The Quitter: Si Gampang Menyerah 4
Selasa, 9 Feb '10 13:46
Mulanya adalah American Splendor. Film yang mengisahkan kehidupan seoorang loser, yang selalu kalah dalam hidupnya, gampang berkeluh kesah, tidak punya citacita, bahkan seperti tak pantas untuk menjalani kehidupan sebagai manusia. yea, saya mengenal karakter nyata itu di sana: Harvey Pekar. American Splendor menjadi salah satu film favorit saya, film yang lebih riil untuk menceritakan kalah menang dalam kehidupan seseorang sehari-harinya.
Kali ini saya membaca versi bukunya, The Quitter. Mungkin ini yang dinamakan dengan revolusi bacaan dalam sejarah dunia tulis masa kini. novel grafis menjadi begitu terkenal. Pengalaman pertama saya membaca jenis karya ini adalah dengan membaca Embroideries (Marjane Satrapi), dilanjutkan Persepolis 2 dan akhirnya membaca The Quitter. Saya tidak ingin membahas sejarah novel grafis dan pengalaman saya membaca bukubuku lainnya, tapi di sini saya akan mencoba mengulas sedikit soal buku yang baru saja saya tamatkan tadi pagi (tepatnya pada pukul 3.30 am) setelah bolak-balik dibaca dalam perjalanan pulang pergi naik KRL.
***
Ia (Pekar) mengisahkan hidupnya dalam rangkaian situasi kerunyaman yang ia miliki, entah disengaja ataupun tidak. Tampaknya faktor ketidakberuntungan begitu melekat dalam hidupnya. Runtutan kegagalan dikombinasikan dengan obsesi kehidupan yang ia ingin miliki tampaknya menjadi kombinasi pas. Disamping itu hidupnya pun berjalan dengan ketidakpastian dan ketidakyakinan. Ah, karakter anti-hero yang memang akan selalu ada menandingi figur hero-hero lainnya, baik dalam fiksi maupun kehidupan nyata.
Sebenarnya, dalam buku ini ia tampak mencoba untuk berdamai dengan situasi dan keadaan yang dialami. Coba mari lihat runtutan peristiwa yang ia alami:
Berasal dari keluarga Yahudi, di mana keluarganya sendiri sibuk dengan kehidupannya masingmasing. Pekar besar menjadi pemuda yang bengal, gemar berkelahi dan mencari kepuasan dari setiap pukulan dan darah yang mengalir dari lawan-lawannya (elemen darah selalu hadir di mana-mana, nyaris disetiap kotak kolom novel ini; membuat ia menjadi figur antihero yang sadis), ia mencoba mengalihkan aktivitas fisiknya dalam dunia olahraga namun tak lama ia mulai asyik menggemari jazz dan komik yang memang marak digandrungi muda-mudi Amerika saat itu (sepertinya masih deh sampai sekarang). Hidupnya berhenti di tingkatan dokumentasi arsip, sebagai pegawai federal yang mengurus arsip negara, sambil tetap mengakali rutinitasnya dengan melakukan review musik-musik jazz dan menjadi komikus. As plain as a life, right? Dan satu hal lagi ia tipe manusia yang tidak bisa bekerja pada hal-hal yang sifatnya teknis dan mekanis. Unik dan khas.
***
Beberapa reviewer mengatakan buku ini masuk dalam kategori adorable books. Yang mencoba mengilustrasikan kehidupan seharihari orang kebanyakan seperti Pekar, meski terjebak dalam tumpukan kerunyaman, kegagalan, kesialan namun tetap berusaha bangkit kembali meski dalam beberapa ilustrasi tidak digambarkan apa sesungguhnya obsesi hidup yang Harvey Pekar miliki.
Tag: novel grafis
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
missmaharrani: keren
-
Chika: jadi penasaran
-
Bieb: jadi penasaran
-
Titiw : jadi penasaran
-
sofie: nggak ada matinya


Komentar:
Hidupnya penuh runtutan kegagalan, obsesi kehidupannya yang...duh...
Tapi dia bengal, gemar berkelahi dan mencari kepuasan dari setiap pukulan dan darah yang mengalir dari lawan-lawannya.
*sigh*
Silahkan login untuk memberikan pendapat