Harapan 10

Minggu, 24 Jan '10 20:14

Hari-hari belakangan, saya kerap memperhatikan di sudut-sudut kedai kopi yang guyub, gedung-gedung pertunjukan yang suntuk, maupun lobi-lobi kantor yang hibuk, orang-orang saling berbisik dengan khusyu dan cemas tentang efek domino pemanasan global. Dari mulut mereka, bermacam komentar berjingkatan dengan gemetar: "I think we've summoned the angel of death to visit us earlier"; atau, "Kamu percaya kiamat, nggak?"; dan, ini yang paling saya ingat, "Kukira, manusia masih punya harapan!"

Benarkah kita, makhluk (yang katanya) "mulia" itu, dan lebih sering melakukan aniaya, masih memiliki harapan? Atau, jangan-jangan, kita sudah tak sepenuhnya memahami apa sebenarnya "harapan" itu? Bahkan, boleh jadi, kita memang tak pernah mengerti kata itu-seperti juga kata-kata lain yang sering kita simak bermuntahan di koran, televisi, atau spanduk.

Lalu, apakah harapan itu berupa beras yang dibagikan di tengah lingkungan miskin yang padat penduduk di depan kamera televisi? Apakah harapan itu berupa lokalisasi pelacuran yang diubah menjadi tempat ibadah berharga miliaran? Atau apakah harapan itu berupa lembaran cek yang dapat diuangkan di bank setiap waktu?

Seorang penyair Tionghoa pernah berbicara tentang harapan dengan sangat indah. Dalam sebuah sajaknya, ia menulis: Harapan itu seperti sebuah jalan setapak di tengah hutan. Sebelumnya, jalan itu tidak pernah ada. Namun, ketika orang sudah sering melewatinya, maka terbentanglah jalan itu di hadapan mereka.

Dalam penggambarannya, sang penyair, Lu Xun, mengandaikan bahwa harapan tak pernah muncul sendirian. Harapan hanya akan terlihat jelas sebagai "jalan setapak di tengah hutan" jika banyak individu bersedia untuk "melewati" hutan itu-suatu daerah yang tak terpetakan, penuh kejutan dan misterius-dengan telaten, awas, dan saling percaya. Harapan, buat kita orang-orang "kota", mungkin bisa berupa nyala korek api di tengah kamar kerja kita yang gelap ketika aliran listrik terputus: hanya sedikit memberi terang, namun menenteramkan.

Suatu hari, saya secara tak sengaja menonton acara bincang-bincang Oprah-sebuah talkshow yang menggugah inspirasi dan ketakjuban. Pada episode yang saya saksikan itu, Oprah membagi-bagikan US$1000, yang berupa kartu debit, kepada setiap penonton di studio. Mereka bersorak (well, you would also scream, or even faint, if someone give that sum of money out of the blue, wouldn't you?). Tapi, ternyata ada "syarat dan ketentuan berlaku". Oprah meminta mereka menghabiskan uang itu untuk menolong orang asing yang membutuhkan. Pelengkapnya, Oprah juga memberikan kepada masing-masing orang sebuah camcorder untuk mengabadikan aksi mereka.

Setiap orang berusaha sekreatif mungkin dalam menyumbangkan uang itu. Seorang ibu bahkan sanggup melipatgandakan US$1,000 menjadi sekitar US$200,000 untuk disumbangkan ke sebuah panti penampungan bagi wanita dan anak-anak terlantar di suatu negara bagian Amerika Serikat. Ada pula seorang wanita yang, bersama kedua anaknya, beberapa kali memesan pizza dan memberikan tip sebesar US$200 hingga US$300 kepada pengantarnya. Lalu, terekam juga empat orang wanita yang menggabungkan uang mereka untuk membelikan seorang wanita sebuah mobil yang sangat dibutuhkannya untuk menjemput anak-anaknya serta untuk bekerja.

Sampai di situ, saya bergidik. Saya tidak memandang Oprah beragama apa, bagaimana warna kulitnya, strategi besarnya, atau keuntungan finansial yang akan didapatkannya. Saya hanya melihat bahwa ia telah menjadi pembuka "jalan setapak di tengah hutan" yang tadi kita omongkan itu. Ia seperti makhluk berwajah manusia, berbadan manusia, bersuara manusia, namun apa yang diperbuatnya seperti bukan yang biasa dilakukan sehari-hari oleh manusia.

Besides, it's not about the money at all, folks. It's the movement that matters! Ini adalah tentang sebuah langkah kecil yang memantik inspirasi bagi seluruh negara untuk membuka hati mereka.

Lalu saya merenung. Saya teringat kata-kata seorang wanita berkacamata di kedai kopi barusan, bahwa "Manusia (mungkin) masih punya harapan". Manusia bisa punya harapan jika kehendak untuk berbagi lebih besar daripada keinginan saling menebar iri. Manusia tetap dapat memiliki harapan jika mereka tak menganggap diri sebagai juragan di bumi. Dan saya tahu, harapan saya untuk hal yang terakhir itu agak berlebihan.

 


Tag: musing

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

sofie 0 0
harapan, kemarin, beberapa hari yang lalu sempat saya gantungkan sebentar di bilik paling belakang mimpi. Barusan setelah baca tulisan ini saya merasa ditempeleng mental untuk mengambil lagi harapan yang tersimpan itu.

bahasaku uda cukup mengimbangimu belum, bo?, hihi : D
*rasanya jawabannya beluuummmmm* : ))
sari indah 0 0
lebih baik memiliki harapan, daripada tidak..
bonmw 0 0
sofie: Bahasa kan cuma baju, Sof : p

sari indah: Sepakat
maharrani 0 0
nice try sofie:

buat bonmw: sekali lagi...
IT'S 2010, TIME TO COME OUT OF YOUR SHABBY SHELL!
: )
bonmw 0 0
maharrani: Am packing my bags : D
Chika 0 0
aduh, saya merinding baca tulisan ini... = =!
bonmw 0 0
Chika: Kalo merinding, si judul harusnya Suster Harapan ya, Chik : p
sofie 0 0
lho sudah ditambahi gambar! : D
Titiw 0 0
bonmw: Iyh!! Aku merinding bacanya! Kamu tulisannya kerenn!! Ayo2 nulis lebih banyak!! Tapi aku percaya, manusia masih punya harapan.. : D
bonmw 0 0
Titiw : Trims berats. Kamu bacanya bareng Chika ya? Merinding berjamaah : D

Silahkan login untuk memberikan pendapat