TIDAK MERASA TAKUT KETIKA NONTON FILM "takut" 17
Selasa, 9 Feb '10 22:17
Judul Film: Takut- Faces of fear
Sutradara: ada enam orang, dengan catatan Mo brothers dihitung satu sutradara
Sinopsis: Pertama mungkin agak basi, namun karena di daerah saya di Lampung tidak ada BLITZ, saya baru bisa nikmati film ini via VCD dan DVD yang disewa di.....ULTRA.
Ini merupakan kumpulan enam film horor pendek karya sutradara muda Indonesia, dan sutradara kawakan Riri riza.
Resensi:
Hasrat menonton film horor adalah ingin ditakut-takuti. hal itu tidak bisa dipungkiri menjadi sebuah ekspektasi tersendiri bagi siapapun yang ingin menonton film jenis tersebut. Sehingga mau sehebat apapun tehnik pengambilan gambar, naskah yang dibuat, akting yang meyakinkan, spesial efek yang yahud, tetap saja naluri dasar menonton horor tetap menjadi aturan baku yang tidak tertulis : MERASA KAGET, ADRENALINE RUSH, dannnn TERIAK SEKENCANG- KENCANGNYA, harus terpenuhi.
Entah kenapa melihat film antologi horor buatan anak negeri ini, justru sensasi dasar tersebut tidak terpenuhi. Apabila alasan yang paling mendasar untuk membuat film ini adalah ingin meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap film horor, yang terlanjur rusak oleh film horor mesum macam ....pocong perawan, ....keramas,....atau yng terbaru....datang bulan, dengan membuat konsep dan kualitas "kelas dunia", tetap harus memenuhi hasrat paling mendasar tersebut. Dwilogi Phobia buatan Thailand mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana sebaiknya sebuah film bernuansa horor dibuat dengan tanpa mengesampingkan kualitas. Meskipun film-film tersebut memiliki kualitas festival, alasan mendasar tentang kenapa film horor dibuat tetap mereka penuhi, membuat penonton berteriak dan ketakutan.
Dari enam cerita yang dibuat oleh para sutradara pilihan itu, mungkin hanya karya Riri Riza dan the Mo brothers yang bisa dibilang baik. Karya Rako yang diberi judul Show Unit, terus terang menjadi film thriller terburuk yang pernah dibuat di Indonesia. Saya tidak suka tehnik ala "Sin City" itu, tidak jelas motivasinya. Sin city adalah sebuah film tentang sebuah kota yang sangat pekat dalam segala suasananya, sehingga Robert Rodriguedz memilih untuk memakai penggunaan tehnik gradasi warna ala ilustrator komik untuk mendukung kepekatan tersebut. Sementara "Show Unit" menggunakan itu, tidak lebih daripada untuk gaya-gayaan. Kalau motivasinya untuk menggambarkan kepekatan jiwa si suami pembunuh (yang diperankan dengan akting baik yang tersia-sia dari Lukman sardi), itupun gagal, karena film ini sangat lemah pada struktur pernaskahan. Tentang bagaimana sebaiknya naskah trhiler yang baik dibuat, nampaknya Rako harus belajar dari "the others" atau mungkin...."Basic instinc".
Hal yang sama juga terasa pada film-film lainnya, selain karya Mo dan Riri, sama sekali masih lemah. Titik terlemah terletak pada "The rescue", karya Raditya Sidarta, ouwww please, dialognya seperti sinetron striping saja. Meskipun film ini sangat kuat di tehnik pengambilan gambar, karena latar belakang Raditya yang sutradara video klip. Namun Sayangnya, dia mengulang kesalahan menahun para pembuat video klip yang terjun membuat film layar lebar, lemah di sisi penokohan, akting, dan tehnik bertutur. meskipun secara gambar sangat mumpuni, dan berkelas dunia, Namun sekali lagi...ini film, bukan video klip.
Cukup, hanya Mo brothers dengan "Dara" yang meyakinkan. Dengan format antologi yang merupakan kumpulan horor dan berbagai jenis genrenya, termasuk Thriller, horor komedi, horor eksotis, horor tradisi/legenda urban, dan...Slasher, hanya Mo brothers yang sangat berhasil membuat fim dengan genre yang pas, dalam hal takaran dan penceritaan.
Dara tampil menjadi film yang menggairahkan, menggoda, sekaligus menjijikan. Saya berani menjamin, film horor kelas dunia apapun yang anda tonton, "dara" berada satu setengah tingkat di atasnya. Kelebihan Mo brothers dibandingkan "slasher" (yang mungkin terlanjur dianggap murahan dan cenderung menjijikan) kelas dunia lain adalah, pembantaian itu disajikan dengan elegan dan berselera.
Ini serius, Mo brothers memperlihatkan potensi ke arah sana. Dan karya mereka menjadi penyelamat "kurang baiknya " antologi "Takut".
NB: Saya biasa menonton film horor bersama istri, karena biasanya dia akan memeluk erat ketika ketakutan. Resep ini sukses terhadap semua film horor, dan biasanya menjadi parameter absurd saya untuk menentukan bagus tidaknya film horor tersebut. Sayangnya itu tidak terjadi saat menonton "takut", akhirnya parameter absurd ini memberi saya kesimpulan bahwa "takut"i gagal dalam merepresentasikan bagaimana horor yang baik dibuat.
BTW, film horor terbaik indonesia versi saya masih dipegang oleh JELANGKUNG, dan yang terbaru....KERAMAT.
Tag: Film
Terkait:
-
Mockumentary Film: Modern Family
Rabu, 1 Feb '12 23:32 -
Masihkah Ia Sekuat Besi?
Senin, 23 Jan '12 22:08 -
The Real Mission Impossible
Sabtu, 24 Des '11 18:57
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sofie: nggak ada matinya
-
maharrani: nggak ada matinya
-
Chika: nggak ada matinya
-
ibhe: nggak ada matinya
-
ReyDani: yoi banget
-
moccabrown: keren
-
Bieb: jadi penasaran
-
MiMa: yoi banget
-
Titiw : jadi penasaran
-
fairyteeth: jadi penasaran


Komentar:
Film-film horor zaman sekarang sih kurang nakutin. Mungkin karena efek & make-up hantunya jelek, jadi yang ada di pikiran kita waktu nonton ya make up nya jelek
Kalo Keramat aku belum nonton tapi sepertinya menakutkan. Film ini juga belum nonton nih. Hari ini coba ke rental ah
Nonadita: sama kayak miss maharani bu, takutnya tuh terpelihara sampe tiga bulan lebih, Jelangkung sialan....
"Keramat" blom nonton.. bagus kah? *cari2 trailernya*
Rumah Dara harus jadi standard baru dari genre sejenis tuh. jadinya film-film berikutnya bisa melebihi sensasi sekarang
say no untuk horror mesum! kalo mau bikin aja film mesum sekalian
Rumah dara, honestly merupakan sejarah baru bagi film indonesia, karena mampu nampilin film slasher kualitas festival, dengan angle yang tergarap...
aku juga gak suka nonton horor mesum....di bioskop hahahhaha.....
karena aku beli vcd bajakannya, Bajakan? yap, aku gak ngerasa berdosa beli produk bajakan film-film itu, karena merekapun gak merasa dosa bikin film kayak gitu.
hu uhm bner bgt,,pilm2 horor made in indonesia g ada yg bagus, mungkin cm 1-2 aj yg bs dbilang bener2 serem,,pilm horor yg skrg mah g mutu bgt cm nampilin adegan2 seks.
aji aditya junior: karena aku beli vcd bajakannya, Bajakan? yap, aku gak ngerasa berdosa beli produk bajakan film-film itu, karena merekapun gak merasa dosa bikin film kayak gitu.
*ikutan ngubek2 inet,mw download keramat*
aji aditya junior: saat baca "film horor terbaik indonesia versi saya masih dipegang oleh JELANGKUNG, dan yang terbaru....KERAMAT"
Aq sampe baca 2x. Aq kira kata2 yg terakhir itu "...KERAMAS". hehehehe
Bieb: beda tipis ya antara s sama t...hahahaha
aku jg setuju kalo horor indonesia yg paling serem jelangkung, karna gak menampilkan si setan secara langsung, membuat si penonton jd penasaran & slalu dag dig dug stiap scene malam mulai menjelang....
aku nonton jelangkung, biasa aja...
ndak suka horor... karena emang dari kecil ndak pernah takut sama yg namanya hantu2 dan kawan serta kerabatnya... lebih suka pelem2 thriller... btw, banyak yg bilang Dara di Takut ini lebih bagus dari Rumah Dara ya?
Silahkan login untuk memberikan pendapat