Dari Jawa Menuju Atjeh: Rentang Ruang dan Pengalaman Manusia Indonesia 7
Senin, 8 Feb '10 17:41
Tuturan ini khas Linda. Tidak meluap-luap namun juga tidak sekadarnya. Linda menulis dengan hasrat yang dijelujurinya melalui konsistensi kedetilan gaya bertutur. Tidak hanya itu, Linda pun piawai dalam merangkai plot yang tidak sembarangan ia bangun sebagai sisipan dramaturgi kisah hidup mulai dari orang-orang kebanyakan disepanjang Jawa sampai Aceh; hingga beberapa nama-nama penting seperti Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, Bre Redana, dan Dede Oetomo. Kesan ini yang muncul ketika saya menggenapi ke-200 halaman dari buku kumpulan tulisannya.
Seperti anak muda kebanyakan, Linda juga ikut membaca Catatan Harian Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Bukan sebuah kebetulan belaka jika buku itu akhirnya memancing banyak orang dan tidak terkecuali Linda untuk berani menentukan pilihan hidupnya. Keputusannya untuk hijrah ke pulau Jawa tidak hanya digunakan Linda sebagai proses evolusi intelektual, namun mengutip catatan ayah Linda dalam buku ini, bahwa kehidupan di luar rumah itulah kehidupan yang sebenarnya, karena setiap anak harus belajar tentang kehidupannya sendiri. Dan Linda mungkin telah menemukan kehidupannya sendiri kini.
"Diskriminasi menghasilkan semacam ludruk, sekaligus kengerian". Kutipan langsung dari paragraf ketujuh di bagian kata pengantar, bisa menggambarkan pucuk-pucuk evolusi cara berpikir Linda atas berbagai ketidakadilan yang muncul dari sikap penguasa yang terus membungkam setiap bentuk perbedaan. Kepekaannya yang kian terasah dan diikuti dengan sikap kritis atas perubahan sosial politik yang tidak kunjung menjadi baik itu semakin memancing dirinya untuk melakukan satu perubahan. Perubahan tidak cukup datang dari ruang-ruang kelas, diskusi, atau duduk dan membaca setumpuk karya sastra yang selama ini amat digemarinya. Saya melihat Linda telah mengalami rangkaian fase kegelisahan. Linda masih tetap mencintai buku dan ruang-ruang diskusinya. Tapi sekali lagi, mengutip deretan kalimat di kata pengantar buku ini, "Perubahan adalah praktik. Dan ia harus dimulai saat itu juga, detik itu juga. Perubahan adalah seni. Ia tidak sekadar membutuhkan sikap keberanian dan kesabaran, melainkan juga kreativitas". Perubahan yang menuntut tindakan praktik, seni dan kreativitas adalah pelengkap dari kumpulan diskursus yang masih ia lakukan dan semakin mengayakan karakter Linda Christanty.
Nuansa sastra yang kental harus diakui menjadi benchmark Linda Christanty. Tidak mengherankan karena masa mudanya banyak dihabiskan untuk menggeluti karya sastra klasik, khususnya karya-karya sastra Jepang dan Prancis. Nama-nama seperti Yukio Mishima, Yasunari Kawabata, dan Haruki Murakami adalah sastrawan-sastrawan yang memberikan pengaruh besar dalam teknik kepenulisan Linda. Sebagaimana diakui olehnya para penulis Jepang itu mampu memilih kata serta diksi yang sederhana, tanpa ledakan-ledakan emosi, seperti yang bisa kita baca dalam karya-karya novel modern Haruki Murakami yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, salahsatunya yang terkenal adalah Norwegian Wood.[1]
Karakter tulisan Linda memang layak untuk mendapatkan apresiasi. Tidak seperti jurnalis kebanyakan, minat Linda dalam mengelaborasi genre jurnalisme sastrawi yang tidak sekadar mengutamakan kedalaman tulisan namun juga bagaimana sebuah tulisan itu bisa memikat hati pembaca, mengaduk-aduk emosi pembaca, hingga meninggalkan kesan usai membacanya; Persis seperti apa yang saya rasakan kini. Buku ini bukan novel juga bukanlah cerpen yang ditulis sepenggal-sepenggal, namun buku ini memadukan teknik jurnalistik dan pengalaman Linda dengan karya-karya sastra, yang hasilnya bisa dinikmati dalam 17 karya prosa ini.
