The People Who Struggle Yet We Mock Them 14
Minggu, 7 Feb '10 17:49
Alay, Tahu nggak artinya apa? Sama saya juga nggak tahu. Tapi, menurut berbagai sumber alay adalah:
http://iwanrizky.multiply.com/journal/item/18
http://yudhim.blogspot.com/2008/11/ciri-ciri-alay.html
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2080133
http://www.tips-fb.com/2009/06/fight-against-alay-in-facebook.html
Jadi? Apa sebetulnya yang salah dengan Alay? Menurut saya sih tidak ada, yang salah justru orang-orang yang memberi cap alay. Itu cuma brand, cap, merk yang diberikan oleh kita sendiri kepada orang-orang yang sedang berekspresi. Ekpresi bisa macam-macam, ada yang suka menulis, menyanyi, mendengarkan musik, mengikuti trend yang sedang berlaku, mengidolakan artis/selebriti/tokoh tertentu, dan masih banyak lagi.
Mungkin kita semua sependapat bahwa ekspresi dipengaruhi dari berbagai faktor, setuju? Kita juga pasti setuju bahwa (berdasarkan istilah-istilah dari berbagai sumber mengenai Alay diatas) yang disebut Alay adalah orang-orang yang secara ekonomi dan finansial atau SEC (Socio Economy Status) menengah ke bawah (SEC B hingga E). Walaupun tidak selalu, namun konotasi kita ketika mendengar atau melihat Alay adalah orang-orang yang berstatus seperti itu bukan?.
Kemudian, 10 tahun belakangan ini, teknologi komunikasi semakin murah dan kita sadar bahwa komputer, telepon selular, dan bahkan internet sudah bukan barang mewah. Warnet bertebaran di tiap sudut jalan Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Jika kemudian para SEC B-E sudah mulai menggunakan teknologi dan berekspresi dengan cara mereka... ya biarkan saja, tidak perlu berkomentar yang aneh-aneh. Setidaknya mereka melek teknologi, which is a huge step.
Sudah menjadi sebuah pemandangan lumrah di negara manapun bahwa masyarakat dengan SEC B-E adalah mayoritas. Walaupun rata-rata dari mereka harus struggle berat mengarungi hidup di kota besar ini, merekalah sebetulnya pemutar roda perekonomian. Pasar tradisional dimana para SEC B-E berkumpul mencari nafkah sangat memiliki sumbangsih besar di pendapatan per kapita kita. Mereka sadar, pemerintah tidak banyak membantu mereka, hidup mereka seperti gambling dan rata-rata dari mereka tidak memiliki tabungan hari depan. Namun begitu generasi muda mereka tetap bersemangat untuk berusaha dan terus berekspresi dan karenanya mereka di cap Alay. Jadi menyebut seseorang atau sekumpulan rorang dengan istilah Alay sebetulnya tidak ada bedanya dengan rasis dan hal itu sangat-sangat mengganggu pikiran saya.
Nah, saya tahu kita bukan orang yang rasis seperti itu kan? Seharusnya kita sebagai orang-orang yang lebih beruntung bisa menikmati pendidikan dan kesejahteraan yang lebih baik wajib membantu mereka. Mereka itu saudara-saudara dan teman-teman kita. Kalau urusan selera musik, berpakaian, berjalan, berbicara, ya biarkan saja. Saya seneng kok liat konser Wali atau Kangen Band di Pondok Gede, bukan masalah musiknya, tapi melihat orang-orang yang lelah berjibaku dengan keseharian mereka mengais rejeki kemudian tertawa dan tersenyum riang sangat melegakan hati. Di tengah kesulitan dan kesemrawutan ibukota ini ada sedikit Oasis bagi mereka.
Ya, jadi berhentilah menyebut Alay atau sebutan apapun. Kalau tidak suka ya diam saja, mereka kan tidak melanggar hukum.
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sofie: nggak ada matinya
-
ibhe: nggak ada matinya
-
fairyteeth: keren
-
maharrani: keren
-
Titiw : keren
-
leonisecret: keren
-
moccabrown: keren


Komentar:
menurut saya, Sebenernya mereka cuma nggak faham Netiket (etika berinternet) aja (sok tahu ah!, padahal taunya dari blognya sharon
contoh kasus ya, kita ambil social networking aja deh (yang lagi hot). saya seneng, seneng banget malah kalo mereka itu melek internet, cuma kadang mereka nggak permisi. dalam facebook, tau-tau main add aja gitu, tanpa sapa tanpa tanya sebelumnya. penggunaan karakternya pun terkadang tidak lazim dan bikin puyeng sekejap
dalam koprol, yang commentnya lebih bebas dari facebook (bisa comment hanya dengan following saja, tanpa harus menjadi friend), malah ada beberapa newbie yang sok asik, berkata nyerempet mesum, sampai ada yang kelewat mesum sampai akhirnya harus di-remove user id-nya oleh admin.
saya sendiri punya beberapa adik sepupu yang berperilaku seperti itu di statusnya, tapi saya nggak ikut campur, itu urusan mereka. namun setelah tanyajawab kilat saat mereka main ke rumah saya (saya adalah kakak favorit
nah, cara penyampaian netiket-nya itu yang paling penting, TAPI masalahnya, nggak saemua newbie itu ababil, ada juga adult yang perilaku networkingnya begitu.. hihi, pusing juga saya
Tapi serius deh, daripada "alay" gw lebih suka pake kata "norak" sih. Lebih sesuai khazanah berbahasa pria era saya... *halah*
toh kita semua pernah jadi alay pada jamannya bukan..
Menurutku sih alay itu cuma nama.
Setiap tahun pasti ada masa-nya.
Masa-nya banci, masa-nya ini masa-nya itu.
Nah sekarang ini masa-nya alay
Maaf ya dit, tapi dari kecil saya selalu paham kalau bersikap alay itu ga banget dan dari dulu udah mocking orang yang alay. Bukan karena mereka lebih muda dari saya atau bagaimana. Justru kadang ada kok kakak kelas yang alay dan saya udah ga suka.
Jadi menurutku alay atau tidak alat itu tergantung orangnya dan saya ga pernah jadi alay
*dibandem sak curipandang ki*
cuma ya, suka sakit jantung aja kalo gak paham (baca) apa pesan yang mereka kirimkan.
adikku salah satunya......... *jambak rambut
apy As always nice writing mas..
...kayak anti-fans satu band muda gitu deh
one of trends... nanti juga (mungkin) ilang
Silahkan login untuk memberikan pendapat