De Niro, Sang Banteng 3

Minggu, 31 Jan '10 11:10

Niatnya mau beres-beres kamar. Tapi, sialnya, atau  malah untungnya, mata terantuk sampul DVD Raging  Bull. Saya suka kamar yang bersih-apik. Tapi  kayaknya menunda pekerjaan demi film bagus bukan  lagi dosa.

Itu film lama karya Martin Scorsese. Masuk bioskop  tahun 1980. Seperti film-film Scorsese yang lain,  Raging Bull memberi ruang bagi para penonton untuk  melihat Amerika Serikat, terutama New York, dengan  lebih intens. Scorsese kali ini meminjam karakter  seorang petinju yang menikmati masa puncak dan  merutuki titik nadir dalam karirnya. Dalam  kehidupan di luar film, sang petinju adalah sosok  nyata. Ia punya nama Jake La Motta.

Salah satu bagian yang saya suka dalam film itu  terletak pada opening sequence yang berdurasi  sekitar dua setengah menit. Seorang petinju  sendirian, di sana, di sisi kiri ring yang terendam  nafsu manusia-binatang, melompat-lompat kecil dan  meninju udara di depan dadanya. Ia terlipat dalam  jubah-bertudung semata kaki. Wajahnya tak  tertangkap lampu. Gelanggang tersaput kabut,  seakan-akan tak ingin menyingkap kalibut dalam  dirinya.

Sesekali, cahaya dari tustel model lama  berkilat-menyembul dari balik kabut itu, memberi  secuil terang bagi sosok-sosok yang ada bangku  penonton. Cahaya yang sontak terbit lalu raib  pelan-pelan itu semakin menegaskan kesendirian sang  petarung.

Sepotong musik gubahan Pietro Mascagni membungkus  sinematografi hitam-putih yang cantik itu dengan  nada heroik sekaligus penuh pesimisme. Seperti  ketika kita menyeberangi jalanan ramai: kita tahu  kendaraan akan menabrak kita kapanpun, tapi kita  terus melakoninya sembari berharap ada yang benaran  bikin kita celaka.

Opening sequence film itu, hemat saya, seperti  puisi. Kehadirannya sejurus, tapi menggetarkan. Ia  bisa dilihat sebagai metafora, seperti yang  dikatakan sendiri oleh sang sutradara: "Saya  akhirnya paham bahwa ring itu sesungguhnya ada di  mana-mana. Ia bergantung padamu: petarung jenis  apakah kau dalam hidup. Lawan terberat yang kau  hadapi adalah dirimu sendiri."

Scorsese tidak sedang membual. Pun ketika ia  memutuskan untuk bekerja sama dengan Robert De Niro  sebagai pemeran La Motta. Ketika Raging Bull  diproduksi, Scorsese telah bekerja bersama De Niro  dalam Mean Streets, Taxi Driver, dan New York, New  York. Semua film Scorsese-De Niro dihargai  termasuk The King of Comedy, Goodfellas, Cape Fear  dan Casino (saya belum menonton New York, New York  dan Goodfellas. Hiks). Anehnya, Scorsese baru dapat  Oscar justru ketika sedang tidak bersama De Niro di  The Departed.

Bobby De Niro: Si Banteng

De Niro sesungguhnya sudah bisa akting ketika  bertemu Scorsese. Kritisi film sudah  memata-matainya sejak beberapa film sebelum Mean  Streets. Tapi dasar calon bintang, langit memang  sudah kasih kapling buatnya. Karena itu, kolaborasi  dengan Scorsese memang sudah wayahnya.

Akting De Niro menawan karena ia memerankan seorang karakter dengan latar belakang yang sama sekali berbeda. Raging Bull terbagi dalam dua bagian: Masa-masa  kejayaan La Motta, dan masa kejatuhannya. Pada  zaman keemasannya, La Motta punya tubuh seperti  banteng muda: di sana-sini yang terlihat hanyalah  keliatan hasil latihan dan pertandingan, serta  energi yang seakan tanpa batas. Ketika karirnya  tuntas, ia seperti banteng tak-berdaya di pojok  kandang, siap dibawa ke pejagalan kapan saja,  itupun kalau tubuhnya masih bisa melewati pintu.

Untuk memainkan peran ini secara meyakinkan, dia menerapkan cara berbeda dalam keaktoran demi memunculkan efek yang diinginkan. Kita tentu ingat dunia sungguh terhenyak dengan  aktingnya sebagai Vito Corleone muda pada The  Godfather, Part II, dan Travis Bickle pada Taxi  Driver.

Dalam The Godfather, Part II, dia sebagai Vito muda  hanya bicara 17 kata bahasa Inggris.  Berminggu-minggu ia belajar dialek Sisilia serta  mengintip dan mencuri aksen dan tabiat yang  diterapkan Marlon Brando, sang Don Vito di The  Godfather.

Ketika memerankan Travis si supir taksi, De Niro  mesti menurunkan berat badan nyaris 20 kg. Dia  berkali-kali mendengarkan catatan harian seorang  pembunuh bayaran yang menembak kandidat president  AS. Dia juga bikin surat izin mengemudikan taksi  sementara, dan ikut 'narik' keliling New York  beberapa minggu. Di film inilah, frasa terkenal  'you talkin' to me?' itu muncul.

Ketika Raging Bull dibuat, De Niro mesti datang ke  sasana tinju selama setahun untuk berlatih dan  tinggal di apartemen La Motta untuk 'mengalami' dan  'mendalami' hidup si bekas petinju. Sebagai La  Motta senior, dia mesti menaikkan bobotnya sampai  30 kg. Untuk itu, dia bolak-balik ke Perancis dan  Italia selama dua bulan untuk makan macam-macam.

Kalau kamu sempat nonton filmnya, perkembangan  karakter La Motta muda ketika masih jaya dan La  Motta tua ketika sudah loyo memang dahsyat. Kita seolah tidak sedang menonton De Niro, melainkan kehidupan pribadi La Motta.

Apa yang dilakukan De Niro sudah  konsekuensi dari pilihan metode seni-peran yang ia  ambil. Bersama Marlon Brando dan Al Pacino, ia dikenal sebagai pemeluk teguh metode  Stanislavskian. Metode ini dibentuk oleh Constantin Stanislavski, aktor dan sutradara teater dari  Rusia. Dalam metode ini, aktor mesti mampu untuk  menjangkau kenangan-kenangan pribadinya di masa  lalu demi menciptakan emosi tertentu yang  dibutuhkan ketika menjalani sebuah peran. Untuk  mencapai itu, riset akan karakter yang akan  dimainkan sungguh penting. Kalau di Indonesia, kita  bisa menengok kepada Teguh Karya. Pun aktor yang  pernah bekerja sama dengannya kayak Tuti Indra  Malaon (alm), Slamet Rahardjo, atau Christine  Hakim.

Menilik akibat yang harus ditempuh dari metode ini, masuk akal juga ketika tahu bahwa De Niro sempat  nyaris koit di Deer Hunter. Di film itu, dia  berkeras untuk takmemakai peran pengganti dalam  sebuah adegan ketika harus melompat dari  helikopter.

"Saya tidak bisa berpura-pura memerankan seseorang.  Saya tahu film itu cuma ilusi dan kita harus  berpura-pura. Tapi itu tak berlaku buat saya,"  katanya di Ensiklopedi Britannica.

Tapi saya melihat sekarang akting De Niro kian  mengendur, terutama ketika menonton ia main di  Heat, Ronin, Righteous Kill, Meet the Parents, atau  Meet the Fockers. Mungkin karena perannya nyaris  sejenis. Kalau kita ingat film-film lamanya, yang  melambungkan namanya, ia selalu jadi tokoh yang  secara psikologis 'agak ganjil' dan secara sosial  susah bergaul.

Setidaknya ia masih pengin menunjukkan kepada para (calon) aktor lainnya bahwa seni-peran adalah pekerjaan serius, yang mungkin lebih serius dari hidup.

PS: Waktu kecil dia dipanggil Bobby Milk, karena punya perawakan kurus dan kulit sewarna susu. Karena itu, dia sampai sekarang masih dipanggil Bobby. 

Gambar diambil dari sini.


Tag: Aktor

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sofie 0 0
ini film jadul ya? baiklah akan kucari di lapak-lapak yang telah tersedia. Apalagi ada De Niro-nya : ))
missmaharrani 0 0
"Kehadirannya sejurus, tapi menggetarkan."
Beautiful : D

Anyways, "muse"-nya Scorsese sempat ganti Leonardo DiCaprio ya (imho) tapi mereka udah nggak pernah dua'an lagi sekarang hmmm...

Aku suka film-filmnya Scorsese. Dan gemes banget waktu dia (akhirnya) dapet Oscar.
bonardomaulana 0 0
sofie: Sebenernya cuma mau ngomongin Bobby. Tapi entry point-nya kepanjangan : D

missmaharrani: Thanks, Dit. Sebenarnya Bobby ditawari peran di The Departed, yang akhirnya diambil Martin Sheen. Cuma dia menolak karena lagi komitmen untuk film lain. The Good Shepherd kalo ga salah. Mungkin kalo peran itu dia terima, Scorsese ga akan dapat Oscar lagi : ))

Gue sepakat sama banyak orang kalo akting Bobby di film-film awalnya amat memikat. Harusnya dia ketemu sama Al Pacino di awal 80an, bukan pas film Heat atau Righteous Kill yang mubazir itu. Tsk.

Keknya tulisan ini mesti diedit demi lebih fokus lagi ke Bobby. Penyimpangan oh penyimpangan.

Silahkan login untuk memberikan pendapat