King Kong: Menerjemahkan Peradaban Manusia 2

Rabu, 3 Mar '10 09:36

King Kong hanyalah Kong, karakter rekaan dari sutradara Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack. Ia tak mati oleh terjangan peluru, tapi oleh kecantikan (it was the beauty that killed the beast). King Kong yang akan saya ceritakan di sini adalah Kong edisi 1933, dengan teknologi minimalis dan sederhana. Kisah Diawali oleh ambisi Carl Denham dan John Driscoll untuk membuat film di belantara kepulauan Hindia yang eksotik. Setelah berlayar berhari-hari mereka pun bertemu suku terasing di sebuah pulau dimana seorang perempuan muda sedang dipersiapkan untuk ritual pengorbanan. Mereka pun hampir-menghampiri: kepala suku tertarik pada Ann, aktris yang dipersiapkan Denham untuk filmnya. Ia ingin menukar Ann-sebagai korban yang akan diserahkan kepada King Kong-dengan 6 orang perempuan lokal. Sementara Denham cum suis hampir meninggalkan pulau, malam harinya Ann diculik. Adegan pengejaran di Hutan pun dimulai. Pendek kata: sang aktris terselamatkan, dan gorila purba itu menjadi tontonan publik New York.

Yang menarik dari film ini tak lain adalah efek-efek studio yang pada saat itu terbilang sangat canggih-dan mungkin sekarang sangat sederhana. Tidak seperti sekarang, Sosok Kong tidak dipoles oleh komputer CGI. Gambarnya pun sangat kasar dan kaku.

Pada masa itu film lazimnya dibuat di studio. Maka tak mungkin rasanya Kong dibuat dari miniatur setinggi kira-kira 20 meter. Di samping terlalu boros. Dari behind the scenes beberapa film, saya melihat banyak "raksasa" dalam film ternyata hanya berukuran kurang dari 50 cm. Maka bukan tak mungkin ketika adegan Kong menggenggam tubuh Ann Driscoll, sutradara menyiasatinya dengan membuat beberapa bagian tubuh (tangan Kong) yang terpisah hampir sebesar ukuran tubuh sang tawanan. Hal yang sudah terlalu biasa, bahkan kuno untuk teknik perfilman sekarang, adalah sesuatu yang begitu baru saat itu. Akan tetapi ada yang saya tidak mengerti tatkala melihat pertarungan antara beberapa dinosaurus dengan Kong atau dalam satu scene ketika Kong memanjat Empire State Building dan tubuh Ann Driscoll di tangan: apakah pada zaman itu sudah ada layar biru, sehingga dengan mudah figur Ann dapat ditempelkan begitu saja sebagai foreground dari pertarungan antara T-Rex dengan Kong atau saat adegan Ann berteriak di ujung Gedung Empire dengan background kota New York yang pada saat itu riuh, apokaliptik menunggu kejatuhan Kong? Adakah yang bisa menjawab?

Teknologi yang juga terlihat adalah bagaimana sutradara menggunakan footage animasi. Ketika kapal mulai merapat ke daratan, terlihatlah dari kapal, daratan tropis yang dibuat dengan teknik animasi awal yang masih sangat lemah, dengan kecepatan gambar rendah. Teknik yang sama juga dipakai dalam proyek-proyek awal animasi Walt Disney. Kembali pada pertanyaan awal: saat itu bagaimana menggabungkannya?

Salah satu milestone sejarah film sains-fiksi ini pun menginggalkan banyak pertanyaan dalam kepala saya, garis besarnya tentang kemungkinan teknik pengabungan foreground dengan background pada saat itu.


Tag: Film, king kong

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

aji aditya junior 0 0
menurut aku, kong adalah sebuah revolusi awal dan sejarah tentang bagaimana film tentang monster raksasa dibuat.
Sesuatu yang menginspirasi jaman2 sesudahnya, seperti "Jurassic Park' atau "Godzila".....
Semua tehnologi yang dipakai pada saat itu menurut aku sudah menggunakan tehnologi layar putih yang pake proyektor, seperti film superman, and kingkong dibuat dari orang yang pake baju kera raksasa.
(I dont know, cuma nebak.hehhehe)
anyway meskipun ngantuk pas nonton versi lamanya, karena tehnologinya terlalu jadul, tetep saya respect sama film ini.
Thanx udah dibahas....
ibhe 0 0
Ukuran tepatnya adalah 18 inch = 45.72 centimeter.

dan ada satu hal yang menggelitik rasa penasaran saya, Kan itu tembok tinggi dibuat untuk membatasi daerah penduduk dari jangkauan Kong ya? Nah, kenapa mereka buat pintunya segede itu ya? : D hehehe

Tapi emang itu film katanya sangat laku di zamannya. Trus saat dibikin Remakenya oleh Peter Jackson, "ceritanya" nggak kena gitu, it was rather dumb. Untungnya saya masih terhibur oleh CGInya : ))

THE WORLD'S GREATEST MONSTER MOVIE! Thanks for the review

Silahkan login untuk memberikan pendapat