Toto Chan Ala Hindi 11
Kamis, 11 Feb '10 02:15
Akhirnya saya nonton 3idiots, bersama seorang teman. Walaupun Chika dan Nita telah menulis film ini dari perspektif masing-masing, saya merasa harus menulis juga karena tergila-gila dengan pesan yang dibawa film ini. Gak heran kalau melihat pergerakan orang yang nonton film ini, yang nonton sampai tiga atau empat kali walaupun hanya ada di Blitz.
Layaknya film India, yang pasti ada nyanyi-nyanyinya dan nari-narinya. Tapi itu gak bikin ilfil kayak film Indonesia akhir-akhir ini yang over-ekspose horor sensual. Setidaknya film ini jauuuhhh lebih cerdas. Cerdasnya adalah mengemas beberapa isu krusial tentang pendidikan dan menjadi seorang yang humanis. Seperti yang telah diceritakan teman-teman saya sebelumnya ceritanya ada di seputar bagaimana cara bertahan di kampus tekhnik terbaik. Dengan tiga tokoh Rancho, Farhan dan Raju (yang ini pemainnya ganteng!)
Sensasi waktu nonton film ini adalah bisa tertawa terbahak-bahak dan menangis tersedu-sedu karena strategi yang digunakan Rancho untuk 'memanusiakan tekhnik'. Mulai dari bagaimana mendefinisikan 'sederhana' dan 'rumit' sampai lelucon waktu Rancho ditantang untuk menggantikan seorang dosen.
Jelasnya, dari alur cerita yang maju-mundur-maju-mundur itu adalah gambaran kritis atas dunia pendidikan di negara berkembang macam India, dan hampir mirip dengan Indonesia. Dari ospek, sampai cara memaknai ranking, nilai dan mendapat pekerjaan, yang justru menjauhkan esensi pendidikan itu sendiri. Jadi ingat waktu kuliah, pertanyaan banyak teman adalah, 'kamu kerja apa nanti setelah lulus kuliah?', 'Sosiologi emang ada kerjaanya?'. Jadi bertanya sebenarnya sekolah buat apa? Kerja? Apakah pekerjaanmu adalah 'passion'-mu? .
Sistem pendidikan juga dipertanyakan kenapa yang berbau tekhnik dianggap kelas tinggi dan bergengsi ketimbang menjadi fotografer, penulis atau peneliti? Karena kita melihat dari ukuran yang terlihat, mobil, gaji dan jam tangan. Juga menyinggung tentang fakta tingginya angka bunuh diri siswa akibat sistem pendidikan yang bikin frustasi. Dobrakan atas sistem yang mengagung-agungkan nilai berhasil diterjemahkan Rancho mulai dari awal cerita sampai ketika dia membangun sekolah tekhnik. Seperti apa sekolahnya? Nonton aja film ini, dipastikan takjub.
Jalinan cerita 3idiots menurut saya ada di isu pendidikan meskipun dibalut cerita percintaan klasik, melodrama dan komedi. Tapi duduk kurang lebih hampir tiga jam, masih membuat saya betah dan tidak ingin beranjak dari bangku bioskop. Kalau kata saya dan teman saya 3idiots berhasil memvisualisasikan apa yang ada dalam benak kita waktu membaca Toto-Chan. Kemudian membuat versi lebih 'asyik' daripada Dead Poet Society, maksudnya versi negara dunia ketiga.
Film wajib tonton untuk anda orang tua yang otoriter :D, atau mahasiswa dan pekerja yang lagi bimbang memutuskan akan memilih 'profesi', dan calon mahasiswa yang akan menentukan masa depannya. Dan gak perlu terganggu dengan nyanyi-nyanyi-nya deh, namanya juga film India. Btw, Rancho pas di adegan terakhir itu kok mirip Jude Law ya? :D
Tag: Film, India, pendidikan, totochan, humanis
Terkait:
-
3 Idiots, Bukan Film Idiot
Jumat, 22 Jan '10 20:54 -
Mockumentary Film: Modern Family
Rabu, 1 Feb '12 23:32 -
Masihkah Ia Sekuat Besi?
Senin, 23 Jan '12 22:08
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Bieb: jadi penasaran
-
maharrani: yoi banget
-
Natalixia: keren
-
Titiw : jadi penasaran
-
MiMa: keren
-
moccabrown: jadi penasaran
-
fairyteeth: jadi penasaran
-
kmonoarfa: jadi penasaran


Komentar:
btw, nonton semalam ya?
jam 18.40?
kalo iya, bareng donk kita...
Tapi Rancho bogel hehehe...
Pesan yang dibawa film ini memang keren banget.
Udah gitu sekarang lagi era-nya segala sesuatu yang mengandung motivasi.
Kl Sofie bilang film ini wajib buat para orangtua otoriter. Menurutku nggak hanya yg otoriter yang wajib nonton.
Secara nih ya, kita semua kan lagi belajar dalam hidup (kelasnya aja bdea-beda). Nah film ini memberikan pelajaran yang priceless..
So semuanya harus nonton film ini!
All iz well All iz well
hahaha, iya kan jude law kan ya? guanttteeennnggg *slruuppp*. karena aku selesai miting jam 2, langsung ngibrit ke PP jam 15.20
aji aditya junior:
iya semoga ada dvdnya, aku juga pengen beli
Bieb:
sepertinya masih, semoga berhasil dapat tiket ya
maharrani:
sebenarnya mau nambahin , orang tua yang memiliki potensi otoriter kayak saya
Silahkan login untuk memberikan pendapat