Wah, i feel you banget deh mas.. AHahha.. : D
ibhe 0 0
Itu mah masalah selera aja, nggak ada yang namanya musik jelek. cuma masalah suka nggak suka aja. kalo emang dari awalnya ga suka, ya mo dipaksain kayak gimanapun tetep ga suka. IMHO


Saya juga nggak ngerti banget tentang musik. Tapi kalo saya ya, tau lagu2nya doang, tapi kagak tau muka2 personilnya ataupun video klipnya. karena staff saya suka muter itu lagu (ST12/ Kangen Band, band2 indonesia-lah pokoknya) kalo lagi masak-masak. Ya, jadi mau nggak mau saya dengar. Dan tanpa saya sadar, saya ikut humming : ) sementara si tukang cuci piring setel Dream Theater hehe. Ini contoh kecil pengaruh musik di dalam pekerjaan yang tidak terlalu mengandalkan pikiran.

Kalo nggak suka tinggalkan saja, jangan dihina. Karena dalam musik pasti ada genre-nya, tiap genre pasti ada fans dan di dalam fans pasti ada yang fanatik.

cuma masalah selera : D
apy 0 0
soalnya nanti kalo tidak dihina tidak belajar diversifikasi lagu... produk industri harusnya jangan disamakan dengan produk seni dan budaya. musik harusnya merepresentasikan seni dan budaya. Selera? bgaimana mau berselera kalau pendengarnya tidak diberi piilhan... bagaimana mau cerdas kalo tidak dipilih? Hinaan dari saya sih memang tidak berarti apa2, tapi paling tidak mencambuk produser dan industri musik indonesia supaya lebih baik lagi... selera? go to hell lah selera...
apy 0 0
saya emosi tiap kali mendengar lagu2 bagus dan bermutu karya Indonesia tapi tidak ada yg kenal... jadi esteh2gelas memang ada pasarnya, tapi biarkan lah pendengar memilih.... genre apapun pasti ada yg denger seandainya dikasih kesempatan. selera dipasung namanya bukan selera bung!!!
sofie 0 0
jadi pilihan musik yang sesuai dengan selera industri itu sebenarnya adalah cerminan masyarakat indonesia yang mayoritas mungkin (mungkin lho) adalah orang yang malas. atau bagaimana kalau musik yang cerdas harus bisa mengemas 'selera malas' orang-orang? . kalau lagu bagus gak didengar mari kita tilik strategi bisnisnya ; ) *begitu pelajaran yang saya dapat dari ignite jakarta tadi malam* : D
ibhe 0 0
apy: hehe pilihan sebenarnya banyak, mas : D. cuma ya seperti kata mbak sofie itu, strategi dan pengemasan lagu-lagu "cerdas" itu kurang nyampe ke yang "males" itu. setuju, sih kalo seni dan budaya jangan di campur sama industri. tapi banyak musisi barat yang nggak cuma enak lagunya, tapi bagus strategi dan pengemasannya juga, Laris! industri musik bukan?

Tapi nggak bisa di bilang Industri musik indonesia menurun, tidak. Dia hanya berubah.Tren beli satu lagu (alias RBT) ketimbang beli satu album ini yang membuat lesu. Ini ada kaitannya dengan teknologi format mp3 yang bisa diakses dari mana-mana. Ya coba aja tengok jaman dulu waktu kaset masih jaya-jayanya, kita dipaksa dengar satu album padahal yang enak cuma satu lagu doang. Sekarang udah makin gampang, beli CDpun bisa langsung jump ke track yang pengen kita denger. kalo penasaran, tinggal donlot. fakta yang tidak bisa dimungkiri adalah sekarang semakin mudah menikmati musik. Tidak perlu lama-lama menunggu rilis resmi, atau jauh-jauh ke toko kaset.. Teknologi ini yang bikin orang males jadi tambah males, semua serba enak!

Tapi saya yakin, situasi seperti ini pasti akan berubah lagi. Lagipula, bukankah teknologi selalu mendatangkan dialektika? Problem-solusi-problem-solusi : D ya nggak mas? hehe

haha ngakak denger rima ini: selera dipasung, bukan selera bung! : D hihi susah juga kalo ngomongin selera yak? yaaa pokoknya gitu deh *nyembah apy *
sofie 0 0
iya, saya setuju dengan industri musik tidak sedang loyo dia berubah arah gerak, dari yang dulu pake pita sekarang pakai digital *bener gak sih* makanya itu sekarang jadi ada RBT, ada yang jual di web pribadi dengan teaser-teaser yang anggun. memang sedang bergeser dan sekarang kita cari pola pengemasan yang tepat bagaimana menghadapi pergeseran ini, salah satunya strategi marketingnya mesti jalan. *sumpah gw kayaknya sok ngerti banget yak* : ))
fairyteeth 0 0
saya suka lagu lady gaga. titik : D

sama mba christina aguilera, all of Laruku song

yes, i'm a very subjective person : )

oh ya NO britney plisss!! bit*h!
fairyteeth 0 0
oh iya, kalo lagu indo, mostly don't hear it, just buy the CD or song... cuman buat memajukan musik indo aja.. : ))
deadeye doll 0 0
setuju sama ibhe, gada yg bagus ato jelek dan lebih ke "kita suka apa enggak". Kalo mau maksain nyambung sama Titiw sih mungkin musik tu ibarat cara ngomong dan ketawa orang ya, ada yg enak diliat/didenger - dan ada yang "ganggu". Kalo apy dapet yang ke dua, ya kacangin aja. Toh tuhan sudah memberkati kita dengan google yang tetep akan ngasih referensi untuk keyword seaneh "weird+ass+music" pun : D tinggal kuat-kuatan aja sama bombardir media haha

kalo soal pengiring kerja, selama gw belum apal sama lirik/nada lagu yg diputer sih fine2 aja buat kerja, soalnya ga bakalan jadi singalong hehehe
Bang Mas Paman 0 0
Seperti yang lain, saya berpendapat ini soal suka atau tidak terhadap lagu tertentu -- apapun alasannya. Kalo suka ya bikin ati seneng, kerja enak. Masalah berikutnya ya pasal sosial: yang enak di kuping kita belum tentu nyaman di kuping teman, begitu juga sebaliknya.

Bahwa selera kita ternyata beda dari mayoritas menuriut saya gak mesti berhubungan dengan intelegensia. : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat