The Personality Traits in Warteg 12

Kamis, 14 Jan '10 17:29

Membahas tingkah laku manusia memang selalu menarik. Walaupun saya bukan ahli manusia atau lulusan psikologi atau buka praktek psikiater, saya juga suka mengamati perilaku manusia in my own way. Mungkin dah pada tahu sebuah teori yang membagi manusia ke dalam empat personality. Sanguinis, Koleris, Melankolis, Plegmatis.

  1. Sanguinis si riang gembira dan selalu menjadi pusat perhatian.
  2. Koleris yang penuh energi, semangat, ambisi, dan ingin sekali menularkannya ke orang lain.
  3. Melankolis yang penyendiri dan mudah stress, namun super kreatif dan memiliki empati paling tinggi.
  4. dan terakhir adalah plegmatis si pemalas namun cinta damai dan pengamat handal.

Walaupun manusia tidak selalu murni memiliki hanya 1 personality trait diatas, tapi pasti ada yang menonjol. So, let's simulate something interesting. Just for fun, bagaimana perilaku keempat pribadi itu jika makan di warteg? Mungkin analisa saya nggak terlalu tepat, tapi kira-kira begini:

  1. Sanguinis. Ketika karakter sanguinis akan pergi ke warteg, mereka langsung pergi begitu saja tanpa persiapan. Tentu saja alasan pertama si sangunis adalah karena lapar. As we all already aware, karakter jenis ini hanya memikirkan apa yang terjadi saat ini, sangat optimis, dan jarang sekali memusingkan sesuatu. Ketika memesan lauk di warteg, si sanguinis biasanya agak lama memilih karena dia tidak pernah merencanakan ingin makan lauk apa. Bagi sanguinis, makan adalah hiburan, just go with the flow, kalo ada kerang boleh, kalo ada orek, ayoh, kuah sayur? why not? Dan ketika ingin membayar... apa yang terjadi? O, ow, si sanguinis lupa membawa dompet. Dengan tenang si ibu pemilik warteg cuma bilang: "Ah elo kebiasaan, ya udeh catet aja ya?" Sambil meringis innocent, si sanguinis ngeloyor keluar.
  2. Koleris. Orang-orang koleris adalah orang-orang yang penuh rencana, semangat dan energi dan yang paling utama adalah ingin selalu in control. Ketika pergi ke warteg pun, si koleris sudah bersiap-siap, dompet, rokok, dsb. Pada saat memilik lauk pun orang koleris sudah tahu apa yang akan dipesannya. Sebelum ke warteg si koleris memang penuh rencana. Plan A: Nasi, kikil, orek, mie, kuah tahu. Plan B: Nasi, kerang, sayur kentang, sambel. Plan C, plan D, dan seterusnya. Setiap kali datang si ibu pemilik warteg pasti bilang: "Makan disini? Biasa kan?".
  3. Melankolis. Orang melankolis biasanya jarang pergi ke warteg. Biasanya mereka lebih suka berekspresi dengan memasak sendiri atau membeli jajanan yang lewat karena mereka tidak pandai atau tidak nyaman berada di dekat orang lain. Tapi kali ini si melankolis terpaksa makan di warteg karena baru pulang dari kampus dan sudah lapar. Orang melankolis mudah depresi dan perfeksionis, apalagi ketika di kampus tadi, tugasnya yang telah susah payah dibuatnya mendapat nilai 80. Sepanjang jalan si melankolis hanya memikirkan nilai itu. Ketika di warteg, si melankolis tidak terlalu banyak memilih lauk. Bukan karena tidak punya uang, tapi karena baginya makan hanyalah sebuah kebutuhan hidup, bukan entertainment. Dengan suara lirih si melankolis cuma bilang: "Bu, nasi setengah, tempe goreng sama kuah tahu bu."
  4. Plegmatis. Si pemalas yang cinta damai ini memilih pergi ke warteg karena tidak perlu repot-repot mengambil nasi dan lauknya sendiri. Si plegmatis biasanya memilih lokasi warteg yang paling dekat dari 'sarang' atau tempat tinggalnya. Plegmatis cenderung suka ngemil dan makan agak sedikit banyak. Jadi pemilihan lauknya sangat beragam, yang akhirnya berbuntut durasi makan menjadi panjang. Setelah selesai makan pun si plegmatis tidak lantas beranjak. Dipesannya sebatang rokok kesukaannya, dinyalakannya, kemudian memesan segelas kopi panas teman merokok. Walaupun tidak terlalu membutuhkan teman, si plegmatis banyak yang menyukai karena gayanya yang khas dan informal. Tanpa malu-malupun si ibu pemilik warteg mulai mengajaknya ngobrol macam-macam.

This is just for fun and a good laugh or at least smile. Saya tidak punya ijazah psikologi atau antropologi atau yang berkaitan dengan bahasan diatas.

 


Tag: personality, human character, four humours

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Titiw 0 0
Saya: totally nomor 1, si sanguinis.
apy totally nomor 3, si melankolis.
Hoho.. I read you like an open book.. : D
apy 0 0
Titiw : damn, akibat tetanggaan terlalu lama nih.
ichaotic 0 0
I'm totally number one. tapi secara personality, saya lebih choleric daripada sanguine hehe : D
maharrani 0 0
Tulisan yang menghibur hihihi. Mungkin bisa dikaitin ke artis yang menurut apy: mewakili karakter2 itu ; ))

Kl aku sih penuh semangat dan ingin sekali menularkannya ke orang lain. Tapi juga memiliki empati tinggi.Di satu sisi juga pemalas namun cinta damai. Eng ing eng...
fairyteeth 0 0
i'm totally number 2....

koleris murni... : D
ibhe 0 0
saya kalo makan diwarteg selalu dibawa : D

abis ini apy pasti bikin pengkategorian karakter dari golongan darah : p

bagus bagus bagus!
Eko Sedane Putra 0 0
Kalo g' salah gw koleris deh...
Chika 0 0
saya koleris melankolis. *mencoba beda sendiri*
bonmw 0 0
Bikin juga dong kategorisasi macam begini untuk penonton film. Hehehe
atemalem 0 0
loh, kok aku kadang-kadang 1, kadang 2, kadang 3, kadang 4.. hehehhee... mungkin aku ini tidak ber-kepribadian yakk? LOL
adhigama 0 0
postingan yang menghibur... keren.
tri 0 0
wkwkwkwkwkkk

Silahkan login untuk memberikan pendapat