Burma VJ: Fasisme di Jantung Asia Tenggara 4

Senin, 8 Feb '10 13:51

Film ini masuk dalam nominasi dokumenter terbaik unggulan Oscar tahun ini. Film ini juga sempat diputar di JiFFest 2009 silam, tapi kebetulan teman saya dari Burma mengirimkan langsung video film ini kepada saya. Sebagaimana yang saya katakan, Burma VJ  adalah film yang dinantinantikan, tidak hanya untuk masyarakat Burma, namun juga publik Asia Tenggara dan publik luas lainnya yang penasaran atas situasi terkini di negara yang masih anti dengan demokrasi, anti HAM, anti pluralisme, anti kebebasan berekspresi dan halhal lainnya yang merujuk pada prinsip-prinsip penegakan HAM, demokrasi, dan kemanusiaan.

Film ini mengambil sudut seorang jurnalis lapangan, mungkin lebih tepatnya jurnalis perang yang berada di negaranya sendiri yang selalu berada dalam keadaan darurat, atau mungkin lebih tepatnya seakanakan darurat. Adalah Joshua, seorang video jockey yang tentu saja bekerja dengan instrumen-instrumen yang berkaitan erat dengan video, mini dv, handycam, adobe premiere pro (atau software editing lainnya) dan satelit pengirim berita.

Myanmar atau lebih dikenal sebagai burma memang sudah lama berada di bawah bayangbayang despotisme. Mereka menjalankan roda pemerintahan dengan caracara yang meminggirkan aspirasi warganya. Tak heran jika masih ada 1000 aktivis politik dan Aung San Suu Kyi tetap berada di bawah pengawasan mereka. film ini Berusaha memotret bahwa masyarakat Burma tetap berjuang, meski dari pinggiran ibukota Rangoon.

Minimnya akses media dan informasi di negara ini, membuat 30 orang jurnalis lapangan itu harus memilih jalan bergerilya untuk bisa mendapatkan gambargambar menarik yang bisa dikirimkan secara streaming. Berbekal handycam berbaterai tahan lama, mini dv, dan kejelian mereka dalam melihat situasi di lapangan, mereka, setiap hari turun ke jalan dan mengabadikan titik-titik perlawanan harian masyarakat burma.

Risiko pekerjaan ini mirip seperti aktivitas yang ditempuh para pegiat HAM. Nyawa adalah satusatunya hal yang paling berharga dan harus dipertaruhkan di sana. Tak jarang mereka harus mendapatkan penguntitan tingkat tinggi, risiko kamera diambil paksa, atau yang terburuk: nyawa yang dihilangkan.

Momen yang paling menentukan di film ini adalah ketika Joshua terpaksa harus mengungsi ke Chiang Mai (Thailand) dan bekerja dari sana. ia tetap mengirim berita secara rutin kepada channel pemberitaan asing seperti CNN, BBC, dll. Tapi jika ia tetap berada di Burma, dikhawatirkan nyawa dan keselamatannya akan terancam. Ketigapuluh jurnalis lapangan yang handal itu tetap berada di Burma. In case people power terjadi di sana sewaktu-waktu. Di tengah-tengah itu ada peristiwa yang tidak diduga terjadi di Burma, para biksu turun gunung dan bergerak menuju Rangoon! Mereka, berkain merah dan bersendal jepit berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk menyampaikan kegelisahannya. Tidak hanya itu, mereka juga mengajak masyarakat luas agar ikut turun ke jalan dan meminta ketegasan dari junta militer burma untuk membebaskan seluruh tahanan politik dan mulai menerapkan prinsip demokrasi dan HAM dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Film ini dari segi gambar bisa dikategorikan semi dokumenter. Banyak footage tapi banyak pula dire-created untuk menyisipkan karakter Joshua dalam film itu. Seperti yang saya bilang di awal, junta militer melarang segala bentuk kebebasan berekspresi, oleh karena itu segala bentuk pendokumentasian (audio) visual juga dilarang di sana. Dengan cara investigasi mereka membuat hidden camera di tengah-tengah aksi itu. Ada banyak tips dan trick untuk melakukan hidden camera belajar dari pengalaman mereka. Handycam bisa dibawa di dalam tas ransel, di dalam jaket, dibawa berjalan dengan koran atau handuk yang menutupinya, atau dikempitkan di ketiak. Intinya banyak cara untuk bisa merekam gambar asal kita kreatif untuk melakukannya.