Ketujuh belas prosa ini melebihi catatan biasa. Linda menuliskannya tidak hanya sebagai catatan personal atas perjalanan, pengalaman, gagasan, keprihatinan dan kepeduliannya untuk sesama, namun melampaui itu semua, Linda berusaha mengajak pembaca untuk melihat Indonesia dari kacamata yang lebar dan jernih. Indonesia bukan hanya persoalan Jakarta per se, ketamakan pemilik modal untuk meningkatkan akumulasi modal, eksploitasi sumber daya alam, dan keangkuhan penguasa untuk bisa menguasai setiap jengkal kebebasan yang kian menjadi benda langka di negeri ini. Menjadi manusia Indonesia juga berarti menjadi manusia yang harus mengasah terus kepekaannya dalam realita sosial sehari-hari.
Mari saya ambilkan contoh bagaimana Linda memotret persoalan-persoalan sensitif dan 'besar' namun dalam sudut pandang personal dan akrab di mata kita. Hikayat Kebo (lihat halaman 34-55) adalah potret bagaimana problematika kehidupan urban tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan politik Indonesia. Kisah kematian Kebo yang tragis pada medio 2001 kiranya masih aktual untuk kita resapi. Kebo bukan publik figur yang bisa setiap hari memenuhi headline di media cetak dan elektronik. Kebo hanyalah preman kota yang hidup dengan caranya sendiri. Menghabiskan waktu untuk berjudi, mabuk, dan main perempuan dan tidak peduli esok mau makan apa. Hidup santai a la Kebo mungkin menyenangkan, tapi juga penuh risiko. Nah, peristiwa Kebo adalah contoh kompleks untuk melihat karakter masyarakat Indonesia yang kini dikuasai oleh kekerasan kerumunan.
Dulu, jika negara handal dalam menghilangkan nyawa seseorang yang berseberangan dengan paradigma sentralistiknya, kini, keahlian semacam itu tidak memerlukan spesifikasi khusus lagi. Kekerasan datang dari segala penjuru, bisa datang dari etnisitas, agama atau keyakinan tertentu (lihat kisah Adakah Pelangi dalam Islam; halaman 88 - 100), pendukung partai politik, atau orang biasa yang tiba-tiba memiliki kuasa untuk melakukan kekerasan dan menghilangkan nyawa seseorang, bahkan dengan alasan yang sepele sekali pun. Aksi main hakim sendiri hingga merenggut nyawa Kebo, problematika khas kekotaan seperti kemiskinan struktural, ketiadaan akses tempat tinggal bagi orang miskin, ketiadaan akses ekonomi, penggusuran, kekerasan dalam rumah tangga yang dialami Muah (istri Kebo) adalah penggalan-penggalan drama yang tidak bersandar pada skenario fiksi karena di masa lampau negara telah mempertontonkan sebuah pertunjukan kolosal, berdurasi panjang dan bertemakan kekerasan. Sebuah ironi yang masih terus membayangi.
Kita tentu tidak menyangka ketika kebebasan digegap-gempitakan, dirayakan, disukacitakan di seluruh pelosok tanah air, namun diam-diam kekerasan tengah berkembangbiak, menyusup di mana-mana dengan kembali menunggalkan bentuk kebenaran dan menyingkirkan mereka yang dianggap berbeda. Kisah petrus (baca: penembakan misterius), kasus penculikan dan rentetan kekerasan/pelanggaran HAM masa lalu adalah kisah yang sejatinya tidak boleh kita lupakan. Kisah-kisah semacam ini bisa terulang jika kita tidak pernah belajar dari apa yang telah dialami oleh para martir terdahulu. Wiji Thukul misalnya, kisah hidup orang hilang yang turut dituturkan dalam buku ini menjadi simbol abadi atas perjuangan kaum urakan yang lebih bisa memaknai hidup ketimbang para penguasa yang memimpin negeri ini.
Kisah pinggiran lain yang juga dinarasikan dalam prosanya berjudul Gaya Nusantara (baca halaman: 101 - 122). Kisah ini mengangkat pengalaman Dede Oetomo yang akhirnya memutuskan untuk melakukan coming out dengan status dan orientasi seksualnya. Sekali lagi, dengan gaya tutur subtil dan detail, Linda mengajak para pembaca untuk mengenal lebih dekat kehidupan komunitas LGBT (lesbian, gay, transeksual, biseksual), melepaskan semua sekat pakewuh dan mendudukkan mereka sederajat dengan manusia lainnya tanpa tabir diskriminasi maupun hal-hal lainnya yang bisa menurunkan derajat dari prinsip kemanusiaan itu sendiri.
Namun, di sisi yang lain Linda juga menghadirkan sosok-sosok lain yang selama ini berada di garis batas yang sering berseberangan. Mereka yang mengabdi kepada negara, menjadi serdadu untuk terus mengisi periuk nasi. kisah Batalion Terakhir (baca halaman: 135-138) adalah kisah yang menceritakan kehidupan tentara yang ditempatkan di pos penjagaan Ulee Lheue, Aceh. Mereka yang berada dalam kesatuan Yonif 400/Raider menjadi kesatuan pamungkas di Bumi Serambi Mekkah itu selama sepuluh bulan terakhir. Susunan kalimat yang menggelitik dilontarkan oleh Iqbal, fotografer dari jakarta yang menemani Linda di sana, "Jangan-jangan setelah perang ini mereka malah mempertanyakan kenapa harus ada perang, merasa sia-sia jadi tentara." Dalam tulisan ini, Linda berusaha mendudukkan kembali konsep cinta kasih pada sesama dengan tidak memberikan perbedaan status yang disandangnya dengan para serdadu itu.
***
Buku ini hadir nyaris tanpa cacat. Namun beberapa catatan kritis ingin saya bagi di sini, khususnya untuk memperkaya tema-tema prosa yang telah dikemas dengan baik oleh Linda. Pada bagian Wiji Thukul dan Orang Hilang (baca halaman: 56 - 73), Linda mengupas habis sosok Thukul, perjuangannya, hingga detik-detik Thukul dihilangkan. Namun, Linda nampaknya lupa untuk menyisipkan sisi intelektualitas Thukul. Fakta Thukul adalah pembaca setia dari karya-karya pemikir kiri, seperti Marx, Raymond Williams, bertolt Brecht, Antonio Gramsci adalah fakta menarik yang belum dielaborasi oleh Linda. Sampai sejauh mana karya-karya klasik dari para pemikir itu mempengaruhi alam pikir Thukul mungkin sudah bisa kita tebak, namun akan lebih baik jika Linda bisa menambahkan daya pikat intelektualitas seorang Thukul yang ikut mempengaruhi state of mind-nya.
Dari Jawa Menuju Atjeh menawarkan bentuk dokumentasi yang segar. Linda benar-benar tahu bagaimana jurnalisme tidak sekadar mewartakan sebuah informasi kepada masyarakat luas, namun juga jurnalisme bisa digunakan untuk mengangkat sisi-sisi sensitif yang jarang atau bahkan tidak pernah tereksplorasi dari banyaknya informasi yang akhir-akhir ini mudah didapat. Vitalitas Linda dalam berkarya harus kita hargai, sebagai wujud konsistensinya di dalam dunia informasi ini.
Biografi mini dari kehidupan Kebo, Pram, Bre, Thukul dan Dede Oetomo adalah kisah-kisah perjuangan sejati untuk meraih kebebasan yang layak mereka dapatkan. Dan biografi-biografi mini ini bisa memberikan inspirasi kepada kita semua untuk melakukan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.
[1] Beberapa judul novel Murakami juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti Norwegian Wood dan Dengarlah Nyanyian Angin; judul buku yang lain sebagian bahkan sudah bisa diakses dalam terjemahan bahasa Inggris di beberapa toko buku di Jakarta.
Tag: prosa


Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat