Gigantic: Membangun Relasi di Atas Kulit Telur 8

Minggu, 14 Feb '10 21:28

Gigantic adalah film kedua yang saya tonton setelah Yes Man! untuk melihat aksi layar perak Zooey Deschannel. Dan setelah berkalikali mendengarkan Volume One yang ia nyanyikan bersama Ward di She & Him. Masih akan ada hal-hal seru lainnya bersama Zooey, saya pikir. Gadis ini memulai karirnya di dunia perfilman sudah cukup lama. Selain talenta suara indah yang dimilikinya, akting adalah hal lain yang akan selalu bisa kita nikmati bersamasama. Ok, mari saya ceritakan sedikit perihal Gigantic di sini.

Film ini memiliki bangunan plot yang sederhana, mengisahkan dua orang muda-mudi, sama-sama anak bungsu, dipertemukan dengan cita-cita masa kecil dan hal-hal yang tidak pernah mereka gali dalam hidup masing-masing. Happy (Zooey) adalah anak bungsu yang dibesarkan dalam keluarga broken home. Ia sudah lama tidak berjumpa dengan ibunya, yang telah membangun kehidupan sendiri di New Mexico. Kakak perempuannya meniti karir sebagai seorang entertainer sejati di sebuah stasiun televisi. Sedangkan ayahnya, seorang kolektor benda-benda seni, kaya raya dan punya masalah dengan kesehatan dengan tulang belakangnya. Suatu hari ia pergi mengunjungi sebuah toko kasur. Dan di sana ia bertemu dengan Brian (Dano), si bungsu dari 3 bersaudara,memilih jalur karier yang berbeda dengan bidang studinya dan terobsesi untuk memiliki anak angkat dari daratan China.

Brian dan Happy mulai menjalani komunikasi unik. Brian cenderung introvert, mungkin karena karakter bungsu yang ia miliki. Apalagi mengingat kedua abangnya yang sukses meniti karir di jalurnya masing-masing, sebagai bussinesman dan dokter bedah, sedang ia hanyalah seorang marketing di sebuah perusahaan kasur biasa, bergaji tak kurang dari 700 dollar per bulan. Namun yang membedakan dirinya dengan Happy adalah Brian hidup dalam keluarga yang utuh. Ia masih memiliki ayah dan ibu, yang entah bagaimana memiliki peran tersendiri dalam kehidupan ketiga anak mereka.

Karakter Happy cenderung ambigu. Bak ABG labil di usia yang menginjak 20 something, Happy justru tidak memiliki cita-cita dalam hidupnya, ia tidak pernah berpacaran secara serius, ia tidak pernah menyelesaikan sekolahnya, bahkan ia tidak bisa menentukan pilihan-pilihan yang seharusnya sudah bisa ia lakukan sekarang. Nampaknya Happy hidup dalam bayang-bayang masa lalu, figur kakak perempuan dan ayahnya yang terlampau kuat, juga bisa menjadi faktor pemicu ke-ambigu-itasan hidupnya.

Hingga satu hari Happy tertidur pulas di kantor Brian. Brian yang saat itu masih bekerja dan mencari informasi kemungkinan ia bisa mendapatkan bayi dari China, mencoba menunggui Happy dengan sabar. Perjumpaan demi perjumpaan tercipta di antara mereka. Perjumpaan kedua adalah ketika Brian mengantarkan kasur ke apartment Happy dan ayahnya. Ia akhirnya tidak sekadar mengantar kasur, karena Brian harus ikut pula mengantar ayah Happy ke sebuah klinik syaraf. Dari sanalah ia mulai belajar mengenal Happy lebih baik.

Satu hal, Brian adalah tipe pria konvensional. Ia cukup stabil di usianya dan memiliki konsistensi tingkat tinggi. Tipe pria yang mungkin susah untuk kita temui saat ini, haha.

Ok, singkat kata mereka akhirnya bersama. Mencoba mengenal dengan baik karakter satu sama lain. Meski yang terlihat jelas dalam film ini adalah usaha-usaha Happy untuk tetap bersama dengan Brian. Dan ia berjuang keras untuk itu. Sedang Brian sibuk memenuhi hasrat dan obsesinya. Tidak saja dengan bayi perempuan China yang ia namai Mei, namun obesinya untuk mengalahkan pria anonim bertubuh kate yang sering kali meng-abused secara fisik, perkelahian sengit hingga Brian menikamnya (tidak dijelaskan di film apakah si anonim kate itu mati atau tidak. Mungkin bukan itu esensinya).

***

Apa yang saya suka dalam film ini adalah memang figur Happy, yang diperankan dengan cukup baik oleh Zooey. Sepintas ia tampak seperti perempuan muda yang memiliki segalanya dalam genggaman tangannya, kecantikan, kekayaan, dikelilingi figur lelaki yang memuja-mujanya, almost perfect than anybody else, though. Namun hadir sisi ke-naif-an yang tidak bisa dihapus dalam diri seorang perempuan muda who-could-grabbed-anything itu. Ia memang berjuang keras untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan Brian. Hubungan rapuh, yang bisa diibaratkan seperti dua orang yang sedang berpegangan tangan berjalan di atas kulit telur.


Tag: Zooey Deschannel

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kwacii 0 0
Pas baca judul ini saya kira film ttg monster.
Eh pas liat isinya ternyata bukan. : )): ))
sofie 0 0
*mencatat judul dan akan segera ke lapak terdekat* : )) , ini kategorinya komedi romatis gitu ndak?
ibhe 0 0
woohoo..zooey!
deadeye doll 0 0
gw sih kecewa sama pelem ini, ZD mulai terjebak di lingkaran.
btw, itu rating buat felemnya ya : D
ibhe 0 0
deadeye doll: boodo amat, yang penting Zooey *kalo udah ngefans ngga peduli kualitas : p *
deadeye doll 0 0
ibhe: mukanya lurus bgt dah!! Tapi cukup terhibur dengan john goodman dan si mas yang mukanya mirip vokalis phoenix itu : )
fairyteeth 0 0
kirain ini judul buku... ternyata pelem...

not my genre anyway... : D

tapi kalau ada waktu boleh lah di tonton. : D
Titiw 0 0
gak tahan nonton film ini, baru 15 menit lebih milih nonton insert.. hahaha.. membosankan filmnyaa!! BOOOORRRIIING!!! Eh ini filmnya ya, bukan riviu kamu.. ; )

Silahkan login untuk memberikan pendapat