The Uncanny Valley 10
Selasa, 12 Jan '10 16:50
The Uncanny Valley
A strange title indeed. Pernah nggak kepikiran, kenapa sih rata-rata film animasi buatan Disney bagus? Atau Kenapa film Final Fantasy: Spirits Within yang dibuat dengan budget spektakuler dan optimisme tinggi gagal laris di pasar? Atau kenapa karakter Mario Bros nggak bisa dilupakan? Dan yang terakhir, Avatarnya James Cameron... kok bisa laris? Apa bedanya sama Final Fantasy: Spirits Within?
Sebelum masuk lebih jauh lagi mungkin semua cukup mafhum bahwa 10 tahun belakangan ini teknologi komputer di bidang perfilman maju pesat. Animasi 3D bermunculan seperti payung-payung bermekaran di kota Bogor ketika gerimis mengundang. Selain dari sisi teknis yang sulit, membuat cerita dan karakter yang memorable seperti Nemo, Woody, Shrek dan Donkey juga lumayan menantang, jadi pendeknya pra produksi adalah segalanya untuk film animasi. Jadi kira-kira apa yang membuat sebuah karakter atau cerita menjadi menarik?
Jawabannya mungkin bisa dilihat dari teori yang dicetuskan Masahiro Mori (1970) seorang ahli robot berkebangsaan Jepang. Masahori berpendapat bahwa: Ketika sebuah robot tampak lebih mirip manusia, perasaan kedekatan kita akan bertambah hingga ke titik lembah. Aku menyebutnya dengan 'The Uncanny Valley'.
Ketika mendisain sebuah robot, Masahiro menyadari sebuah kecenderungan aneh. Ketika pertama kali Masahiro membuat robot yang lebih baik, semua orang menyukainya. Robot yang baru mendekati karakteristik seorang manusia, besar, memiliki sekrup-sekrup dan gerakan yang aneh, tapi anak-anak dan semua menyukainya. Namun semakin Masahiro menyempurnakannya dengan kulit sintetik dan ekspresi muka yang masih belum sempurna, Masahiro mendapatkan dirinya terkejut. Tiba-tiba semua orang membenci robot ciptaannya. Iya memang, masih ada sedikit orang yang suka dengan robot baru ini, mereka menyadari bahwa robot yang baru lebih canggih. Tapi berdiri lama-lama di dekat robot baru ini ternyata bikin mereka nggak nyaman. Robot baru yang lebih realistis ini ternyata tidak mengikat di hati semua orang daripada robot lamanya yang kuno.
Pengamatan Masahiro melahirkan sebuah premis sederhana: Jika sesuatu yang bukan manusia namun memiliki kualitas manusia, kita akan merasa kualitas tersebut menarik. Namun jika sesuatu yang bukan manusia menjadi mirip dengan manusia kita akan merasa tidak nyaman dan membencinya.
And why is that? Let's recap, FF: Spirits Within dengan semangatnya mempromosikan bahwa karakter baru mereka di film mereka akan real, nyata, senyata-nyatanya. Okay... seen that movie and not impressed at all. Kita berharap banyak pada karakter manusia di FF: Spirits Within. Mereka semua menurut saya mirip Zombie (I like zombies though, but not those FF chars). Cara interaksi mereka aneh, ekspresi muka juga aneh, dan giginya terlalu sempurna, I'd like to see their Dentist. See what I mean? Jika karakternya berusaha mirip manusia, yang kita lihat adalah kekurangan-kekurangannya dan berusaha mencela segala gerak-geriknya.
Sekarang kita lihat The Incredibles. Clearly they're not humans alias karakter-karakter stylish hasil pemikiran para animator. Mereka manusia, tapi kita tahu mereka bukan manusia atau simulasi manusia. Jadi... kita memaafkan segala kekurangan mereka. Kita nggak berharap mereka melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan dan cenderung melihat kelebihan-kelebihan karakter di The Incredibles daripada mencelanya. Aturan yang sama juga berlaku di Avatarnya James Cameron. Mereka bangsa Na'vi dan jelas bukan manusia... tidak ada yang lebih menarik daripada melihat sesuatu selain manusia di dunianya sendiri. Kita tidak berharap apa-apa pada bangsa Na'vi, apapun yang mereka lakukan akan memukau kita.
Jadi buat para sineas animator ada dua cara untuk bisa membuat filmnya laris. Yang pertama photorealistic. Cara ini bagus dan pasti akan menghasilkan karakter yang luar biasa... tapi walaupun dengan kecanggihan teknologi CGI sekarang, photorealistic character akan sulit diimplementasikan, memakan biaya, dan taruhannya cukup besar. Belum ada teknologi CGI yang bisa menyempurnakan ketidaksempurnaan manusia. Maybe someday.. but not today.
Cara kedua adalah stylization. Jika tidak bisa photorealistic, buatlah karakter lebih bergaya. The Incredibles clearly have styles. Shrek dan Donkey adalah dua karakter yang memorable. Cara ini jelas lebih aman, namun eksekusi dan penulisan script amat bergantung pada gaya disain karakter. Sulit membuat karakter yang memorable.
Kuncinya adalah ketika membuat karakter mirip manusia, don't push it too far atau akan jatuh ke dalam lembah, instead do it with style.
Tag: movie, animation, uncanny valley, masahiro mori
Terkait:
-
We Bought A Zoo
Minggu, 8 Apr '12 08:57 -
Masihkah Ia Sekuat Besi?
Senin, 23 Jan '12 22:08 -
Real Steel: Drama Tinju Robot
Senin, 31 Okt '11 01:31


Komentar:
*mata berkaca-kaca
bole saya peluk?
karena mereka itu sempurna!
saya bersedia dikutuk masuk ke dalam dunia manga (request! jadi sailormoon)
Cihuy banget nih tulisannya apy:
jadi suka juga deh sama mas @apy
eh, mksudnya tulisan mas @apy
Silahkan login untuk memberikan pendapat