Aku dan Kau 6

Selasa, 9 Feb '10 18:20

Seorang teman pernah bilang bahwa suatu hubungan itu laiknya sebuah proyek yang mesti terus dinilai-ulang dan direka-pandang berbagai seginya. Menganggap kalau semuanya akan berjalan seperti ketika kita memulainya sama menyesatkannya dengan berpikir bahwa kedirian kita tidak, dan takkan, pernah berubah. Ia serupa jalan di dekat rumah. Meski kita sudah melaluinya nyaris sepanjang hayat, kita hampir tak mungkin selalu meniti garis yang sama. Kadang kita melenceng agak ke kiri; kadang kita ambil jalan memutar.

Suatu hubungan dengan demikian senantiasa menyalin kembali gairah bermain kejar-dan-tangkap dengan karakter, yang tentu saja taktunggal. Hari-hari ini, ketika banyak orang kian nyaman dengan monolog, karakter seakan-akan hanya direduksi menjadi indeks. Ia bukan dilihat sebagai bagian penting dari proses percakapan. Ia hanya sebuah pelengkap dari kehendak untuk mengukuhkan narsisisme: orang lain ada hanya ketika ia diperlukan. Dengan kata-kata Subagio Sastrowardoyo di puisinya 'Nada Awal': "di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih."

Saya teringat sebuah film termasyhur karya Bernardo Bertolucci 'Last Tango in Paris,' Film ini bercerita tentang seorang lelaki rapuh yang merasa dinihilkan oleh hidup dan berupaya melepaskan kesengsaraannya melalui seks brutal dengan seorang perempuan muda. Si lelaki dimainkan oleh Marlon Brando, si perempuan Maria Schneider.

Dengan berhasil, Bertolucci bercerita tentang seks yang melulu berfungsi sebagai alat belaka, bukan akibat logis dari dalamnya hubungan 'aku' dan 'kau'. Seks di film itu hanya menubuhkan keputusasaan Brando, yang agaknya begitu haus akan kemanusiaan. Memang, pada titik itu, ia tak lagi banyak mengenal cara berkomunikasi. Seks adalah salah satu yang masih ia tahu.

Si lelaki dan perempuan tidak pernah memperkenalkan nama mereka. Mereka hanya bertukar keringat, dan sorot mata penuh benci terhadap keadaan diri masing-masing. Karena itu, nama, yang selalu merujuk kepada kenangan, merupakan sebuah kemustahilan.

Paradoks itu pun tersibak: Seks, yang seharusnya menjadi ritus puncak keintiman 'aku dan kau', di film itu justru jadi lokus bagi jiwa-jiwa mati. Penerimaan mereka terhadap situasi anonim menegaskan itu. Individu menjadi mayat di bagasi pesawat: Ia dinilai berdasarkan berat dalam kilogram sebab nama takpenting lagi. Maka amatlah wajar jika seks dalam 'Last Tango in Paris' tidak pernah bersifat inter-course.

Film itu melulu menusukkan pesimisme kepada para penontonnya. Demikian pula yang terimbuh pada makna hubungan dalam keseharian kita, yang akhir-akhir ini begitu banyak ditentukan oleh prasangka. Betapa tidak? Media, dalam berbagai bentuk dan penetrasinya ke dalam diri suatu persona, telah mengajarkan bahwa pendapat mendahului fakta. Pandangan kita atas suatu masalah sudah kadung dikotori oleh berbagai opini tentang masalah itu. Kita jadi abai terhadap substansi masalah.

Tapi, sebagaimana sebuah hubungan yang mengizinkan percakapan, Brando akhirnya menanyakan nama Maria setelah melalui proses ganjil yang ruwet. Sang perempuan menjawab, dengan suara yang bergetar, seraya tangannya tersaput keringat dingin memegang senapan. Maria memberitahukan namanya, dan menembak Brando.

Si lekaki mungkin mati, tapi ia dengan penuh gairah menyiasati kebanalan hubungan dengan sebuah momen puncak itu: Permintaan akan sebuah nama.

--

Gambar dari sini


Tag: Film

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sari indah 0 0
Manusia memang makhluk sosial. Dan salah satu kebutuhannya adalah afeksi. Jadi orang yang antisosial pun akan butuh seseorang untuk berbagi. : )
missmaharrani 0 0
Paragraf ke tiga dari bawah. I like it!
Itu lah yang seringkali terlihat belakangan ini.
Kalau film ini menusukkan pesimisme terhadap pembacanya, maka dalam kehidupan nyata media menggantikan peran film itu.
Makanya saya nggak suka nonton tv lokal.
Too much pesimisme lah...kita harus lebih optimis..
all iz well *efek nonton 3 idiots*
Titiw 0 0
Tiap baca tulisan kamu aku selalu ngerasa baca tulisannya GM. Jiyeh.. eh bener lho.. banyak diksi dan kata2 baru yang bisa ditambahin untuk vocab sehari2.. : D
bonardomaulana 0 0
Titiw : Trims berats, meskipun berlebihan : )

sari indah: Yang antisosial kayaknya memang memilih untuk menjauhkan diri dari orang lain deh : D

missmaharrani: 3idiots belum nonton. Tapi, frasa 'all's well' itu sering gue lihat dionggokkan sebagai status : p
sari indah 0 0
bonardomaulana : bukan gitu maksudku mas. yang aku maksud, aku ga pernah percaya ada orang yang anti sosial. semua orang pasti butuh teman untuk berbagi..: ))
bonardomaulana 0 0
sari indah: Eh, hiya. Saya memang salah : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat