Ayu Azhari dan Ingatan Arloji 21

Rabu, 3 Feb '10 14:27

Kita hidup dengan arloji, dan karena itu kita acap tak mampu menyimpan memori.

Arloji, adalah gerak ke depan, tik-tok waktu yang tak pernah kembali. Dalam "hidup arloji", yang ditinggalkan memang tak dilupakan, tapi diogahi. Masa lalu masih ada, namun tak penting. Celakanya, masa lalu yang tak penting itu hidup dalam "ingatan kolektif yang abai".

Hari-hari ini, ideologi arloji itu, saya temukan lagi dalam sikap Krisdayanti.

Diva Indonesia itu tengah gundah karena, "Aurel tak mau menatap saya ketika berbicara. Dia sibuk memainkan teleponnya." Sebabnya, Aurel belum memberi izin ibunya untuk menilah lagi. Tabloid wanita ramai memberitakan hal itu, juga tentu, infotainmen, dan situs-situs berita. Dan, seperti bisa diduga, yang akan menikahi KD adalah Rahul Lemos, lelaki yang karenanyalah Anang menjatuhkan talak.

KD, dengan santai, bercerita tentang hasratnya untuk cepat menikah, bukan karena dia lupa pada ucapannya bahwa, "Tak ada orang ketiga dalam perceraian kami," melainkan dia percaya, penggemar dan pemirsa telah alpa.

KD tak sepenuhnya benar. Khalayak tidak alpa, apalagi lupa, cuma menganggap perselingkuhannya bukanlah sesuatu yang pantas dikenang, dimemorikan. Ironi ini, dalam bahasa Dr Risa Permanadeli, adalah ciri masyarakat Indonesia, yang, "Cenderung mengubur memori kolektifnya."

Dan kita harus mengakui lemahnya memori kolektif itu. Tora Sudiro kemudian menikah dengan Mieke Amalia, yang dia bantah menjadi sebab kehancuran rumah tangganya. Juga Dona Agnesia, yang secara mendadak berpisah dari Okan, lalu menikah dengan Darius. Dalam sengketa asmara itu, semua aktris membantah kehadiran orang ketiga, tapi waktu kemudian membuktikannya.

Apa yang dibantah, bahkan dengan sumpah, menjadi tak penting lagi. Dalam tik-tok arloji, kelampauan adalah keusangan. Meski itu menyangkut janji, atau hati. Yang menyergap, yang harus dikalahkan, adalah masa depan.

Ayu Azhari misalnya, bertarung untuk masa depan itu. Dia tahu, biografi hidupnya akan dijabarkan. Menikah beberapa kali, acap tampil seksi, sampai berakting bugil dengan Frank Zagarino dalam Without Mercy, dan terakhir, tak memakai bra ketika membaca puisi di hadapan menteri. Kalau pun itu aib, bagi Ayu, telah menjadi masa lalu, dan untuk khalayak, cuma menjadi gosip, dibicarakan tanpa melahirkan tindakan. Ayu berharap, ingatan arloji itu akan dapat mengereknya ke panggung politik karena dia punya kuasa untuk memerintah lupa, "Saya siapkan 10 miliar untuk kampanye."

Pada akhirnya, di masyarakat kita, kuburan memori kolektif itu adalah uang. Dan ini tak salah. Agustinus, dalam Confession menulis bahwa ingatan, juga kesadaran seseorang, terentang dengan ekspektasinya tentang masa depan. Ingatan, dengan demikian, selalu berelasi dengan kepentingan dan harapan di masa depan. Lupa adalah tindak yang dipilih jika bisa melahirkan sebuah harapan. Dan berkaitan dengan uang, harapan itu tentu berwatak personal.

Dan karena itulah, kita sulit berpikir sebagai bangsa.

Ingatan dibungkam secara pribadi, orang perorang, yang melahirkan kelupaan massal. Uang dan iklan --penghipnotis massa-- ditembakkan untuk melahirkan impunitas, pengampunan, pemaafan, permakluman. Dengan itulah, Ayu Azhari berharap bisa melenggang. Atau Ruhut, dengan ringan berteriak bangsat berkali-kali, meski tahu disorot televisi. Mereka percaya, waktu, ingatan arloji itu, akan dapat memperbaharui diri mereka.

Maka, Vena Melinda pun tertawa, ketika tak hapal lagu "Indonesia Raya". Juga Inggrit Kansil, yang tak dapat menjelaskan apa hak angket, sampai Rachel Maryam yang lupa sila kedua Pancasila. Tak ada wajah gugup, keringat, atau panik, ketika John Pantau menggoda mereka. Padahal, di saat yang sama, ditunjukkan betapa rakyat jelata, yang mereka wakili, tanpa berpikir bisa menjawab pertanyaan itu.

Dan mereka, aktris yang sebelum kampanye digosipkan tak akan memiliki kemampuan di DPR, tetap terpilih juga. Kita, sebagai warga, tentu masih ingat tentang "cacat" mereka. Tapi ingatan itu berjalan ke belakang, tak berfungsi ke depan. Sia-sia.

Barangkali, inilah yang dikatakan Spinoza sabagai ingatan yang tanpa sad passion, syahwat kesedihan. Mengingat bagi kita, tak melahirkan sakit, sebaliknya perasaan riang, gembira. Karena kita percaya, dalam tiap cacat masa lalu seseorang yang kita kenang, ada rejeki, uang, harapan, di depan. Kita mengingat bukan dengan afeksi, emosi, dan sentimen-sentimen personal untuk masa depan yang lebih baik, melainkan demi kepentingan personal semata.

Ingatan arloji, kataku. "Mari menari! mari beria! mari berlupa!" kata Chairil dalam puisi "Cerita buat Dian Tamaela". Karena dalam lupa, dalam ingatan yang tak ingin kita kuasakan, kita bisa bahagia, meski bukan untuk bangsa.

 


Tag: bintang, entahlah, ayu

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sofie 0 0
hah, fotonya??? : )) , gak papa sih : D.
karena mereka public figure itu kenapa mereka harusnya bekerja lebih keras....
Alderina 0 0
Aku paling sebel sama Tora dan Mieke. Sebal sekali.... : (
cabiledi 0 0
Mpe bengong liat KD kemaren di tv,, dengan ringannya nyalahin Anang yg ga ngasih anak2nya ketemu smp KD ngenalin laki barunya, astaga... ibarat jamur kuping direbus, belum juga ngembang dalam panci, baru juga cere mbak, mbak...
cabiledi 0 0
eh eh nambah2 (bad habit nih suka mikir belakangan, hahaha), case nya itje trisnawati itu juga yang mati2an ga mo ngaku selingkuh ma sapa itu namanya, trs abis cere, dy merit ma tu org n ga lama tu org meninggal, ahuah...
fadex 0 0
wuih, sebuah perenungan mendalam. Mantab tulisannya. @langit lazuardi

*sedang mencerna dan memahami pelan2 setiap kata demi kata*
ibhe 0 0
CIH! paling sebel sama artis2 borok sikut itu.. *geram*

taklupa saya anugerahkan kalimat Well Written untuk langit bara lazuardi atas tulisannya yang as always bisa memicu emosi saya. which is a good thing : )
langit bara lazuardi 0 0
sofie: kok ga papa? kudu apa-apa, terutama kalau ingat kelakuan ruhut!

Alderina: meski benci, kita tetap harus berlaku adil padanya, hahaha.... kok ga ada ya artis yang berani selingkuh dan tak harus berbohong?

cabiledi: iyya, dan infotainmen seakan lupa apa sebab perceraian mereka. narasi infotainmen tanpa "jejak ingatan" atas kasus itu. KD digambarkan sangat fragmentaris, memaksa penonton alpa bahwa ada "sebab moral" dalam perceraian mereka. infotainmen memang pantas diharamkan, hahaha...
langit bara lazuardi 0 0
iya cabiledi, suami Itje itu bernama Agung Indra Permana Sarwono. Mereka berselingkuh karena secara batin Edy Sud sudah tak mampu memenuhi kebutuhannya, ditambah secara ekonomi Agung juga mumpuni.

Mereka menikah, dan ketika Agung meninggal, ada persoalan waris yang juga jadi masalah. Padahal, ketika dengan Edy Sud-pun, masalah waris, termasuk masjid, menjadi pertengkaran mereka.

tapi, yang menjadi point, cukupkah memori kita untuk mengingat itu semua? dan dapatkan memori itu menimbulkan rasa terluka, jika, katakanlah, suatu waktu Itje mencalonkan diri untuk menjadi wakil warga, seperti yang dilakukan artis-artis lain?
langit bara lazuardi 0 0
hanya tulisan ringan tanpa juntrungan fadex, wujud dari kebingungan orang yang "dipaksa" harus menulis, hahaha... selinapan ide pun dipaksa-paksakan, agar berarti dan menjadi.

ibhe: banyak juga yang sebal dengan para aktris itu. tapi, kesebelan itu hanya jadi grenengan, jadi gosip, buah bibir, tanpa melahirkan kesadaran untuk menolak atau bertindak. Kemuakan kita pada para aktris tidak menjadi sikap moral untuk menolak mereka menjadi figur publik. Masuknya mereka ke DPR wujud dari "ingatan" kita yang tak setia.
Titiw 0 0
Gila.. tulisanmu seperti biasa super keren! Nambahin lagi ah artis yang "lupa".. Elma Theana.. Hehe..
fadex 0 0
langit bara lazuardi: hah? tulisan kek gini dibilang tulisan ringan tanpa juntrungan, gimana yang serius??? hihihihih : D
langit bara lazuardi 0 0
Titiw : iyya, elma theana pun begitu, juga reza artamevia, hehehe.... ternyata sudah jadi penyakit ya?

fadex: tentang aktris-aktris tentu soal yagn artifisial dan renyah kan? cuma berusaha memberi sedikit sentuhan pribadi aja, hahaha... makasih banget ya fadex
bonmw 0 0
Tulisan ini kontemplatif. Terlihat penulisnya sungguh bijaksana. Dari ranah yang dianggap sepele - dunia para pesolek - langit lazuardi bisa mencungkilkan hal pelik yang mendera banyak bangsa.

Paragraf terakhir itu, petilan dari sajak Chairil, pas. GM gemar sekali memakainya.

*banyak penulis bagus ya di curipandang. bangga bisa nulis juga di sini*
langit bara lazuardi 0 0
bonmw, hehehe... bijaksini kalee...

iya, banyak sekali penulis bagus di sini, makanya aku pun memberanikan diri menjadi santri/murid di sini. semoga diterima untuk menambah kemampuan teknik dan imajinasiku. thanks untuk semua ya...
tri 0 0
gilaaa kereeen banget neh tulisannya.. : D
langit bara lazuardi 0 0
tri: maturnuwun sanget *jadi melenting deh!*
MiMa 0 0
langit lazuardi : ada kok artis yg berselingkuh tapi bangga. tuh si Gary Iskak, waktu pas masih jadi suaminya si Sabrina (eh bnr gak ya nama istrinya yg dulu Sabrina?) dia dgn bangganya memperkenalkan pacar barunya di infotainment.
Chika 0 0
masyarakat indonesia itu pelupa, jadi gak heran aja kalau "kealpaan" dari para artis terlupakan begitu saja. tapi ada juga yang mampu mengingat hingga detail. ah... tulisan ini membuatku merenung. indonesia sendiri sering melupakan apa yang seharusnya penting untuk diingat, dan seringkali mengingat apa yang sebenarnya tidak penting...
langit bara lazuardi 0 0
MiMa: gari iskak itu artis ya? kirain preman pasar, hahaha


Chika: engkau benar sekali, sangat benar. thanks ya
Bieb 0 0
ya..terkadang dengan kealpaan, seseorang berharap dosanya pun dilupakan
great post...!!!
langit bara lazuardi 0 0
Bieb: bagaimana mau lupa, justru ingat, hehehe... contoh terbaru TAMARA Blingsatan, mengaku "suci-bersih", dan eng-ing-eng.... akhirnya...

Silahkan login untuk memberikan pendapat