Mulanya para jurnalis itu mendapat penolakan dari para biksu, karena biksu-biksu itu takut kalau mereka juga merupakan bagian dari intelijen (haha, intel berkantor di jalanan. sama seperti intel melayu di sini). Tapi sikap reaksioner dari pihak keamanan dan intelijen di sana membuat para biksu itu paham kalau mereka (baca: jurnalis lapangan) itu benarbenar jurnalis yang bekerja untuk menyuarakan mereka yang tidak bersuara.

30 orang itu bergerak menyebar. Berjalan bersamasama dengan para biksu dan kerumunan masyarakat burma atau stand up di antara gedunggedung. Semua itu dilakukan agar mendapatkan point of view yang menarik. Uniknya dari multiple angles ini adalah mimik dan gerak tubuh warga burma. mereka, secara bersama-sama seperti merayakan sesuatu, hal telah lama direnggut dari kehidupan dasar mereka semua. ekspresi senang, bertepuk tangan, berdansa, mengucapkan selamat, saling berpelukan, mengacungkan jempol adalah ekspresi-ekspresi lumrah yang bisa terrekam oleh kamera.

shoot terbaik dari film ini adalah ketika para biksu itu membalikkan kuali (bowls) hitam sebagai tanda keprihatinan mereka atas situasi sosial dan politik di Burma. Karena, biksu adalah simbol dari status sosial yang agung di sana. Biksu tidak boleh mengalami bentuk kekerasan dan profesi ini adalah profesi suci, sehingga ketika mereka membawa kuali hitam ke tengah kota, atau ke sudut-sudut lainnya dan setiap penduduk burma yang lewat harus mengisi kuali hitam itu dengan kebutuhan dasar seharihari, bisa makanan pokok ataupun uang.

Nah! ketika kuali itu dibalikkan, itu menjadi pertanda para biksu turun pangkat. Mereka ingin melakukan perubahan bersamasama dengan masyarakat Burma untuk meraih keadilan dan mengenyahkan segala bentuk kemelaratan di sana. Another best shoot yang terrekam di film ini adalah ketika Suu Kyi menampakkan dirinya di depan para demonstran. namun sayang, di film itu tidak berhasil menghadirkan footage suu kyi itu. hanya file foto versi jpg berukuran kecil dan jika dibesarkan gambarnya akan pecah. gambar itu memiliki kekuatan semua orang yang melihatnya secara langsung atau dengan menonton film ini untuk langsung menangis.

Rasa geram melihat aksi brutalitas tentara junta, keberanian para biksu untuk mengajak publik dalam gerakan politik pembebasan dan rasa haru yang menyeruak ketika melihat dari dekat Aung San Suu Kyi melambaikan tangannya dan memberikan dukungan kepada seluruh biksu dan rakyat yang turun ke jalan adalah gambaran nyata kehidupan politik yang belum terbebaskan di sebuah negara yang letaknya tidak begitu jauh dari Indonesia.

Saya menjagokan film ini untuk menang di Academy Awards 2010. Kemenangan itu tidak saja sebagai wujud prestise audio visual, tapi juga kemenangan bagi masyarakat Burma yang telah lama memimpikan kebebasan dan demokrasi di tanahnya sendiri.


Tag: Burma VJ, Burma

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

missmaharrani 0 0
Ini pasti film film yang akan membuat saya berurai air mata huhuhu : ((
sofie 0 0
haaaaiiiii pur! cihuy akhirnyaaah kamu mau berbagi koleksi pilem-pilem mu , mwah! selamat datang di dunia populer : )) : ))
sheisacuckoo 0 0
hihi, hi mbak sofie. sedang bereksperimen dengan ajakanmu via telepon kemarin. iseng2 di kantor unggah tulisantulisan lama ke sini, ya sebenernya gak lamalama juga cuma engga ter-published =D
sofie 0 0
asik...asik...sip selamat membalas komen-komen dan rating-rating : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat